“Jangan bosan berdoa.” Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Ia bukan sekadar nasihat, melainkan pengingat bahwa dalam kondisi apa pun, manusia selalu memiliki tempat kembali dan berharap.
Dalam buku You Are Not Alone karya Arvan Pradiansyah, yang diterbitkan di Jakarta (halaman 13), terdapat kisah menarik yang kemudian ditulis ulang oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur periode 2015–2020, Ustaz Nur Cholis Huda, dalam buku WhatsApp Hasanah WhatsApp Dlalalah: 30 Kultum Ramadan.
Dalam buku yang terbit pada 2017 tersebut diceritakan, suatu hari tokoh komunis Rusia, Stalin, melakukan perjalanan dengan pesawat menuju salah satu wilayah di Rusia bersama para anggota politbiro Partai Komunis negara itu.
Di tengah perjalanan, ketika melintasi daerah pegunungan, pesawat yang mereka tumpangi mengalami gangguan mesin. Pramugari mengumumkan bahwa telah terjadi kerusakan dan meminta seluruh penumpang tetap tenang serta segera mengenakan sabuk pengaman.
Meski pengumuman itu disampaikan dengan suara yang tenang dan merdu, kecemasan tetap menyelimuti para penumpang. Situasi tersebut menegangkan, karena peluang untuk selamat terasa benar-benar “fifty-fifty.”
Di tengah kepanikan penumpang, tiba-tiba terdengar suara teriakan keras, “Oh my God, help me ( oh Tuhan * *tolonglah aku !!! )”
Teriak salah seorang penumpang pesawat, membikin suasana bertambah gaduh.
Setelah dicari asal suara tersebut, ternyata teriakan itu dari Stalin , si ateis, tokoh komunis yang tidak percaya adanya Tuhan.
Konon Stalin berpesan kepada juru bicaranya, agar tidak ada yang membocorkan peristiwa itu kepada siapa pun, termasuk kepada media masa.
Tetapi ternyata peristiwa Stalin butuh pertolongan Tuhan tetap bocor juga. Kejadian ini membuktikan bahwa setiap orang termasuk orang komunis yang hatinya jauh dari kepercayaan terhadap Tuhan, mereka juga membutuhkan pertolongan dari Tuhan Allah yang maha Esa.
Kejadian ini membuktikan bahwa setiap orang termasuk orang ateis, dalam hatinya sebenarnya percaya Tuhan juga.
Stalin memanggil Tuhan dengan berteriak keras, diprediksi karena dua hal:
Pertama, dia sedang panik ketakutan pada kematian.
Kedua, mengira Tuhan itu jauh, maka dia panggil Tuhan dengan berteriak keras supaya mendengar suaranya.
Padahal menurut Al-Qur’an, Allah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya .”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)
Ayat ini menegaskan bahwa, Allah sangat dekat dengan manusia, dalam arti mengetahui setiap perbuatan manusia sekecil apapun. Bahkan yang paling tersamar yang tersembunyi, yaitu bisikan hatinya sendiri, Allah mengetahui semuanya.
Pada ayat lain yang juga menyatakan Allah itu dekat, Allah berjanji akan memenuhi permintaan hambaNya, jika mengajukan permohonan. Ayat ini berada di tengah-tengah ayat yang menjelaskan tentang ibadah puasa , seakan-akan ada pesan khusus kepada orang yang berpuasa, agar tekun berdoa, mengajukan permohonan, tentang apa yang diinginkan .
Allah akan merespon permohonan itu:
وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i izaa da’aani falyastajiibuu lii walyu-minuu bii la’allahum yarsyuduun
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)
Jika ingin permohonan dipenuhi Allah, maka kita juga harus memenuhi perintah Allah dan beriman kepadaNya, karena itu dalam ayat ini Allah menggunakan kata Ibad( عباد) bukan Abid (عبيد), maknanya memang sama yaitu hamba.
Tetapi kata Ibad digunakan pada hamba yang baik. Sedangkan Abid digunakan pada hamba yang tidak baik
Maka ayat ini menyatakan Allah itu merespon doa dari hamba-hambanya yang baik yaitu yang beriman memenuhi ketentuan Allah seperti kita yang sedang puasa maupun salat isya yang dilanjutkan dengan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, salat fardu berjamaah seperti saat ini.
Mungkin banyak di antara kita yang merasa sudah berdoa, tetapi keinginan belum terwujud . Keinginan tinggal keinginan, padahal doa sudah kita panjatkan termasuk ketika berpuasa.
Pesan Rasulullah, Jangan tergesa-gesa Rasulullah bersabda: “Doa salah seorang dari kalian dikabulkan, selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu ketika dia berucap, saya sudah berdoa, tetapi mengapa belum dikabulkan.” (HR Bukhari Muslim).
Sabda Rasulullah yang lain menyatakan, doa seorang hamba akan selalu dikabulkan selama tidak meminta perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim, dan selama tidak tergesa-gesa.
Sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?
Beliau menjawab, yaitu dia berkata: “Saya sudah berdoa, namun saya belum melihat dikabulkan doaku kemudian dia putus asa.” (HR muslim)
Larangan berputus asa tercantum dalam QS Yusuf ( 87)
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَ خِيْهِ وَلَا تَا۟يْـئَسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـئَسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
yaa baniyyaz-habuu fa tahassasuu miy yuusufa wa akhiihi wa laa tai-asuu mir rouhillaah, innahuu laa yai-asu mir rouhillaahi illal-qoumul-kaafiruun
“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”
Berdoa itu bukan seperti membeli barang di pasar, begitu kita datang bisa ambil barangnya sesuai keinginan kita, dengan membayar kita bisa ambil kapan saja kita mau, tetapi berdoa adalah sebuah permohonan kapan dipenuhi tentu tergantung kepada sang pemberi.
Ibnu Qayyim mengatakan, berdoa itu ibarat petani yang menanam tanaman, setiap hari sang petani menyirami, pada hari tertentu diberi pupuk tanaman itu, agar berbuah dengan baik.
Ada petani yang mudah putus asa, setelah melihat tanamannya tidak kunjung berbuah, dia lalu putus asa. Kemudian petani itu tidak sudi lagi menyiram maupun memupuk tanamannya. Tentu saja tanaman itu mati dan tidak mungkin bisa berbuah lagi.
Jadilah petani itu yang tekun, tidak mudah putus asa, ketika tanaman belum segera berbuah, tidak ada kerugian lagi orang yang berdoa bahkan mendapat keuntungan.
Pertama, dia telah melakukan kebaikan karena itu dia mendapat pahala. Kedua, dia mendapatkan pertolongan dengan dikabulkan apa yang diinginkan.
Lantas, bagaimana jika belum dikabulkan? Jika kita berdoa maka ada beberapa kemungkinan yang terjadi, yang kita mohonkan segera dikabulkan Allah, keinginan kita menjadi kenyataan, inilah dambaan setiap orang yang berdoa.
Kemungkinan kedua Allah mengganti keinginan kita dalam bentuk lain, terutama untuk menghindari hal yang buruk pada kita, boleh jadi menurut kita, apa yang kita mohonkan itu sangat baik.
Tetapi Allah yang maha tahu melihat ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Maka apa yang kita mohonkan tidak sama dengan yang terjadi karena Allah dengan kasih sayangnya membelokkan kepada hal yang menyelamatkan kita seperti anak yang minta mainan pisau, kita tidak mengabulkan karena mengandung bahaya yang tidak dia sadari.
Tetapi kita ganti dengan mainan lain yang lebih aman dan lebih menumbuhkan imajinasi dan fantasi.
Ketiga, sebagai investasi akhirat. Apa yang kita minta tidak diberikan Allah ketika di dunia tetapi nanti diberikan pada waktu di akhirat.
Mari kita perhatikan sabda Rasulullah: “Tidaklah seorang muslim yang meminta sebuah permintaan kepada Allah yang dalam doa itu tidak berisi dosa memutuskan persaudaraan, kecuali Allah pasti akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga kemungkinan: doa (permintaannya) segera dipenuhi, atau menjadikannya sebagai simpanan baginya di akhirat, atau Allah melindunginya dari keburukan yang akan menimpa.”
Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa.”
Beliau menjawab:”Allah maha lebih.” (HR Ahmad, hadits Hasan).
Tiga hal yang harus kita kerjakan bersamaan sekaligus. Kerja keras suka membantu dan tekun berdoa .
Mengandalkan kerja keras saja tanpa berdoa, membuat kita sombong, kita baru sadar keterbatasan kita, ketika sakit, terkulai tidak berdaya. Sebaliknya berdoa saja tanpa kerja keras sama dengan menjadikan Allah sebagai pesuruh kita.
Kita suruh-suruh sementara kita sendiri tidak mau berkeringat. Allah akan menolong kepada orang yang suka menolong. (*).
Catatan: Materi ini disampaikan penulis dalam kultum sebelum tarawih di Masjid Imam Balqi Kampung Inggris, Jl Lantamal Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.






0 Tanggapan
Empty Comments