Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Serakah dalam Islam: Bahaya Materialisme dan Akibatnya di Akhirat

Iklan Landscape Smamda
Serakah dalam Islam: Bahaya Materialisme dan Akibatnya di Akhirat
Foto: en.eglise.shop
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Obsesi berlebihan terhadap keduniawian bukan sekadar persoalan gaya hidup, tetapi awal dari rangkaian sebab-akibat yang membentuk perilaku manusia. Ketika hasrat memiliki terus dipelihara tanpa batas, lahirlah sikap serakah—hati yang tidak pernah merasa cukup.

Dalam kondisi ini, manusia bukan lagi mengejar kepuasan, melainkan terjebak dalam siklus keinginan yang tak berujung. Islam melalui QS. At-Takatsur ayat 3 memberikan peringatan tegas bahwa setiap perilaku tersebut memiliki konsekuensi yang pasti, yang kelak akan disadari ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Orang yang serakah tidak mengejar kepuasan, melainkan mengejar keinginan itu sendiri. Saat satu hal didapat, langsung menginginkan yang lain, menciptakan siklus yang tak pernah putus.

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).” (QS. At-Takatsur 102: Ayat 3)

Makna Ayat

QS. At-Takatsur 102: Ayat 3 merupakan bentuk peringatan keras (warning) tentang adanya konsekuensi logis dan kausalitas (sebab-akibat) yang pasti terjadi atas perilaku manusia yang terobsesi secara berlebihan pada keduniawian (التَّكَا ثُرُ).

Penjelasan

1. Hukum Kausalitas (Sebab-Akibat)

Setiap aksi pasti ada reaksi. Dalam ayat ini, “bermegah-megahan” (akibat cinta dunia berlebihan) adalah sebab, sedangkan “mengetahui akibatnya” (penyesalan/siksa) adalah akibat yang tidak terhindarkan.

Ayat ini menegaskan bahwa perilaku yang melalaikan tujuan hidup hakiki akan membawa manusia pada kondisi merugi di akhir hayat (di liang kubur) dan di akhirat.

2. Kognisi dan Kesadaran Manusia

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Frasa “Kelak kamu akan mengetahui” (سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ) merujuk pada kesadaran mendalam yang akan dialami manusia. Secara psikologis, manusia yang tertipu oleh kemegahan dunia (harta, jabatan, pengikut) seringkali mengalami “pembiaran” terhadap risiko masa depan. Ayat ini adalah peringatan bahwasanya kesadaran itu pasti akan datang, baik saat kematian menjemput (عَيْنَ الْيَقِيْنِ – melihat dengan matakepala sendiri) maupun setelahnya, di mana penyesalan tidak lagi berguna.

3. Fenomena Saling Berlomba dan Kelalaian

Secara sosiologis dan psikologis, التَّكَا ثُرُ menggambarkan perilaku kompetitif manusia yang tak terbatas, yang didorong oleh hasrat untuk “memiliki lebih banyak” dari orang lain (harta, anak, pengikut). Pengejaran tanpa henti ini terbukti membuat manusia mengabaikan kesehatan mental, spiritual, dan tujuan jangka panjang, yang menyebabkan “kelalaian” (laa-hiin) dari esensi kehidupan.

4. Kepastian Masa Depan (Eskatologi)

“Kelak” (سَوْفَ) dalam ayat ini merujuk pada waktu yang pasti datang, yaitu kematian atau hari kebangkitan. Dari sudut pandang ilmiah-keimanan, ini menegaskan bahwa kebenaran akan tersingkap dan segala bentuk manipulasi atau penyembunyian niat yang dilakukan di dunia akan terbongkar.

QS. At-Takatsur 102: Ayat 3 memperingatkan bahwasanya perilaku yang berfokus sepenuhnya pada materi secara berlebihan (materialisme/konsumerisme) adalah tindakan serakah.

Konsekuensi dari perilaku kegelisahan, hilangnya makna hidup, hingga penyesalan abadi akan disadari sepenuhnya saat manusia dihadapkan pada realitas kematian dan berada di alam barzakh. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 24/03/2026 17:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