Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Safari Ramadan RSU UMM: Ibadah Bukan Transaksi, Tapi Pengabdian

Iklan Landscape Smamda
Safari Ramadan RSU UMM: Ibadah Bukan Transaksi, Tapi Pengabdian
Safari Ramadan RSU UMM Ibadah Bukan Transaksi melainkan Pengabdian, Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Komitmen meneguhkan nilai-nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan oleh Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom dalam ceramahnya pada kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (3/3/2026).

Hadir sebagai penceramah utama, Dr. Zen menyampaikan tausiyah di hadapan jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. K

egiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan ruang refleksi bersama bagi sebuah institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan persoalan kemanusiaan.

Dalam suasana Ramadan yang sarat makna, ia mengajak seluruh elemen rumah sakit untuk menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, serta meluruskan orientasi pengabdian.

Menurutnya, pelayanan kesehatan bukan hanya soal profesionalitas dan kompetensi teknis, tetapi juga menyangkut keikhlasan dan integritas moral.

Ibadah Bukan Logika Transaksional

Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional memberi lalu menuntut balasan instan.

Ia mengisahkan seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah setelah mendengar tausiyah. Pemuda itu menyedekahkan seluruh uangnya dengan harapan balasan datang seketika. Namun yang muncul justru kegelisahan karena harapannya tak segera terpenuhi.

“Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya.

Menurutnya, ibadah bukan mekanisme sebab-akibat yang instan. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir.

Ketika amal dilakukan semata demi imbalan cepat, kekecewaan mudah muncul. Sebaliknya, jika dilandasi kepatuhan dan penghambaan, ketenangan hadir tanpa harus menunggu balasan.

Ramadan, lanjutnya, mengajarkan proses tersebut secara bertahapmelalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat.

Kuasa sebagai Amanah, Bukan Privilege

Zen juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Pada tahap awal, seseorang memahami bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap lebih matang, ia mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kuasa, menurutnya, bukanlah privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan.

“Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya.

Di rumah sakit, kepatuhan pada nilai dan etika menjadi fondasi profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, serta kepercayaan publik.

Karena itu, ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif sekaligus preventif—tidak hanya mengatur batas benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran agar penyimpangan dapat dicegah sejak dini.

Ramadan sebagai Energi Peradaban

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal.

Menurutnya, takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi baik di bidang pendidikan maupun layanan kesehatan.

“Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya.

Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Konsolidasi Nilai dalam Pelayanan Publik

Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara duniawi maupun ukhrawi.

Melalui refleksi Ramadan, RSU UMM menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas spiritual bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan fondasi utama dalam membangun layanan kesehatan yang humanis dan berkeadaban.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu