Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Saat Ustadz Jadi Seleb: Apakah Popularitas Mengalahkan Otoritas Keilmuan?

Iklan Landscape Smamda
Saat Ustadz Jadi Seleb: Apakah Popularitas Mengalahkan Otoritas Keilmuan?
pwmu.co -
Gambar ilustrasi. (Pinterest/PWMU.CO)

Oleh: Fildan Ahmadan, Mahasiswa Program Pendidikan Ulama Tarjih Universitas Muhammadiyah Malang

PWMU.CO – Di era digital ini, semua orang bisa menjadi siapa pun. Tak terkecuali dalam dunia dakwah. Media sosial kini bukan hanya ruang ekspresi, tetapi telah menjadi mimbar baru yang menghadirkan para “ustadz seleb”—pendakwah yang populer bukan karena keluasan ilmu, tetapi karena kefasihan bicara, potongan ceramah viral, atau penampilan menarik. Di tengah derasnya arus konten keagamaan ini, muncul pertanyaan serius: apakah popularitas kini telah mengalahkan otoritas keilmuan?

Fenomena ini semakin kuat pada tahun 2025. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pendakwah viral karena isi ceramah mereka yang kontroversial, mulai dari pemahaman dalil yang keliru hingga penyampaian ajaran agama yang menyesatkan. Hal ini mengundang keprihatinan serius, karena banyak dari mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan agama formal atau sanad keilmuan yang jelas.

Padahal dalam al-Quran, Allah telah memperingatkan: “Fas’alū ahlaz-zikri in kuntum lā ta‘lamūn”— “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43). Ayat ini menjadi dasar penting bahwa berbicara soal agama bukan hak semua orang, apalagi yang hanya bermodalkan retorika.

Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam kehidupan. Dalam QS. Az-Zumar ayat 9, Allah menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Ini bukan hanya soal pengetahuan, tetapi soal tanggung jawab dalam menyampaikan kebenaran. Maka, dalam konteks dakwah hari ini, kita perlu bertanya: apakah mereka yang viral itu benar-benar menguasai ilmunya, atau hanya pandai membangun citra?

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tajdid telah lama menekankan pentingnya keilmuan sebagai syarat dakwah. Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, disebutkan bahwa warga Muhammadiyah harus berdakwah dengan akhlak, ilmu, dan menjauhkan diri dari sensasionalisme yang merendahkan martabat ajaran Islam.

Prof. Ahmad Syafii Maarif bahkan sering mengingatkan bahwa Islam tidak dibangun di atas retorika, tetapi atas substansi dan integritas keilmuan. Maka ketika dakwah hanya menjadi alat konten demi “likes” dan popularitas, kita patut khawatir bahwa ruh Islam yang mencerahkan (tanwir) sedang terkikis.

Nabi Muhammad SAW juga memperingatkan bahaya menyampaikan ilmu tanpa kapasitas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, disebutkan: “Barangsiapa yang menyampaikan suatu ilmu padahal dia tidak kompeten, maka dosanya atas orang yang disesatkan oleh ilmunya.”

Bahkan dalam riwayat lain, Nabi bersabda: “Barang siapa berkata tentang al-Quran dengan pendapatnya sendiri dan ia benar, maka ia telah bersalah” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi). Dua hadis ini menjadi pengingat serius bagi siapa saja yang merasa bisa “berdakwah” hanya karena punya followers atau tampilan menarik.

Di sisi lain, kita tidak bisa menolak kehadiran dakwah digital. Muhammadiyah sendiri aktif dalam mengembangkan platform dakwah modern yang mencerahkan, berbasis ilmu, dan menjangkau anak muda. Namun, kita harus menyadari bahwa algoritma media sosial tidak bisa menjadi tolak ukur kebenaran.

QS. Al-Mujadilah ayat 11 menyatakan: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan itu datang dari keimanan dan ilmu, bukan dari viralitas.

Maka, dalam menghadapi era ini, Muhammadiyah mendorong kader-kader dakwah untuk menempuh jalan ilmu, memperdalam pemahaman, dan terus mengakar pada nilai-nilai tarjih. Karena hanya dengan fondasi ilmu yang kuat, dakwah akan mampu menjadi pelita di tengah gelapnya disinformasi dan sensasionalisme agama.

