Memperingati Milad ke-38, Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah Malang mengadakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (24/8/2025). Sebanyak 20 orang mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 10 pengemudi ambulans dan 10 pengemudi ojek online.
Ketua panitia Milad, dr Malika Muchsin, mengatakan pelatihan ini digagas untuk menjawab meningkatnya kasus henti jantung mendadak di masyarakat. “Kami sering menemui pengendara yang tiba-tiba mengalami henti jantung di jalan. Karena itu kami ingin membekali para pengemudi agar dapat melakukan pertolongan pertama sebelum bantuan medis datang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kasus henti jantung mendadak erat kaitannya dengan kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat. “Begadang, merokok, pola makan yang buruk, dan riwayat penyakit yang tidak tertangani menjadi faktor penyebab. Harapannya, pelatihan ini bisa menambah wawasan dan keterampilan masyarakat untuk memberikan pertolongan yang tepat,” ujarnya.
Belajar Teori dan Praktik Bersama Tenaga Medis
Materi pelatihan disampaikan oleh dr Wibowo Artho Sutrino SpAn MKedKlin, spesialis anestesi RSI Aisyiyah. Ia memaparkan pentingnya tindakan cepat pada fase krusial henti jantung (golden period) dan langkah-langkah dasar penyelamatan.
Sesi praktik dipandu dua dokter muda, dr Erlan Anugrah PratamaMMRS, dan dr Dedy Arifianto MMRS, dengan dukungan tiga perawat berpengalaman: Herlina Putri Pratiwi, Erfinda Tita Pujiati, dan Heri Setiawan. Peserta mempraktikkan pijat jantung, pemberian napas bantuan, hingga simulasi pertolongan di lapangan.
Koordinator pelatihan, dr Putri Purnamasari Husein, menegaskan bahwa selain praktik, peserta juga dibekali pengetahuan menghadapi situasi darurat. “Kami tekankan pentingnya segera menghubungi rumah sakit, ambulans, atau aparat terkait. Sambil menunggu, mereka bisa melakukan BHD untuk menjaga fungsi vital korban,” terangnya.
Program Berkelanjutan Lewat Aisyii Arm
RSI Aisyiyah berencana menjadikan pelatihan ini sebagai agenda rutin. “Ke depan, kami akan menjalankan program bulanan bernama Aisyii Arm. Pesertanya tidak hanya pengemudi, tetapi juga masyarakat umum yang ingin belajar,” tutur Malika.
Ia berharap inisiatif ini mampu menekan angka kematian mendadak akibat henti jantung. “Semakin banyak yang memahami cara memberikan pertolongan, semakin besar peluang korban bisa diselamatkan sebelum sampai ke fasilitas kesehatan,” tambahnya.
Para peserta menyambut positif kegiatan ini. Mereka mengaku mendapat pengalaman berharga dan keterampilan baru yang bermanfaat, tidak hanya untuk pekerjaan mereka, tetapi juga untuk membantu orang-orang di sekitar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments