Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Sisa Umur, Jalan Pulang, dan Kesempatan Menghapus Dosa

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Sisa Umur, Jalan Pulang, dan Kesempatan Menghapus Dosa
Ilustrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada masa ketika seseorang lebih sering mengingat kesalahan masa lalunya daripada mensyukuri kesempatan yang masih dimilikinya hari ini.

Ia teringat salat yang pernah ditinggalkan. Amanah yang dikhianati. Lisan yang melukai hati orang lain. Hak orang lain yang belum ditunaikan. Juga kesempatan berbuat baik yang berkali-kali datang, tetapi selalu ditunda dengan alasan masih ada hari esok.

Waktu terus berjalan. Usia bertambah. Sementara dosa dan kesalahan seolah menjadi bayang-bayang yang mengikuti ke mana pun ia melangkah.

Pada malam-malam tertentu, ketika rumah mulai sunyi dan orang-orang terlelap, ingatan itu datang kembali. Ia bertanya dalam hati, masihkah ada kesempatan memperbaiki semuanya? Bukankah terlalu banyak waktu yang telah terbuang?

Pertanyaan semacam itu tidak selalu harus berakhir dengan penyesalan. Bisa jadi, justru di sanalah pintu perubahan mulai terbuka.

Sebab, masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi cara kita menjalani sisa kehidupan masih bisa diperbaiki.

Enam Puluh Tahun yang Tidak Sia-Sia

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq al-Badr hafizahullah menjelaskan sebuah pelajaran penting tentang kesempatan memperbaiki diri pada sisa umur.

Seseorang mungkin telah menghabiskan 60 tahun kehidupannya dalam kelalaian. Banyak waktu berlalu tanpa ketaatan yang semestinya. Banyak kesempatan terlewat tanpa amal yang berarti.

Namun, ketika ia menyadari kesalahannya, kemudian bertobat kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan membulatkan tekad untuk istikamah dalam ketaatan, terbukalah harapan baru.

Bahkan, seandainya setelah pertobatan itu ia hanya hidup beberapa hari, ia tetap memiliki kesempatan memperoleh ampunan Allah atas dosa-dosa masa lalunya.

Betapa besar karunia itu.

Allah tidak membatasi pintu pertobatan hanya bagi mereka yang sejak muda telah menjalani kehidupan dengan baik. Orang yang baru menemukan jalan pulang pada usia senja pun tetap memiliki harapan.

Yang menentukan bukan semata-mata berapa panjang masa lalu seseorang, melainkan bagaimana ia menyikapi kesempatan yang masih tersisa.

Tentu, ampunan Allah adalah hak-Nya. Kita tidak bisa memastikan nasib akhir seseorang. Namun, ajaran ini meneguhkan bahwa manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah selama masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri.

Sebaliknya, jika seseorang tetap bertahan dalam kelalaian, menyia-nyiakan waktu yang tersisa, dan tidak mau memperbaiki kesalahannya, ia kehilangan kesempatan berharga untuk mengubah arah hidupnya.

Sisa umur bukan sekadar hitungan waktu. Di dalamnya ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, menunaikan hak sesama, dan menebus kelalaian melalui amal saleh.

Ketika Seseorang Mulai Menghitung Sisa Umurnya

Bayangkan seorang lelaki yang sepanjang hidupnya sibuk mengejar banyak hal.

Ia bekerja keras, mengumpulkan harta, membangun rumah, dan membesarkan anak-anaknya. Hampir setiap hari pikirannya dipenuhi urusan dunia. Salat sering ditunda. Janji kepada orang lain terkadang dilupakan. Hubungan dengan keluarga pun tidak selalu terjaga karena ia merasa pekerjaannya jauh lebih penting.

Baginya, waktu adalah sesuatu yang bisa diatur sesuka hati. Jika hari ini belum sempat berbuat baik, masih ada hari esok.

Sampai suatu ketika, ia menghadiri pemakaman seorang sahabat yang seusia dengannya.

Di depan liang lahat, ia menyaksikan tubuh yang dahulu kuat kini terbujur kaku. Tidak ada lagi rencana pekerjaan, urusan bisnis, atau janji pertemuan yang bisa ditunda. Perjalanan sahabatnya telah selesai.

Dalam perjalanan pulang, ia mulai memikirkan dirinya sendiri.

Selama ini, ia begitu sibuk menghitung harta, tetapi jarang menghitung waktu yang telah habis. Ia tahu berapa banyak uang yang tersimpan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menghitung berapa banyak salat yang telah ia lalaikan, berapa banyak hati yang pernah ia sakiti, dan berapa banyak kesempatan berbuat baik yang telah ia lewatkan.

Malam itu, ia mengambil air wudu. Ia berdiri untuk salat, mungkin dengan perasaan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Tidak ada yang menyaksikan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan yang akan diterimanya.

Hanya seorang hamba yang mulai menyadari betapa ia membutuhkan ampunan Tuhannya.

Esok harinya, ia mencoba memperbaiki hal-hal yang selama ini diabaikan. Ia meminta maaf kepada orang yang pernah disakitinya. Ia mengembalikan sesuatu yang bukan haknya. Ia mulai menjaga salat dan berusaha lebih jujur dalam bekerja.

