Kata musibah berasal dari kata ashaba (menimpa) atau berasal dari kata shaba-yashibu-shauban-wa mashaban artinya turun, menghujani, atau tertimpa.
Makna musibah secara bahasa mengandung arti semua peristiwa yang terjadi atau menimpa pada manusia baik menyenangkan atau menyedihkan.
Musibah adalah kejadian atau peristiwa menyedihkan yang tidak diinginkan, seperti bencana alam atau kecelakaan, yang bisa menimpa individu atau sekelompok orang.
Dalam pandangan Islam, musibah dianggap sebagai ujian atau cobaan dari Allah SWT yang memiliki hikmah, seperti menguji kesabaran, mengingatkan untuk bersyukur, atau menghapus dosa.
Setiap umat Islam itu diuji oleh Allah SWT untuk mengetahui apakah benar-benar beriman atau sekadar ucapan.
Salah satu cara Allah menguji hambanya dengan memberikan musibah padanya. Di bawah ini pengertian musibah dalam Islam. Allah SWT menguji seseorang untuk melihat kesungguhan hambanya. Surah Al-Ankabut ayat 2-3:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ ٣
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” Sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.”
Musibah secara istilah artinya suatu kejadian yang dapat membawa kerugian atau kejelekan. Imam Al-Qurthubi mengartikan musibah sebagai sesuatu peristiwa yang menyakiti orang beriman.
Maka dari itu, Abu Faraj Ibnu Al-Jauzi berpendapat bila di dunia ini bukan tempat musibah, pasti di dalamnya tidak ada penyakit, dan para nabi atau rasul tidak akan mengalami penderitaan karena dimusuhi, diancam, dan dibunuh.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
كُلُّ مُصِيبَةٍ دُونَ مُصِيبَةِ الدِّينِ فَهَيِّنَةٌ، وَأَنَّهَا فِي الْحَقِيقَةِ نِعْمَةٌ، وَالْمُصِيبَةُ الْحَقِيقِيَّةُ مُصِيبَةُ الدِّينِ.
“Setiap musibah selain musibah yang menimpa agama seseorang maka musibah tersebut ringan, dan sesungguhnya musibah tersebut adalah kenikmatan. Karena musibah yang sesungguhnya adalah musibah pada agama.” (Madarijus Salikin 1/306)
Beliau mengatakan demikian karena musibah dunia; baik berupa kecelakaan, sakit, gangguan, kedzaliman, kesedihan, kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai, dan lainnya, akan menjadi penghapus dosa dan penambah pahala jika disikapi dengan kesabaran dan berharap pahala. Oleh karena itulah, hakikatnya musibah dunia merupakan kenikmatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ
“Tidaklah sesuatupun menimpa seorang muslim, baik berupa lelah, sakit, cemas, sedih, gangguan, ataupun penyakit, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari 5641 dan Muslim 2573)
Musibah dunia juga hanya beberapa saat saja yang akan berakhir dengan kematian, yang selama apapun itu tetaplah hanya sebentar dan jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan apa yang menimpa seseorang di akhirat.
Adapun musibah pada agama seseorang, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Musibah itu berupa rusaknya agama seseorang, seperti keyakinan yang batil, pemahaman menyimpang, amalan bid’ah dan kesesatan, perbuatan syirik, terjatuh pada dosa-dosa besar, dan semisalnya, yang semua ini akan mengantarkan seseorang kepada musibah di akhirat; seperti siksa kubur, kesusahan dan ketakutan di Padang Mahsyar, proses hisab, timbangan amal, dan saat meniti jembatan shirath, serta yang lainnya, hingga berujung masuk ke dalam neraka dengan berbagai siksaannya yang sangat pedih dan menyakitkan.
Dan kita tahu, bahwa satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Betapa mengerikannya musibah agama, semoga Allah melindungi kita darinya.
Maka dari itulah, hendaknya seorang muslim selalu berusaha menjaga agamanya dan peduli dengannya, dengan cara mempelajari ilmu agama, agar ia bisa mengenali kewajiban-kewajiban yang Allah embankan kepadanya sehingga bisa melaksanakannya, dan mengenali larangan-larangan Allah kepadanya sehingga bisa menjauhinya.
Hendaknya seorang muslim juga selalu berdoa agar Allah menjaga dirinya dan agamanya dan agar diwafatkan di atas keimanan, ketaatan, dan takwa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments