Search
Menu
Mode Gelap

Sehat Lahir, Sehat Batin: Jalan Nabi Menuju Kebahagiaan Hakiki

Sehat Lahir, Sehat Batin: Jalan Nabi Menuju Kebahagiaan Hakiki
Foto: Muslim.sg
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM
pwmu.co -

Kesehatan merupakan karunia Allah Ta’ala yang sangat berharga, kita wajib mensyukurinya. Terkadang kita baru menyadari, tatkala kesehatan itu diambil dari diri kita atau apabila kita merasakan sakit.

Demikian juga kita menyadarinya apabila kita menengok saudara-saudara kita di rumah sakit, bisa kita saksikan disana orang-orang berbaring sakit, dengan beragam penyakit yang mereka derita bahkan tak sedikit diantara mereka yang tengah menjalani operasi, meregang nyawa dikamar IGD.

Betapa banyak orang yang sampai ludes harta bendanya bahkan berutang ke sana-ke mari agar penyakitnya bisa sembuh, tak jarang pula yang harus pulang-pergi keluar negeri untuk berobat. Ini semua menunjukkan bahwa kesehatan sangatlah mahal.

Seperti kita, suri teladan kita, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam juga manusia yang pernah menderita sakit. Namun demikian, para ulama menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah sekali atau dua kali selama hidupnya mengalami sakit, subhanallah!

Ini menunjukkan bahwa beliau adalah manusia yang sehat jasmani dan rohaninya. Lalu apakah rahasianya?

Rahasianya adalah mengapa jasmani beliau sehat karena rohani beliau sehat! Dan rohani beliau sehat karena jasmani beliau juga sehat! Dan jasmani beliau sehat karena beliau hanya makan dan minum dari yang halal dan baik.

Kemudian porsi makan beliau juga tidak berlebihan dan pola hidup beliau sangat sempurna yang seharusnya kita mencontohnya.

Oleh karena itu, hendaknya kita mau mempelajari seluk-beluk kehidupan beliau dari cara ibadah, muamalah, akhlak terpuji beliau dan terutama kesehatan hati.

Sekalipun kesehatan jasmani sangat utama, lebih utama lagi Adalah kesehatan rohani, kesehatan jiwa, kesehatan hati, karena kesehatan yang terakhir ini berdampak pada kebahagiaan selamanya.

Orang tidak akan selamat bila hatinya penuh dengan penyakit. Indikator hati yang sakit terlihat dari alergi pada nasehat, benci pada pengajaran agama, iri-dengkim bahkan membenci dan membuli penyampai kebaikan. Istigfar. Naudzubillahi min dzalik.

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Bukhari dan Muslim)

• Hadis ini menekankan peran hati sebagai pemimpin bagi seluruh anggota tubuh. Jika hati rusak, maka seluruh tindakan dan anggota tubuh akan rusak pula, yang pada akhirnya bisa membawa celaka bagi diri sendiri.

“…Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10)

• Ayat ini secara eksplisit menyebutkan adanya penyakit hati yang berujung pada azab yang pedih, menghubungkan penyakit hati (seperti dusta) dengan konsekuensi celaka di dunia dan akhirat.

Penyakit hati adalah penyakit yang sangat berbahaya, dan terkadang si penderita tidak bisa merasakannya. Kalaupun ia merasakannya, namun susah baginya untuk bersabar dalam mengobatinya.

Karena obat sakit hati adalah dengan melawan hawa nafsunya. Dan ini hal yang memerlukan pengorbanan besar. Tidak ada resepnya dan tidak dijual di apotik.

Memang hati adalah poros kebahagiaan sekaligus sumber kebinasaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh kalian terdapat segumpal daging; bila ia baik, maka akan baik seluruh badannya. Namun bila ia rusak, akan rusak pula semua tubuhnya. Ingatlah, itu adalah hati. [Muttafaq ‘alaih]

Hadis tersebut menunjukkan bahwa baiknya amalan seorang hamba tergantung pada baiknya hati. Sebaliknya, rusaknya amalan seorang hamba adalah sesuai dengan rusaknya hati.

Hati yang baik, itu adalah hati yang sehat selamat. Masuk surga bukan karena badannya yang sehat, Masuk surga karena hatinya yang sehat. Hanya hati seperti ini yang akan bermanfaat di sisi Allâh Azza wa Jalla kelak.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” [Asy-Syu’arâ’/ 26: 88-89]

Apakah kita menginginkan sehat? Kita semua pasti ingin sehat, oleh karena itu kita harus mengetahui sumber dan sebab-sebab datangnya penyakit, serta mengetahui langkah-langkah pencegahan serta mengetahui bagaimana mengobatinya.

Sumber penyakit jasmani adalah perut, oleh sebab itu sering kali engkau lihat penyakit berasal dari makanan atau minuman”. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah:

1. Memilih makanan dan minuman yang halal dan baik.

Karena makanan yang haram tidak akan membawa keberkahan yang akhirnya penyakit akan dengan mudahnya menyerang kita.. Allah Tabaaroka wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqoroh:168)

Dari ayat diatas kita dilarang mengkonsumsi sesuatu yang haram baik zatnya maupun cara memperolehnya dan sesuatu yang buruk yang dapat membahayakan tubuh serta akal kita.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sesuatu yang haram zatnya misalnya; bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih karena selain Allah ta’ala dan segala hal yang diharamkan berdasar Al-Quran dan hadits Nabi.

Hal yang bisa membahayakan jiwa dan kesehatan serta akal seperti; minum-minuman memabukkan, narkoba dengan segala jenisnya, dan segala hal yang bisa merusak organ tubuh, paru-paru, jantung, atau ginjal dan yang bisa menyebabkan penyakit kanker, liver, tumor dan penyakit mematikan lainnya.

Sesuatu yang haram cara memperolehnya seperti makanan yang diperoleh dari hasil korupsi, mencuri, judi, penipuan, riba dan cara-cara lain yang diharamkan .

2. Memperhatikan cara makan.

Seperti membaca Bismillah sebelum makan atau minum, menggunakan tangan kanan, mengambil yang terdekat dan sambil duduk dan tak lupa membaca Alhamdulillah.

3. Memperhitungkan porsi makanan.

Cukuplah makan itu untuk sekedar bisa menegakkan tulang punggung kita, dan apabila ingin lebih, hendaknya sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk nafas. Allah azza wa jalla berfirman:

۞ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rof: 31)

Dari ayat yang mulia ini kita dilarang untuk melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan. Karenanya, sebagian ulama menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menghimpun segala pengobatan pada ayat diatas.

4. Kemudian apabila kita sakit, maka kita tidak boleh berpangku tangan

Karena setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dan tentunya itu dengan izin Allah azza wa jalla.

Kita diperbolehkan berobat dengan cara-cara yang diridhoi Allah, tidak boleh berobat dengan hal yang diharamkan Allah dan Rosul-Nya.

Nabi shollAllahu alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ لم يجعل شفاءَكُم فيما حرَّمَ عليكُم

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit pada apa yang diharamkan atas kalian” (HR. Al-Bukhori)

Dan tidak boleh pula kita pergi ke dukun atau paranormal karena mereka bekerja sama dengan syaitan, meminta pertolongan kepada selain Allah, demikian adalah perbuatan syirik. Nabi bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim No. 2230)

5. Ketahuilah bahwa kesehatan bukan hanya ada pada jasmani atau badan saja akan tetapi juga ada pada rohani.

Dan ini harus kita perhatikan dengan baik karena kesehatan rohani ini letaknya ada pada hati, apabila hati itu baik, baik pula seluruh anggota tubuh yang lain, akan tetapi apabila hati itu rusak, rusak pula seluruh anggota tubuh yang lain.

Diantara penyakit hati adalah syirik (menyekutukan Allah), sifat munafik, sifat kufur atau ingkar kepada Allah dan Rosul-Nya, bodoh terhadap ajaran agama dan menolak nasehat, riya (ingin dipuji), menolak kebenaran, iri, dengki, meremehkan manusia, berprasangka buruk dan masih banyak penyakit hati lainnya.

Penyakit hati ini sangatlah berbahaya, oleh karena itu kita harus segera mengobatinya sebelum hati kita menjadi mati. Dan obat yang paling mujarab adalah dengan mempelajari ajaran Islam, kemudian membaca dan mentadabburi Al-Quran, mempebanyak zikir, rajin membaca nasihat jangan bosan apalagi sampai membenci nasihat keagamaan, serta jangan lupa menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah dengan ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah jalla wa ‘ala.

Kehidupan rohani adalah kehidupan yang hakiki dan kekal abadi sekalipun jasmani kita telah tiada dan jasad serta tulang-tulang kita telah hancur menjadi tanah rohani tetap hidup, oleh karena itu jangan biarkan jiwa-rohani kita sakit.

Kita hidup di dunia ini hanya sebentar, kita semua pasti akan kembali kepada Allah untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatan kita masing-masing, dan balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya.

Oleh karena itu, marilah kita persiapkan diri kita untuk menghadap Allah Rabbul ‘alamin dihari tidak bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak kita, kecuali orang-orang yang dirohmati Allah dengan membawa hati yang sehat. Allah tabaaroka wa ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌۭ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍۢ (٨٩)

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’araa: 88-89). (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments