Sabtu pagi (18/7/2026) di Aula TK Aisyiyah 40 PPS Manyar tak ramai oleh suara anak-anak, melainkan oleh langkah dan percakapan para orang tua.
Mereka datang bukan untuk menitipkan anak, tapi untuk mendengar, memahami, dan ikut bertanggung jawab atas satu tahun pendidikan anak-anak mereka.
Setiap awal tahun ajaran, sekolah ini konsisten menggelar sosialisasi program tahunan dan tata tertib. Kepala TK Aisyiyah 40 PPS, Yuli Handayani, SPdI menegaskan bahwa transparansi adalah dasar kepercayaan.
“Kami ingin orang tua tahu persis apa yang akan dilakukan sekolah, agar bisa bersama-sama mendukung” ujarnya.
Acara dibuka oleh Wakil Kepala Kesiswaan, Triwulandari Heppyani Kurniawati SPdI, sekaligus guru kelompok A3. Pembacaan Surat Al Ma’un dipimpin oleh Kustiyandriana SPdI selaku guru kelompok B5 membuka ruang hati, mengingatkan bahwa pendidikan juga soal kepekaan sosial.
Pemaparan Program Tahunan
Yuli Handayani memaparkan program tahunan. Antara lain struktur organisasi sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga penjelasan tentang ketiadaan MBG (Makan Bergizi Gratis) di tingkat TK.
Keputusan ini diambil agar proses belajar-mengajar tetap murni dan tidak terpotong-potong. Sebab menurutnya, jika guru harus sibuk membawa ompreng, membagikannya, membuka-tutupnya, bahkan memasukkan sisa makanan ke kotak bekal satu per satu, waktu yang seharusnya untuk anak justru lenyap.
“Terlebih lagi ini jenjang TK, di mana anak masih sangat membutuhkan bantuan guru untuk hal-hal kecil sekalipun” ujar Yuli. Dalam usia yang masih sangat dini, setiap menit bersama anak adalah kesempatan berharga untuk mendampingi, bukan untuk mengurus logistik makanan.
Dengan tidak memberlakukan MBG, sekolah memilih melindungi ruang belajar yang tenang dan efisien, di mana guru bisa benar-benar fokus pada perkembangan anak, bukan pada urusan kotak bekal.
Salah satu bagian yang paling penting adalah penjelasan pra-literasi dari Wakil Kepala Kurikulum, terutama bagi wali murid kelompok A.
Sekolah tegas tidak memaksakan anak untuk segera bisa membaca dan menulis. Ike Tussolicha SPdI menyampaikan dengan tegas.
“Jangan memaksa anak supaya cepat bisa membaca dan menulis. Apalagi sampai memberikan ancaman pada anak” tegasnya.
Kalimat itu menyentil. Di baliknya ada pemahaman mendalam bahwa setiap anak memiliki irama perkembangannya sendiri. Memaksa anak justru bisa mematikan rasa ingin tahu.
Sambutan Ketua IWAMA
Ketua Ikatan Wali Murid Aisyiyah (IWAMA) periode 2026-2027, Fatimatuzzaroh SSi menyampaikan harapan yang sama.
“Kita sama-sama bersinergi demi perkembangan anak-anak. Komunikasi yang baik adalah kunci keberhasilan kita” katanya.
Pesan itu bukan sekadar basa-basi. Pendidikan anak usia dini memang tak bisa hanya dibebankan kepada guru. Orang tua adalah mitra utama. Membangun sinergi dengan orang tua adalah kunci utama untuk perkembangan anak.
Tak hanya program sekolah, sosialisasi juga menghadirkan TPQ At-Taqwa PPS. Wakil kepala TPA Ririn Darwati Ningsih dan Bendahara TPA Nazilatil Mahmudah ST memaparkan profil, visi-misi, serta jenjang kelas sesuai usia anak.
Ririn menjelaskan dua metode yang digunakan: tilawati dan tajdied. Penjelasan ini memberi orang tua gambaran utuh bahwa pendidikan agama di luar sekolah juga akan berjalan terstruktur dan sesuai tahap perkembangan. Acara kemudian ditutup dengan sosialisasi dari Lazismu.
Di balik agenda yang padat, ada satu semangat yang kuat: pendidikan bukan soal mengejar target cepat, melainkan mendampingi dengan sabar.
TK Aisyiyah 40 PPS tak sekadar menyampaikan program, tapi mengajak orang tua melihat anak sebagai manusia kecil yang sedang tumbuh, bukan proyek yang harus cepat selesai.
Sinergi yang dibangun hari itu semoga tak berhenti di aula. Tapi berlanjut di rumah-rumah, di setiap pagi yang dimulai bersama anak. Karena pendidikan yang baik selalu dimulai dari kesadaran bersama.





0 Tanggapan
Empty Comments