Secara pribadi, saya merasa sangat tidak nyaman, bahkan muak, melihat tren sebagian orang yang bercanda tentang agama di ruang publik, apalagi jika disampaikan atas nama ceramah, kajian, atau konten dakwah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tidak sedikit yang menjadikan dalil sebagai lelucon, mengolok perbedaan mazhab demi tawa, atau menyampaikan kisah nabi dengan gaya komedi yang tidak pantas. Agama bukan panggung hiburan. Tauhid, syariat, dan akhlak bukan materi stand-up comedy.

Inilah mengapa saya menolak keras ketika ada yang menyamakan dakwah dengan “sekadar menyampaikan yang baik-baik.” Tidak. Dakwah itu amanah. Ia butuh ilmu, adab, dan tanggung jawab. Jika seseorang tidak menguasai dasar-dasar fikih, tafsir, atau hadis, maka lebih baik ia belajar terlebih dahulu, bukan langsung bicara atas nama agama.

Dalam tradisi Islam—terutama dalam semangat tajdid Muhammadiyah—ilmu adalah pangkal dari amal. Salah dalam ilmu, salah pula dalam pengaruh. Maka, bila seorang ustaz atau influencer ceramah dengan gaya bercanda yang menyesatkan, bukan hanya dirinya yang salah, tapi juga seluruh umat yang mungkin tertipu dan mengikutinya. Di sinilah bahayanya.

Saya sangat berharap para pendakwah hari ini lebih hati-hati. Belajarlah dengan serius. Jangan menyampaikan agama hanya karena “viral.” Jangan mempermainkan syariat untuk konten. Islam itu agung. Maka dakwah pun harus agung—dengan ilmu, dengan takwa, dan dengan akhlak yang lurus.

Popularitas bisa datang sekejap, tapi ilmu bertahan sepanjang zaman. Ketika umat mulai memihak kepada yang viral, bukan kepada yang benar, di sanalah kita diuji: apakah agama ini akan tetap dijaga dengan akal dan adab, atau justru dikorbankan demi sensasi dan klik digital.

Mari kita bangun kembali kesadaran kolektif umat bahwa dakwah adalah amanah suci, bukan panggung hiburan. Kita harus menempatkan ilmu di atas algoritma, hikmah di atas sensasi, dan ketulusan di atas ketenaran. Bagi para dai, ustaz, dan siapa pun yang menyampaikan Islam, jangan lelah untuk terus belajar, bertanya, dan mengakar dalam keilmuan. Karena di tangan mereka, cahaya Islam bisa memancar—atau justru meredup.

Sebagai bagian dari gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah mengajak seluruh umat Islam untuk kembali meneguhkan dakwah yang mencerahkan (tanwīr), membebaskan, dan memajukan. Inilah saatnya kita kembalikan mimbar dakwah kepada ilmu dan integritas, agar Islam tidak hanya viral, tapi benar-benar bernilai dan membimbing umat ke jalan yang lurus.

Pada akhirnya, kita perlu kembali merenungi: untuk siapa sebenarnya dakwah ini ditujukan, dan atas nama siapa ia disampaikan? Jika dakwah hanya untuk memenuhi eksistensi pribadi dan mengejar tepuk tangan digital, maka ruhnya telah hilang. Tetapi jika dakwah lahir dari keikhlasan, dari kehausan akan ilmu, dan dari cinta yang jujur kepada umat, maka ia akan menjadi cahaya—yang menuntun, bukan membingungkan.

Muhammadiyah meyakini bahwa Islam bukan sekadar ajaran, tetapi peradaban yang dibangun dengan ilmu, amal, dan akhlak. Maka siapapun yang ingin menyampaikan Islam, harus pula siap menempuh jalan panjang keilmuan. Jangan biarkan Islam menjadi korban dari zaman yang serba cepat—jadikanlah ia tetap mulia di tengah derasnya perubahan.

Kini saatnya kita bukan hanya memviralkan dakwah, tetapi memuliakannya. Bukan hanya menyuarakan Islam, tetapi memeluknya dengan penuh tanggung jawab.(*)

Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu