Tapi rezim orde baru saat itu tetap tidak merestui keduanya memimpin Parmusi, karena masih dipandang berbau Masyumi. Mereka lalu diganti oleh HMS. Mintareja dan dr. Sulastomo. Mereka dari keluarga besar persyarikatan juga, yang direstui dan didukung pemerintah orde baru.
Al-Wahn kembali menyelinap dalam tubuh warga Muhammadiyah dan umat Islam. Mereka yang dapat dukungan pemerintah tetap memimpin partai baru tersebut.
Apalagi bagi mereka yang mendapatkan hadiah tahta dalam pemerintahan orde baru. Terjadilah faksi-faksi dalam partai yang berpengaruh dalam persyarikatan.
Sebagian yang lain pun masuk dalam partai yang berbeda setelah fusi partai dalam pemilu 1977. Saat Partai menjadi tiga macam, PPP, PDI dan Golkar.
Pengaruh politik orde baru ini membuat Al-Wahn mulai menyelinap masuk dalam tubuh kaum muda persyarikatan. Jelang muktamar mulai terjadi tarik menarik calon ketua umum yang dapat dukungan dari partainya masing-masing. Khusus Golkar dan PPP yang bersaing.
Itu terjadi dalam Muktamar Pemuda Muhammadiyah tahun 1989 dan seterusnya. Era reformasi beda lagi partai pendukungnya. Setiap ketua umum yang terpilih dapat dilihat hubungannya dengan partai politik yang dominan.
Dari sini tubuh persyarikatan khusus di kalangan organisasi pemuda menjadi batu loncatan untuk meraih tahta dunia. Hampir semua ketua-ketua umum Pemuda Muhammadiyah mendapat tahta pada posisi berbeda-beda.
Sebagian duduk dalam tahta legislatif mewakili partai tempat mereka bernaung. Kemudian sebagian lainnya duduk dalam pemerintahan dan lembaga yang berada di bawah eksekutif.
Al-Wahn semakin berkembang di kalangan kaum muda persyarikatan setelah reformasi. Berdirinya partai baru telah mendorong mereka, termasuk warga Muhammadiyah menjadi aktivis partai berkuasa.
Melalui partai ini, kaum muda telah mendapatkan tahta di legislatif, eksekutif dan yudikatif. Mereka tentu mendapatkan dunia yang berbeda dengan warga Muhammadiyah yang tetap tenang dalam mengabdi di persyarikatan sebagai pengurus dan atau dalam pengelola amal usahanya.
Solusi Preventif Al-Wahn
Namun yang membuat berbeda adalah, sebagian warga yang tetap mengabdikan diri dalam tubuh persyarikatan telah memandang Muhammadiyah sebagai batu loncatan menuju sorga, walau nikmat dunia diterima apa adanya.
Sementara sebagian yang lain menjadikan persyarikatan sebagai batu loncatan dalam meraih dunia untuk memperoleh tahta dan harta. Apalagi mereka berdekatan dengan para pejabat pemerintahan berkuasa seakan menjadi suatu keharusan.
Sebab itu ke depan perlu menjadi perhatian dan pemikiran bagaimana Muhammadiyah terjaga dan tidak dijadikan batu loncatan untuk meraih dunia memperoleh tahta dan harta.
Hal ini perlu ditetapkan suatu sistem preventif organisasi yang lebih baik, kokoh, kuat, canggih dan tidak mudah di salah gunakan oleh siapapun.
Mungkin selama ini sudah dibuat sistem tersebut, namun perlu semakin diperkuat lagi agar benar-benar dapat mencegah masuknya penyakit Al-Wahn.
Sistem ini diharapkan menjadi alat yang mampu mendeteksi dan mencegah para aktor yang hanya ingin memanfaatkan persyarikatan dan ortomnya sebagai alat dan batu loncatan semata. Kecuali mereka yang ingin menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan menuju sorga.
Mereka inilah yang perlu diberikan ruang yang seluas- luasnya. Karena mereka jelas tujuan orientasinya. Mereka itu yang mewakafkan harta benda, ilmu, jiwa dan raganya untuk kemajuan persyarikatan di dimasa kini dan akan datang.
Apalagi dewasa ini perubahan dan perkembangan Muhammadiyah sudah sedemikian pesat, hingga menjadi organisasi Islam terbesar dan terkaya di Indonesia.
Siapapun akan tertarik pada keadaan persyarikatan untuk memasuki dan terlibat aktif di dalamnya di berbagai bidang. Karena itu kaum muda dan mahasiswa, baik dari internal keluarga persyarikatan atau bukan, tentunya akan tergiur juga mengaktifkan diri dalam persyarikatan dan badan otonomnya.
Untuk itulah keberadaan sistem organisasi yang lebih baik dan kuat perlu diwujudkan agar dalam persyarikatan tidak muncul penyakit Al-Wahn di kalangan anggota, terutama generasi muda.
Termasuk, mencegah mereka yang hanya ingin menyalurkan kepentingan tahta dan harta dunia dari pada pengabdian buat membesarkan dan memajukan Muhammadiyah di Indonesia dan dunia. Wallahu a’lam bish shawwab.





0 Tanggapan
Empty Comments