Ia tidak bisa mengulang masa mudanya. Ia tidak mampu mengembalikan tahun-tahun yang telah berlalu. Namun, ia masih bisa menentukan apa yang hendak dilakukannya hari ini.

Di situlah perubahan bermula. Bukan karena ia yakin masih memiliki umur panjang, melainkan karena ia tidak ingin menyia-nyiakan umur yang masih diberikan Allah.

Jangan Biarkan Penyesalan Menjadi Keputusasaan

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Penyesalan memiliki dua kemungkinan.

Ia bisa menjadi pintu pertobatan. Namun, ia juga bisa berubah menjadi beban yang membuat seseorang merasa tidak lagi pantas memperbaiki diri.

Orang yang terus-menerus mengingat kesalahannya tanpa berusaha bangkit akan terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Ia merasa dosanya terlalu banyak, kesalahannya terlalu besar, dan dirinya terlalu buruk untuk kembali mendekat kepada Allah.

Padahal, keputusasaan bukanlah jalan keluar.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS az-Zumar: 53)

Ayat ini seperti mengetuk pintu hati siapa pun yang merasa terlalu jauh dari kebaikan. Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, manusia tidak diperintahkan untuk menyerah pada masa lalunya. Ia dipanggil untuk kembali.

Namun, kembali kepada Allah bukan sekadar menangis ketika mengingat dosa, lalu mengulangi kesalahan yang sama tanpa usaha memperbaiki diri. Pertobatan harus diikuti perubahan.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, hak itu harus diupayakan untuk dikembalikan. Jika pernah menyakiti seseorang, kita perlu berusaha memperbaiki hubungan dan meminta maaf dengan cara yang tepat.

Jika selama ini lalai menjalankan kewajiban, kita harus mulai menunaikannya dengan sungguh-sungguh.

Tidak semua persoalan selesai dalam sehari. Ada hubungan yang membutuhkan waktu untuk pulih. Ada kepercayaan yang harus dibangun kembali. Ada akibat perbuatan yang tetap harus dipertanggungjawabkan.

Tetapi, semua itu bukan alasan untuk menunda langkah pertama.

Kita tidak harus menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai berbuat baik. Kita hanya perlu berhenti membenarkan kesalahan dan berani menapaki jalan perbaikan.

Sisa Umur Adalah Kesempatan

Sering kali manusia memperlakukan hari esok seolah-olah ia pasti menjadi miliknya.

Besok akan bertobat. Besok akan meminta maaf. Besok akan memperbaiki salat. Besok akan lebih peduli kepada orang tua. Besok akan mengembalikan hak orang lain.

Padahal, tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih akan menjumpai hari esok.

Kematian tidak selalu datang setelah seseorang merasa siap. Ia bisa datang ketika pekerjaan belum selesai, rencana belum terlaksana, dan kata maaf belum sempat diucapkan.

Karena itu, memperbaiki diri tidak harus menunggu usia senja. Tidak perlu menunggu sakit. Tidak perlu menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya kesempatan berbuat baik.

Selagi masih bisa bersujud, bersujudlah. Selagi masih bisa meminta maaf, mintalah maaf. Selagi masih bisa mengembalikan hak orang lain, tunaikanlah. Selagi masih bisa menolong, ulurkan tangan.

Jika hari ini kita menyadari sebuah kesalahan, jangan menundanya hingga esok. Jika hari ini kita menemukan jalan menuju kebaikan, jangan menunggu sampai seluruh urusan dunia selesai.

Sebab, urusan dunia tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada pekerjaan yang menunggu, target yang belum tercapai, dan keinginan baru yang ingin dipenuhi. Sementara umur terus berkurang.

Pada akhirnya, kita tidak bisa memilih berapa lama lagi akan hidup. Kita juga tidak bisa menghapus sejarah kehidupan dengan tangan sendiri. Namun, kita bisa memohon ampunan kepada Allah, memperbaiki kesalahan, dan mengisi sisa umur dengan amal yang diridai-Nya.

Mungkin masa lalu kita panjang dan penuh kelalaian. Mungkin kesempatan yang terbuang jauh lebih banyak daripada kebaikan yang pernah dilakukan.

Tetapi, jangan sampai panjangnya masa lalu membuat kita mengabaikan kesempatan hari ini.

Kita tidak perlu menunggu menjadi orang baik untuk mulai bertobat. Justru dengan bertobat, kita sedang memulai perjalanan menjadi lebih baik.

Sebab, bisa jadi, sisa umur yang terasa begitu pendek itulah yang kelak menjadi bagian paling berharga dalam kehidupan kita.

Bukan karena kita berhasil menghapus masa lalu dengan kekuatan sendiri, melainkan karena kita menggunakan kesempatan yang tersisa untuk kembali kepada Allah.

Dan ketika kelak perjalanan itu benar-benar berakhir, semoga kita tidak termasuk orang yang baru menyadari berharganya waktu setelah waktu itu tidak lagi menjadi milik kita. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 29/10/2026 05:35
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu