Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Salat Idulfitri Sesuai Pedoman Fikih: Hukum, Dalil, dan Tata Caranya

Iklan Landscape Smamda
Salat Idulfitri Sesuai Pedoman Fikih: Hukum, Dalil, dan Tata Caranya
Foto: Jefri Tarigan/Anadolu Agency
pwmu.co -

Salat Idulfitri menjadi salah satu momentum berakhirnya bulan Ramadan. Disambut gema takbir yang bersahutan, pakaian terbaik dikenakan, dan umat Muslim berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid terdekat untuk menunaikannya.

Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Kharis Nugroho, Lc, M.Ud, menjelaskan bahwa Salat Id memiliki landasan hadis yang kuat dan dipraktikkan langsung oleh Rasulullah saw secara konsisten.

“Karena itu, pemahaman hukum dan tata caranya menjadi bekal penting agar syiar hari raya tetap terjaga kemurniannya,” kata Kharis di ruang kerjanya, Rabu (4/3/2026).

Salat Idulfitri dalam Pandangan Fikih

Apakah Salat Idulfitri wajib? Pertanyaan ini kerap hadir di benak masyarakat, terutama bagi mereka yang khawatir berdosa jika tidak menunaikannya.

Menurut Kharis, mayoritas ulama menetapkan hukumnya adalah sunah muakkadah, yakni sunah yang sangat dianjurkan.

Penetapan ini merujuk pada praktik Nabi Muhammad saw yang selalu menunaikannya, tetapi tidak memberikan sanksi bagi yang meninggalkan.

“Artinya, kedudukannya sangat ditekankan sebagai syiar Islam, namun belum sampai derajat wajib seperti salat lima waktu atau salat Jumat,” jelas dosen Fakultas Agama Islam UMS tersebut.

Dalilnya antara lain hadis Ibnu Abbas yang menyebut Rasulullah saw melaksanakan salat dua rakaat pada hari raya tanpa salat sebelum dan sesudahnya.

Ada pula riwayat Abu Sa’id al-Khudri yang menggambarkan Rasulullah SAW keluar menuju tanah lapang, salat bersama jemaah, lalu berkhotbah.

“Salat Idulfitri ditunjukkan sebagai ibadah kolektif umat yang penting karena konsistensi praktik ini,” tambahnya.

Tata Cara Salat Idulfitri

Salat Idulfitri memiliki kekhususan yang berbeda dari salat harian. Pelaksanaannya sederhana, tetapi sarat makna dan syiar.

Pertama, tempat pelaksanaan. Nabi lebih sering melaksanakannya di lapangan terbuka atau musala agar seluruh lapisan masyarakat, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak dapat berkumpul.

Kedua, tanpa azan dan ikamah. Salat dimulai langsung dengan takbiratul ihram ketika imam berdiri.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketiga, jumlah rakaat dua. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, disusul rakaat kedua dengan lima kali takbir sebelum membaca Al-Fatihah. Di sela-sela takbir, jemaah dianjurkan memuji Allah atau berselawat.

Sebagaimana hadis berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى فِي الأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا

“Sesungguhnya Rasulullah saw bertakbir pada salat Idulfitri dan Iduladha, pada rakaat pertama tujuh kali takbir dan rakaat kedua lima kali takbir.” (Hadis Riwayat Abu Dawud)

Keempat, bacaan surat. Disunahkan membaca Surah Al-A’la dan Al-Ghasyiyah, atau Surah Qaf dan Al-Qamar, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih.

Kelima, khotbah setelah salat. Berbeda dengan salat Jumat, khotbah Idulfitri dilakukan setelah salat sebagai nasihat dan penguatan spiritual bagi jemaah.

“Cara salat Id secara ringkas dapat dipraktikkan seperti yang telah disebutkan. Tanpa kebingungan mengikuti gerakan imam,” ujar Kharis.

Salat Idulfitri bukan sekadar ibadah dua rakaat biasa. Ibadah ini menandai keberhasilan seorang Muslim ditempa puasa, kesabaran, dan pengendalian diri selama sebulan penuh Ramadan.

“Ini juga bisa menjadi momentum evaluasi diri. Apakah ibadah Ramadan berdampak pada akhlak. Secara sosial, salat Id menghadirkan kebersamaan. Semua berdiri sejajar dalam satu saf tanpa perbedaan status,” tegasnya.

Salatnya singkat, tetapi pesannya amat dalam: memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu