Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 45

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 45

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 108, 109, 110 dan 111.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 44

***

Halaman 108

Pada 1 April 1944, didirikan Kantor Urusan Agama di setiap Karesidenan (Shumuka). Pembentukan Kantor Urusan Agama itu berlanjut ke tingkat Kabupaten dan Kecamatan. Sejak itu para ulama di Jawa berkesempatan ikut serta dalam birokrasi dan administrasi pemerintahan. {29}

Pada 7 Desember 1942, untuk mengambil hati umat Islam, Panglima Tertinggi Jepang memberi penghormatan kepada 32 orang ulama dari seluruh Jawa dalam suatu resepsi di Istana Seiko Sikikan (dulu Gubernur Jenderal) di Jakarta. Peristiwa ini tidak pernah terjadi pada masa Pemerintah Kolonial Belanda. Penghormatan kepada para ulama itu tentu dimaksudkan untuk memberi kesan pengakuan para penguasa militer Jepang bahwa para ulama mempunyai martabat dan kedudukan penting.{30}

Pada 1 Juli 1943, pemerintah menyelenggarakan Konperensi Islam di Hotel Des Indes (hotel terbaik di Jakarta waktu itu). Pada konperensi itu hadir Kolonel Kawasaki, wakil Gunseikan, dan Kolonel Horie dari Shumubu. Keduanya meminta bantuan para ulama untuk kemenangan Jepang. {31}

Pada 5 September 1943 Pemerintah Militer Jepang membentuk Chuo Sangi In (Dewan Pertimbangan Pusat) dan Chuo Sangi Kai (Dewan Pertimbangan Daerah). Chuo Sangi In beranggotakan 43 orang, terdiri dari 23 orang yang diangkat oleh Seiko Sikikan, 18 orang utusan dari setiap Karesidenan, Kotapraja Jakarta, Swapraja Surakarta dan Jogjakarta. Golongan Islam diwakili enam orang, cukup banyak dibandingkan dengan Volksraad yang sebelumnya

Halaman 109

hanya satu orang sebagai juru bicara mewakili golongan Islam. Wakil dari Jawa Timur ialah Fathurrahman, pemimpin Muhammadiyah.{32}

Pembentukan dewan itu disusul dengan pengiriman tiga tokoh nasional (Muslim) ke Tokyo, menghadap Tenno Heika. Mereka adalah Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ki Bagus Hadikusumo, ketua Muhammadiyah. Pada 16 Nopember 1943, mereka bertiga menerima bintang jasa Ratna Suci Kelas Dua (Kun Nita Zuibo-sho).{33}

MIAI yang pernah dibekukan, pada 4 September 1942 diijinkan aktif kembali. Tetapi sebagai badan koordinasi organisasi-organisasi Islam, oleh Jepang dianggap tidak efektif. Soalnya, selain tidak memenuhi harapan mereka, kehadiran kembali MIAI tidak didukung oleh Muhammadiyah dan NU. Kemudian Jepang memprakarsai berdirinya organisasi baru bernama Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) pada bulan Maret 1943. Pimpinan utama organisasi baru ini dipercayakan kepada K.H. Hasyim Asy’ari, dan sebagai pemimpin harian diserahkan kepada puteranya, K.H.A. Wahid Hasyim.{34}

Pada 18 April 1943 Admiral Isoroku Yamamoto tewas dalam peperangan. Kejadian ini tentu sangat menggusarkan Tentara Jepang. Pada 7 September 1943 Gatot Mangkuprojo mengajukan petisi

SMPM 5 Pucang SBY

Halaman 110

kepada Tentara Jepang. Isinya, perlu dibentuk tentara sukarela pembela Pulau Jawa. Pada 13 September 1943 permohonan yang sama dilakukan oleh 10 orang ulama. Mereka adalah, antara lain, K.H. Mas Mansur, K.H. Adnan dan Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Dengan permohonan-permohonan itu, maka pada 3 Oktober 1943 Panglima Kedua Tentara Keenambelas Letnan Jenderal Kumakici Harada memaklumkan pengumuman Osamu Serei (Peraturan Pemerintah) nomor 44 tentang pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (Peta).{35}

Berdirinya Peta tidak dapat dilepaskan dari peran para pemimpin umat Islam. Ada dua alasan, pertama, pembentukan Peta adalah konsesi terbesar bagi umat Islam, karena sebagian besar anggota Peta adalah para santri atau berpendidikan sekolah-sekolah Islam, ulama-ulama muda, dan pemimpin-pemimpin muda Muslim. Dari 69 Daidancho (Komandan Batalyon) di Jawa dan Bali, 66 Daidancho adalah Muslim, yakni Daidancho seluruh Jawa.

Kelak, banyak di antara mereka memegang peran penting dalam perjuangan bersenjata dan politik bangsa Indonesia untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan, di pusat atau di daerah. Mereka antara lain Mr. Kasman Singodimejo dari Jakarta, K.H. Iskandar Idris dari Pekalongan, Sudirman dari Kroya yang dua tahun kemudian menjadi Panglima Besar TNI, Aruji Kartawinata dari Cimahi, K.H. Sutalaksana dari Tasikmalaya, R. Bambang Sugeng dari Gombong, Mohammad Saleh dari Jogjakarta, K.H.R.M. Mulyadi Joyomartono dari Surakarta, Surahmat dari Blitar, Sudirman dari Bojonegoro, K.H. Khalik Hasyim dari Gersik, R. Iskandar Sulaiman dari Gondanglegi, Malang, Imam Suja’i dari Malang Kota, Ki Tahiruddin Cakra Atmaja dari Bondowoso, K.H.R. Amin Jakfar dari Pamekasan, Ruslan Cakraningrat dari Bangkalan, Hamid Mudhari dari Ambunten Sumenep, dan Trunojoio dari Ketapang.{36}

Alasan kedua, Bendera Peta (Daidan-ki) bercirikan perpaduan antara simbol Islam dan Jepang. Bendera itu berwarna dasar hijau, dengan matahari yang memancarkan sinarnya berwarna merah, dan tengahnya terdapat gambar bulan sabit dan bintang berwarna putih. Bendera itu tidak menunjukkan warna Merah-Putih lambang

Halaman 111

nasionalisme Indonesia, melainkan Bulan Sabit Islam yang ditempatkan di atas Matahari Terbit Dai Nippon. Warna hijau, gambar bulan bintang, jelas menunjukkan simbol agama dan umat Islam. Sedangkan matahari berwarna merah itu sebagai simbol Jepang. Bendera Peta itu jelas dimaksudkan untuk menciptakan upaya penyatuan semangat antara umat Islam dengan Jepang.

Seiko Sikikan pertama kali menyerahkan bendera Peta itu pada suatu upacara di Istana Jakarta, 8 Februari 1944. Ia menyerahkan kepada Bo-Oei Giyuugun Tentara Peta seluruh Jawa. Daidancho Mr.Kasman Singodimejo dari Jakarta mewakili seluruh Daidancho di Jawa untuk menerima bendera itu.{37}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 29/06/2026 10:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu