Di tengah ramainya karnaval HUT ke-81 RI dan Dasawarsa ke-4 Pondok Pesantren Al-Ishlah, sebuah pemandangan menarik terlihat di antara barisan ribuan santri yang melintas, Kamis (27/8/2026).
Drs. KH Muhammad Dawam Saleh, Pengasuh Ponpes Al-Ishlah, duduk bersama istrinya, Dra. Hj. Muthmainah, menyaksikan para santri menampilkan kreativitas di sepanjang jalan.
Wajah Ustadz Dawam yang kini berusia 73 tahun tampak cerah dan penuh kebahagiaan. Mengenakan baju putih dan sarung hijau muda, ia duduk berdampingan dengan Muthmainah yang mengenakan jilbab berwarna pink.
Pasangan yang menikah pada 1988 itu menikmati setiap barisan, yel-yel, dan kreativitas yang ditampilkan para santri Al-Ishlah.
Seorang guru dan dosen yang turut mengabadikan momen tersebut menggambarkan suasana yang dirasakan sang pengasuh.
“Ustadz Dawam sedang menikmati buah jerih payah yang beliau rintis 40 tahun lalu. Beliau nampak bahagia, dan kita pun bahagia.”
Kebahagiaan menyaksikan ribuan santri itu tidak hanya dirasakan oleh KH Muhammad Dawam Saleh. Sejumlah sesepuh Muhammadiyah Sendangagung juga turut menyaksikan karnaval tersebut.
H Munir Ahmad yang berusia 88 tahun dan H Maksum yang berusia 86 tahun tetap menyempatkan diri melihat jalannya barisan meski harus menyesuaikan dengan kondisi fisik karena usia.
Keduanya tampak menyaksikan barisan Perguruan Muhammadiyah dan Al-Ishlah yang mengular panjang.
Ahmad Farid Asshidiqi, salah satu putra sesepuh, mengungkapkan keinginan H Maksum untuk selalu menyaksikan panjangnya barisan santri Al-Ishlah.
“Di usia Abah yang 86 tahun, beliau selalu ingin lihat panjangnya barisan santri Al-Ishlah, meskipun harus ngemper di rumah Almarhum Bapak Mushowir.”
Bagi para sesepuh, pemandangan ribuan santri tersebut menjadi gambaran perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Tiga tokoh pejuang Muhammadiyah tersebut masih mengingat perjalanan pada era 1980-an. Saat itu, menurut naskah, barisan Perguruan Muhammadiyah masih menjadi salah satu yang paling pendek, dengan jumlah yang sedikit dan bahkan pernah mendapat cibiran.
Empat puluh tahun kemudian, perjalanan itu memperlihatkan perubahan. Al-Ishlah kini tumbuh menjadi pesantren dengan jumlah santri mencapai 2.000-an.
Barisan panjang yang dipenuhi warna, seni, dan semangat dalam karnaval menjadi gambaran perjalanan perjuangan yang telah dilalui selama empat dekade.
“Al-Ishlah makin besar. Kebanggaan itu tidak milik Ustadz Dawam semata. H. Munir Ahmad dan H. Maksum Ahmad pun turut menikmati,” pungkasnya.
Di bawah terik matahari Paciran, senyum para sesepuh menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 RI dan Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah.
Bagi mereka, perjalanan dari masa ketika perjuangan masih menghadapi cibiran hingga kini menyaksikan ribuan santri menjadi bagian dari cerita panjang yang dibangun melalui pendidikan, kesabaran, doa, dan kerja keras.
Al-Ishlah pun tidak sekadar menjadi sebuah pesantren, tetapi juga menjadi jejak dari perjuangan empat dekade yang kini dapat disaksikan langsung oleh para tokoh yang turut merintis dan memperjuangkannya.






0 Tanggapan
Empty Comments