Di tengah padatnya kalender akademik, SD Muhammadiyah 3 Ikrom Sidoarjo membuat terobosan sederhana namun berdampak besar, yakni memajukan jadwal ujian praktik kelas enam.
Alih-alih menunggu semester genap yang sarat dengan kegiatan, sekolah ini memilih momen yang lebih kondusif tepat setelah Sumatif Akhir Semester (SAS) ganjil.
Ada beberapa mata pelajaran yang diujikan melalui praktik, di antaranya Al-Islam, SBdP, Bahasa Inggris, Olahraga, Komputer (IT), dan IPAS yang berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (15-16/12/2025).
Pada hari kedua, materi ujian praktik adalah wudu dan salat jenazah. Sebelum ujian praktik, siswa telah dibekali materi tentang salat jenazah beserta doa-doanya sehingga siswa lebih siap dalam mengikuti ujian praktik.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, ujian praktik di kelas enam SD Muhammadiyah 3 Ikrom ini hadirkan dengan tiga tujuan utama. Di balik meja ujian yang tertata rapi, Ustazah Dwi Ernawati yang memegang peran ganda sebagai wali kelas enam Al-Zahrawi dan motor penggerak panitia menjelaskan tiga tujuan itu.
“Tujuan dilaksanakannya ujian praktik ini yaitu melaksanakan agenda atau program sekolah, memberikan pembelajaran mendalam bagi siswa, membekali siswa di bidang keterampilan hidup,” jelasnya.
Baginya, ini bukan hanya tentang penilaian, melainkan sebuah proses penyiapan mental, pengukuran kompetensi, dan perayaan pembelajaran yang sudah berjalan.
Sebanyak 103 siswa dengan segala antusiasme dan mungkin sedikit degup jantung yang berdetak lebih cepat turut serta dalam gelaran ini. Agar proses penilaian berjalan fokus dan personal, para peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil.
Pengelompokan ini disesuaikan dengan bidang ujian serta guru penguji yang mendampingi, menciptakan dinamika ruang ujian yang lebih intim dan terarah bagi setiap anak.
Proses Ujian Praktik
Kegiatan ujian praktik ini diikuti oleh seluruh siswa kelas enam yang berjumlah 103 siswa. Untuk pelaksanaan praktik, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan penguji masing-masing.
Penulis kemudian berbincang dengan Fiqa, siswa kelas enam Al-Jabar. Ia menyampaikan, “agar kita tau sholat jenazah itu bagaimana lalu agar kita bisa membantu sesama karena ilmu sholat jenazah sangat di butuhkan, saat ada tetangga, masyarakat yang wafat jadi kita bisa ikut sholat.”
Hal ini senada dengan yang disampaikan Rafid, siswa kelas enam Al-Jabar.
“Alhamdulilah bisa menambah wawasan sehingga ada tetangga atau saudara meninggal bisa ikuti shalat jenazah dengan adanya praktik dari sekolah menambah ilmu,” jelasnya.
Salat jenazah memberikan pengalaman tersendiri bagi siswa karena berbeda dengan salat pada umumnya. Salat jenazah hanya dilakukan dengan empat kali takbir, dikerjakan sambil berdiri tanpa rukuk, sujud, dan duduk.
Ustaz Muhajir memberikan penekanan kepada siswa.
“Setelah bisa shalat jenazah agar ilmunya bermanfaat, jika ada keluarga, tetangga yang meninggal, silahkan ikut menyalatkan,” ucapnya.
Di akhir kegiatan, Ustaz Muhajir juga bertanya kepada siswa, “sanggupkah kalian menjadi imam, jika ada keluarga yang meninggal?” Siswa menjawab serentak, “sanggup.”






0 Tanggapan
Empty Comments