Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Manifestasi Etos Tangan di Atas dan Jihad Profesional

Iklan Landscape Smamda
Manifestasi Etos Tangan di Atas dan Jihad Profesional
Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt Seniman Kemerdekaan, Peraih Rekor MURI dan Ketua LSBO PDM Kota Bekasi

Gerakan Muhammadiyah bukan sekadar sebuah organisasi kemasyarakatan, melainkan gerbong dakwah kultural yang bergerak di atas rel keikhlasan. Sejak KH. Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan ini, kerelaan hati para kader dan warganya untuk memberi—bukan meminta—selalu menenagai setiap derap langkahnya.

Bagi siapa saja yang mengaku sebagai warga dan kader Muhammadiyah, ada satu kompas moral legendaris yang senantiasa bergema melintasi zaman:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Pesan abadi ini memisahkan antara mereka yang datang untuk berjuang dengan mereka yang datang untuk mencari keuntungan pribadi.

Mentalitas “Tangan di Atas” dalam Berorganisasi

Adagium di atas menuntut sebuah konsekuensi logis dalam cara berpikir (mindset) dan cara bertindak (action) setiap kader.

Muhammadiyah tidak dirancang untuk menaungi mentalitas meminta-minta, melainkan menjadi wadah bagi para pemberi solusi.

Bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah harus melandasi pikiran dan tindakan warga serta kader Muhammadiyah.

Prinsip keikhlasan ini wajib mewarnai setiap lini pergerakan organisasi tanpa terkecuali.

Penerapannya terlihat nyata pada para pejuang di Kepengurusan Inti dari tingkat Ranting hingga Pusat yang memeras keringat untuk menggerakkan roda organisasi.

Hal serupa juga berlaku bagi mereka yang berada di Majelis dan Lembaga yang merumuskan berbagai program strategis demi kemaslahatan umat.

Tidak ketinggalan, ruh “tangan di atas” ini juga melandasi pergerakan para anak muda dan perempuan berkemajuan yang menggerakkan roda Organisasi Otonom (Ortom).

Mereka adalah penggerak aktif di Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Tapak Suci, dan Hizbul Wathan.

Bagi seluruh elemen tersebut, aktif di dalam struktur Muhammadiyah murni menjadi ruang pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, bahkan materi demi menghidup-hidupi persyarikatan.

Menjawab Dilema Profesionalisme dan Jihad di Amal Usaha Muhammadiyah 

Setelah memahami etos pengorbanan di struktur organisasi tersebut, sebuah pertanyaan krusial kemudian muncul ke permukaan.

Jika setiap kader tidak boleh mencari hidup di Muhammadiyah, bagaimana nasib para guru, dosen, dokter, perawat, dan karyawan yang secara profesional bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)?

Apakah dedikasi profesional mereka menyalahi khittah perjuangan persyarikatan? Tentu saja tidak.

Kita harus mendudukkan perkara ini dengan kacamata yang jernih, objektif, dan bijaksana. AUM—seperti sekolah, universitas, rumah sakit, dan panti asuhan—adalah institusi yang bergerak secara profesional.

SMPM 5 Pucang SBY

Oleh karena itu, mereka yang mendedikasikan keahlian dan keilmuannya di sana berhak mendapatkan apa yang menjadi hak profesinya, sesuai dengan kadar kemampuan serta kepatutan yang AUM tersebut miliki.

Namun, ada garis pembatas spiritual yang sangat tegas antara pekerja di AUM dengan pekerja di institusi luar.

Jika pekerja di luar Muhammadiyah bekerja murni demi pemenuhan kontrak bisnis dan upah materi semata, maka pekerja AUM mengemban amanah yang jauh lebih besar.

Di dalam ekosistem AUM, seorang pekerja tidak hanya menuntut hak pribadi, melainkan memikul tanggung jawab besar untuk ikut membesarkan institusi tersebut.

Hubungannya bersifat timbal balik yang penuh berkah: ketika seorang pekerja berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meluaskan dan memajukan AUM, secara otomatis kesejahteraan dan kemajuan dirinya pun akan ikut terangkat naik.

Oleh karena itu, pencapaian materi belaka tidak boleh menjadi titik final dari kemajuan seorang pekerja maupun besarnya aset gedung AUM.

Khittah awal gerakan harus menerima kembali segala bentuk kemakmuran dan kemajuan fisik yang diraih tersebut.

Keberadaan diri pekerja dan kemajuan AUM bukanlah tujuan akhir dari persyarikatan.

Keduanya merupakan instrumen, mesin, dan bahan bakar utama untuk menyokong Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar serta gerakan Tajdid (pembaruan) Muhammadiyah.

Bekerja di AUM dengan demikian bertransformasi dari sekadar aktivitas “mencari nafkah” menjadi sebuah “jihad profesional”.

Oleh karena itu, aspek mental menjadi syarat mutlak yang tidak boleh ditawar bagi siapa saja yang berada di dalam ekosistem ini.

Mereka yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah mutlak harus memiliki militansi.

Tanpa adanya militansi, AUM hanya akan menjadi tempat kerja biasa yang kering akan nilai-nilai spiritualitas.

Sebaliknya, dengan militansi yang kuat, setiap tetes peluh yang keluar di AUM akan bernilai pahala jariah dan bertransformasi menjadi penggerak zaman.

Pada akhirnya, baik kader yang duduk di kursi kepengurusan organisasi maupun para profesional yang menggerakkan Amal Usaha, keduanya berdiri di bawah panji yang sama: panji tangan di atas yang siap menghidup-hidupi Muhammadiyah demi kejayaan Islam dan kemaslahatan umat manusia.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 01/07/2026 20:15
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu