Siswa ekstrakurikuler jurnalistik SMA Muhammadiyah 3 Jember melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh nasional dalam rangkaian Kajian Ramadan 1447 H PWM Jatim yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Jember pada Sabtu (21/2/2026) hingga Ahad (22/2/2026). Kegiatan tersebut mengusung Tema Besar Kajian Ramadan 1447 H yang menjadi payung pembahasan seluruh sesi materi.
Wawancara dilaksanakan secara langsung dan disertai perekaman materi saat acara berlangsung. Tim peliput dibagi dalam beberapa kelompok sesuai narasumber yang hadir.
Naila Zulfa dan Isna Azkiyya mewawancarai Wakil Gubernur Jawa Timur. Nafisah Nailal dan Naurah Izzatul bertugas mewawancarai Menteri Pendidikan, sedangkan Luqman Hakim dan Maritza Ainiyya melakukan wawancara bersama Menteri Kehutanan. Sementara itu, M. Ridho dan Sakti Putra mendapat kesempatan mewawancarai Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim.

Salah satu narasumber, Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., menekankan pentingnya kebebasan bersuara yang bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan kritik, namun harus memperhatikan etika serta dampak dari setiap pernyataan agar tidak memicu ujaran kebencian, rasisme, maupun diskriminasi agama.
“Demokrasi membuka ruang kritik, tetapi harus disampaikan secara bijak dan tidak menimbulkan perpecahan,” ujarnya.
Selain isu demokrasi, perhatian juga tertuju pada persoalan lingkungan dan mitigasi bencana yang menjadi tantangan di berbagai daerah. Hal tersebut turut disampaikan dalam sesi bersama narasumber lainnya.
Emil juga menyoroti upaya mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan di Jawa Timur yang memiliki banyak kawasan pegunungan serta daerah rawan bencana. Ia menjelaskan penggunaan teknologi aeroseeding, yakni metode penyebaran benih dari udara untuk mempercepat penghijauan di kawasan perbukitan.
Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Gunung Argopuro, Ijen, Bromo, Arjuno, dan Wilis. Penataan ruang dilakukan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta perencanaan kehutanan yang dikelola pemerintah pusat. Emil menegaskan bahwa pelestarian hutan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar agar solusi yang diterapkan bersifat berkelanjutan.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, Ph.D., menyoroti pentingnya tata kelola hutan yang lebih strategis untuk mencegah kerusakan lingkungan. Ia menyampaikan perlunya perubahan budaya kerja serta penguatan struktur organisasi di kementerian agar perlindungan hutan lebih efektif.
Raja Juli juga menilai jumlah polisi hutan saat ini belum ideal dibandingkan dengan luas kawasan hutan nasional. Karena itu, diperlukan penambahan personel serta dukungan sarana dan prasarana seperti alat transportasi, pesawat, dan drone untuk memperkuat pengawasan.
Selain penguatan teknis, ia menekankan pentingnya middle leadership atau kepemimpinan tingkat menengah guna memastikan program dari pusat dapat diterjemahkan dan dijalankan secara optimal hingga ke daerah.
Dalam sesi lain, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., yang hadir secara daring, mengangkat tema ekoteologi dan tugas kekhalifahan manusia di bumi. Ia mengingatkan bahaya dua kutub ekstrem dalam pengelolaan lingkungan, yakni pembangunan yang eksploitatif dan sikap konservasi pasif tanpa keterlibatan manusia.
Menurut Haedar, pembangunan merupakan keniscayaan untuk kesejahteraan, namun harus dilakukan dengan perencanaan matang dan kebijakan yang menyeimbangkan kemajuan serta kelestarian alam.
Pesan serupa disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Prof. Dr. dr. H. Sukadiono, M.M., yang memperkenalkan konsep “ibadah ekologi”. Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Sukadiono mengajak masyarakat memulai kepedulian lingkungan dari langkah sederhana, termasuk pengelolaan sampah saat berbuka puasa pada bulan Ramadan. Menurutnya, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak terhadap mitigasi bencana dan pelestarian alam.
Rangkaian wawancara tersebut menjadi bagian dari praktik pembelajaran jurnalistik siswa SMA Muhammadiyah 3 Jember. Selain melatih kemampuan komunikasi dan peliputan, kegiatan itu juga menambah wawasan siswa mengenai isu demokrasi, tata kelola lingkungan, serta peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan alam. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments