Ada masa ketika kehidupan terasa hampa meski segalanya tampak lengkap. Hati gelisah, pikiran sesak, dan jiwa seolah kehilangan arah. Di sanalah manusia baru menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang — bukan harta, bukan kedudukan, melainkan iman.
Sebab hanya iman yang mampu menenangkan jiwa, menerangi hati, dan menuntun ruh menemukan maknanya yang sejati. Tanpa iman, kehidupan hanyalah gerak tubuh tanpa arah, napas tanpa makna, dan langkah tanpa tujuan.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)
124. وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى
(Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku)
Yakni dari agama-Ku serta membaca kitab-Ku dan beramal dengan isi kandungannya.
فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا
(maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit)
Yakni kehidupan yang sulit penuh kesengsaraan.
وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ أَعْمَىٰ
(dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta)
Yakni dengan penglihatan yang dicabut tidak bisa melihat.
Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah SWT, Rabb semesta alam. Singkatnya, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.
Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri.
Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan, kegelapan, dan bencana dalam hidupnya.
Betapa malangnya hidup yang miskin iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak!
وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَٰرَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
Dan, begitu pula, Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat. (QS. Al-An’am: 110)
وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصٰرَهُمْ
(Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka)
Yakni hati dan penglihatan mereka akan dibolak-balikkan di hari Kiamat diatas kobaran api neraka dan batu yang panas.
Ibnu Abbas berkata: ketika mereka mengingkari apa yang diturunkan Allah maka hati mereka tidak pernah menentu dalam suatu keadaan dan ditolak dari setiap perkara.
كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٍ
seperti mereka belum pernah beriman kepadanya Al Quran pada permulaannya.
Sehingga mereka terombang-ambing dalam pendapat mereka tentang al-qur’an dan mereka berbicara tentangnya dengan perkataan yang berbeda-beda.
وَنَذَرُهُمْ فِى طُغْيٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ
dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat, Yakni di dunia.
Yakni membiarkan mereka kebingungan.
Kini, sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa “tidak ada llah selain Allah”.
Betapa pun, pengalaman dan uji coba manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyadarkan akal bahwa berhala-berhala itu takhayul belaka, kekafiran itu sumber petaka, pembangkangan itu dusta, para Rasul itu benar adanya, dan Allah benar-benar Sang Pemilik kerajaan bumi dan langit— segala puji bagi Allah dan Dia sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Seberapa besar — kuat atau lemah, hangat atau dingin — iman Anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan Anda.
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Zat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir.
Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rabb mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk mereka. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments