Dua tim robotik SMA Muhammadiyah 7 Surabaya (Smam Seven) berhasil meraih dua medali dalam ajang Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2026 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026).
Tim R. Fabian Wicaksana dan Abdurrahman berhasil meraih Gold Medal, sedangkan tim Reyza Rifat dan Sri Panca membawa pulang Bronze Medal. Keduanya bersaing dengan peserta dari SMA dan SMK Muhammadiyah se-Jawa Timur.
Pada kategori SMA, terdapat 15 tim yang mengikuti kompetisi, sedangkan kategori SMK diikuti delapan tim. Capaian tersebut diraih setelah para siswa menjalani persiapan intensif selama kurang lebih dua pekan.
Persiapan tidak hanya dilakukan dengan berlatih mengoperasikan robot. Para siswa juga merakit dan memprogram robot secara mandiri. Berbagai percobaan dilakukan berulang kali untuk menemukan cara agar robot mampu menyelesaikan lintasan dengan cepat dan tepat.
Proses persiapan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kendala teknis, terutama pada sensor dan proses coding, beberapa kali muncul. Para siswa kemudian melakukan trial and error untuk menemukan penyebab masalah sekaligus memperbaiki kinerja robot.
“Di awal kami sangat ragu dengan kemampuan kami karena benar-benar pertama kali mengikuti hal seperti ini. Persiapannya kurang lebih dua pekan. Dalam persiapan itu banyak sekali trouble dan error, trial and error juga banyak. Tapi kami tetap mencoba karena kami juga tidak mau membuat pembimbing kami, Pak Yudhi dan Pak Amir, kecewa,” ungkap Fabian.
Setiap sesi latihan kemudian diarahkan untuk menghasilkan perkembangan. Para siswa menetapkan target perbaikan agar robot semakin siap digunakan dalam perlombaan.
Sensor Robot Sempat Bermasalah
Tantangan kembali muncul ketika perlombaan berlangsung. Robot yang dirakit tim Fabian dan Abdurrahman sempat mengalami kendala pada sensor ketika proses coding. Kondisi tersebut membuat keduanya sempat gugup karena waktu pertandingan semakin dekat.
Keduanya kemudian memanfaatkan waktu istirahat untuk menenangkan diri dan beribadah sebelum kembali mencoba robot.
“Waktu itu sempat ada waktu untuk Ishoma. Kami sholat dulu dan Alhamdulillah mendapatkan pencerahan. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba satu kali sebelum tanding,” lanjut Fabian.
Keputusan tersebut membuahkan hasil. Saat pertandingan, robot mereka mampu menyelesaikan satu kali lintasan dalam waktu kurang lebih 28 detik dengan melewati empat checkpoint. Hasil tersebut mengantarkan Fabian dan Abdurrahman meraih Gold Medal.
Fabian mengaku sempat pesimis setelah mengetahui sensor robot mengalami masalah sebelum pertandingan.
“Awalnya ngerasa gugup sih karena sebelum tanding sempat error sensornya. Saya sempat pesimis dengan hasilnya. Tapi akhirnya Alhamdulillah mendapatkan Gold Medal,” kata Fabian.
Sempat Melebihi Batas Waktu
Perjuangan tim Reyza Rifat dan Sri Panca juga menghadapi kendala teknis. Sensor robot sempat tidak berfungsi sehingga waktu yang mereka gunakan dalam pertandingan melebihi batas yang ditentukan panitia.
Kondisi tersebut sempat membuat keduanya merasa putus asa. Namun, hasil akhir justru memberikan kejutan karena tim tersebut berhasil meraih Bronze Medal.
“Di awal cukup putus asa sih, karena sempat tidak berfungsi sensornya dan saat kami tanding itu juga lebih dari tiga menit, yang artinya melebihi batas waktu yang diberikan panitia. Tapi saat pembacaan kejuaraan, Alhamdulillah bisa dapat perunggu,” ujar Panca.
Bagi para siswa, pengalaman mengikuti ME Awards 2026 tidak hanya berkaitan dengan medali yang diperoleh. Proses tersebut menjadi pengalaman untuk menghadapi kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan tetap berani mencoba ketika kondisi tidak berjalan sesuai harapan.
Abdurrahman berharap pengalaman tersebut dapat menjadi awal bagi pengembangan robotik di Smam Seven Surabaya. Ia berharap sekolah dapat menyediakan ekstrakurikuler robotik sehingga siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal dan mengembangkan kemampuan di bidang tersebut.
“Ke depannya untuk persiapan lebih matang saja. Kalau bisa ada ekskul robotik agar lebih familiar,” harap Abdurrahman.
Kepala SMA Muhammadiyah 7 Surabaya, Rufiah, turut memberikan apresiasi kepada tim robotik yang telah menunjukkan semangat pantang menyerah selama persiapan hingga perlombaan.
“Yang paling membanggakan dari tim robotik bukan hanya Gold Medal dan Bronze Medal yang berhasil diraih, tetapi bagaimana anak-anak mampu menghadapi berbagai kendala dan tetap mencoba sampai berhasil. Mereka belajar bahwa dalam sebuah proses, error dan kegagalan adalah bagian dari pembelajaran,” tuturnya.
Rufiah juga mengapresiasi pendampingan para pembimbing yang telah memberikan ruang kepada siswa untuk mencoba, bereksperimen, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk terus berkembang di bidang teknologi dan robotik.
Capaian dua tim robotik Smam Seven dalam ME Awards 2026 menjadi hasil dari proses latihan, keberanian mencoba, serta kemampuan siswa menghadapi berbagai kendala teknis. Prestasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi pengembangan minat dan bakat siswa di bidang robotik melalui pembinaan yang lebih berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments