Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Simfoni Takdir di Aula Soedirman

Iklan Landscape Smamda
Simfoni Takdir di Aula Soedirman
Penulis (kiri) bersama Dwiyan Agung Wicaksono (tengah) dan Moh Firman (kanan) di Aula Panglima Besar Jenderal Soedirman SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi
Oleh : Taufiqur Rohman Guru Pendidikan Agama Islam SMK Muhammadiyah 2 Genteng
pwmu.co -

Takdir Tuhan adalah sebuah misteri yang ditulis dengan tinta rahasia.

Tak seorang pun manusia, betapa pun tajam firasatnya, mampu menyingkap tabir apa yang akan tersaji esok hari.

Begitu pula dengan pertemuan yang saya alami —sebuah jalinan peristiwa yang mempertemukan saya, Moh. Firman, dan Dwiyan Agung Wicaksono.

Sungguh, ini adalah sebuah fragmen pertemuan yang indah, sebuah reuni kecil yang diatur presisi oleh Sang Pemilik Waktu.

Sabtu pagi, 20 Desember 2025, atmosfer Kota Genteng terasa begitu teduh.

Udara sejuk seolah memeluk kota, membawa ketenangan yang jarang dirasakan di hari-hari sibuk. Di dalam Aula Panglima Besar Jenderal Soedirman, gedung kebanggaan SMK Muhammadiyah 2 Genteng (SMK Muda), keriuhan wali murid mulai terasa.

Kehadiran saya di sini bukan tanpa alasan. Sebagai bagian dari gerakan “Ayah Mengambil Rapor“, saya hadir untuk menunaikan tanggung jawab sebagai wali murid sekaligus pendidik.

Semilir angin dari kipas angin yang menerpa wajah seolah menjadi saksi bisu betapa syahdunya suasana pertemuan pagi itu.

Di tengah kerumunan, sosok Pak Firman hadir tanpa saya sadari sebelumnya.

Beliau bukan sekadar kolega, melainkan sahabat karib yang telah bersama saya mengarungi dinamika persyarikatan Muhammadiyah.

Memori saya mendadak terlempar ke masa dua dekade silam. Selama dua tahun, kami berjuang bersama di bangku kuliah Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Kenangan paling lekat adalah saat tahun 2014, ketika kami—bersama Shinta Ayu Kirana Sari—berjalan kaki dari kompleks perumahan di Jalan Kertomenanggal menuju lokasi yudisium dengan penuh kebahagiaan.

Setelah lulus, garis pengabdian memisahkan kami. Pak Firman mendedikasikan ilmunya di SMP Muhammadiyah 7 Sempu, sementara saya berlabuh di SMK Muda.

Namun, semesta memiliki cara unik untuk menyatukan kembali dua sahabat. Tanpa direncanakan, Pak Firman mendaftarkan putranya, Khoirun Nasrudin, ke sekolah tempat saya mengajar.

Takdir bahkan menempatkan putranya di kelas yang sama dengan anak saya, Ghulam Bana Islama, yakni di Kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.

Kehadiran Pak Firman baru tersingkap saat pembawa acara memanggil namanya ke atas panggung.

Putranya meraih prestasi akademik yang membanggakan. Tak lama kemudian, giliran nama saya yang dipanggil dalam urutan prestasi berikutnya.

Di atas panggung itulah, kami berdiri berdampingan, dipertemukan kembali oleh takdir dalam peran yang sama: sebagai ayah yang bangga.

“Sendiri, Pak?” sapa saya di sela-sela riuhnya tepuk tangan.

Beliau mengangguk dengan senyum khasnya, menjelaskan bahwa ia memang meluangkan waktu khusus di hari yang lapang ini demi sang putra.

Momen hangat itu pun sempat diabadikan oleh tim dokumentasi sekolah sebagai potret persahabatan yang melintasi generasi.

Namun, kejutan tak berhenti di situ. Saat kami melangkah keluar aula, melewati barisan wali murid yang tengah sibuk mengamati hasil evaluasi belajar, seorang pemuda berjaket hitam tiba-tiba mencegat langkah kami.

Dengan penuh takzim, ia mengulurkan tangan.

“Pak, saya murid jenengan,” ucapnya santun.

Saya tertegun sejenak, mencoba menggali memori di antara ribuan wajah yang pernah saya ajar.

“Maaf, dengan siapa ya?” tanya saya sambil menjabat erat tangannya.

Pemuda itu adalah Dwiyan Agung Wicaksono, alumni SMK Muda angkatan 2017.

Dahulu, ia adalah siswa saya di Kelas XII Teknik Kendaraan Ringan 1.

Kini, Dwiyan telah bertransformasi menjadi pria dewasa yang matang. Ia bercerita bahwa saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan besar di Kalimantan.

Namun, yang membuat suasana mendadak haru adalah ketika suaranya mulai bergetar dan matanya berkaca-kaca.

Ia mengenang masa-masa saat saya membimbingnya menghafal Juz 30 melalui metode murajaah di kelas. “Berbekal hafalan itu dan skill otomotif dari sini, saya punya rasa percaya diri untuk bersaing di perusahaan tambang batu bara, Pak,” ungkapnya terbata.

Mendengar pengakuannya, dada saya berdesir hebat. Tak pernah saya bayangkan bahwa hal kecil yang saya terapkan dalam pengajaran—sebuah disiplin spritual sederhana—ternyata mampu menjadi fondasi mental bagi seorang anak manusia dalam menaklukkan kerasnya dunia kerja di luar sana.

Pertemuan hari ini adalah sebuah pengingat bahwa tidak ada yang kebetulan di bawah kolong langit ini.

Dari sahabat lama hingga mantan siswa yang kini sukses, semuanya adalah bagian dari rencana Tuhan yang sempurna.

Sebelum berpisah, saya hanya mampu menitipkan satu pesan untuknya: “Tetaplah semangat dan berprestasi, Dwiyan.

Ambillah setiap kesempatan untuk terus menebar kemanfaatan bagi orang lain.”

Pagi itu, di SMK Muda, saya belajar bahwa keberhasilan seorang guru bukan hanya terletak pada angka-angka di atas rapor, melainkan pada jejak kebaikan yang membekas di hati para muridnya, hingga bertahun-tahun kemudian.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu