Pemimpin masa kini dituntut untuk mampu melihat peluang ke depan, mengambil keputusan yang berani, dan tetap adaptif di tengah perubahan. Hal tersebut disampaikan oleh Sakti Manubwo Jati, S.E., M.B.A., saat menjadi pembicara dalam sebuah forum kepemimpinan, Senin (17/11/2025).
Sakti saat ini menjabat di PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. Ia merupakan alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) jurusan Ekonomi program Akuntansi Internasional dan Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Pemimpin yang visioner akan mampu melihat peluang di masa depan. Kita harus punya visi dulu agar bisa membawa tim ke arah yang kita tuju,” katanya.
Sakti menyebutkan, di BCA, budaya kreatif dan inovatif bukan sekadar slogan. Seluruh karyawan diberikan kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasan, termasuk yang berasal dari lini bawah. Bahkan, banyak ide justru muncul dari para nasabah.
“Fokus kami adalah pada nasabah. Sebagai bank swasta, kami sangat bergantung pada mereka,” ujarnya.
Sakti menekankan bahwa setiap langkah perubahan pasti disertai risiko. Namun, risiko tersebut harus dihitung dan diantisipasi.
“Perubahan itu harus kita ambil, tapi terukur. Harus dikalkulasikan, termasuk waktu pelaksanaannya. Kita juga harus adaptif, tidak sekadar menunggu, tapi aktif menciptakan perubahan,” jelasnya.
Pembinaan dan Kaderisasi
Menurut Sakti, pemimpin tidak hanya bertugas menggerakkan organisasi, tetapi juga menyiapkan generasi penerus. Delegasi yang tepat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Leader pasti akan berganti. Bagaimana kita memberdayakan anggota dan mempersiapkan suksesor? Itu tugas penting. Kita ingin mereka meneruskan jejak yang ada, atau bahkan menciptakan jejak baru yang lebih baik,” tuturnya.
Di BCA, pengembangan SDM diwujudkan melalui BCA Learning Institute, dengan lima materi wajib yang harus diambil setiap pegawai.
“Pencapaian yang baik itu lahir dari pengorbanan besar,” ucapnya.

Tantangan di Sektor Keuangan
Sakti menyampaikan bahwa sektor perbankan adalah sektor yang regulasinya ketat. Semua kegiatan operasional diawasi berlapis mulai dari regional, nasional hingga internasional.
“Regulasi ketat dari OJK, BI, dan Lembaga Penjamin Simpanan adalah kenyataan yang harus dipatuhi. Namun, aturan itu tidak boleh menghalangi inovasi,” jelasnya.
Di sektor perbankan, risiko ada dalam dua aspek: menghimpun dana dan menyalurkannya dalam bentuk pinjaman.
“Keduanya sama-sama berisiko. Karena itu, setiap langkah harus diperhitungkan berlapis,” tambahnya.
Era VUCA dan Kepemimpinan Masa Depan
Sakti menjelaskan, kini dunia berada dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), di mana perubahan tidak dapat diprediksi.
“Kita harus menjadi orang-orang yang bisa memanfaatkan Artificial Intelligence, bukan tergantikan olehnya,” tegasnya. “Perubahan akan menghempaskan mereka yang menolak beradaptasi.”
Di perbankan, terutama di lini bisnis, inovasi seperti API (Open Banking), keamanan siber, dan robotic process automation sudah menjadi kebutuhan utama.
“Pemimpin harus mampu membungkus pengetahuan dengan keputusan strategis. Banyak isu global yang bisa memengaruhi langkah kita,” kata Sakti.
Ia juga menyoroti pentingnya prinsip Keuangan Berkelanjutan (ESG) dan penguatan basis ekonomi umat melalui lembaga mikro.
“Salah satunya dengan kerja sama BCA bersama Lazismu dalam layanan pembayaran zakat,” imbuhnya.
Dalam sesi penutup, Sakti menyampaikan tiga prinsip kepemimpinan BCA yang merujuk pada ajaran Ki Hajar Dewantara serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan di era digital. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments