Sore itu, Musholla Al-Abror di Kalimati Gang 3 Nomor 1 Kota Mojokerto terasa berbeda. Sejumlah siswa duduk bersila dengan mushaf di tangan, menunggu giliran diuji dalam agenda munaqosyah tahfidz Al-Qur’an. Di antara mereka, seorang siswa kelas 8 tampak tak henti tersenyum. Namanya, Ananda Chiko.
Ketika namanya dipanggil, dia maju dengan langkah mantap. Lembar demi lembar ayat dilantunkannya tanpa ragu. Suaranya jernih, tajwidnya tertata, makharijul hurufnya jelas.
Di akhir sesi, salah satu penguji, Pak Nur, memberikan apresiasi yang membuat wajahnya semakin berbinar.
“Bacaannya sangat fasih, makharijul hurufnya juga sangat baik,” ujarnya.
Hari itu, Chiko resmi menerima kartu kelulusan hafal 1 juz Al-Qur’an. Sebuah capaian yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi Chiko.
Sebab, dua tahun lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di SMP Muhammadiyah 1 Kota Mojokerto (SPEMUSA), dia bahkan belum bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar.
Masih teringat bagaimana dulu bacaan Chiko tersendat-sendat. Huruf-huruf hijaiyah sering tertukar, panjang pendek belum teratur.
Seorang pendamping tahfidz pernah berseloroh lembut, “Cocoknya kamu ini masih ngaji Iqro’, Nak!”
Ucapan itu bukan untuk merendahkan, melainkan menjadi titik awal perjalanan panjangnya. Dari yang “grotal-gratul”, kini ia mampu melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan fasih dan penuh percaya diri.
Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Chiko menjalani proses yang konsisten melalui program tahfidz yang digelar SPEMUSA empat kali dalam sepekan, setiap Senin hingga Kamis, selama 60 menit.
Di kelas tahfidz, siswa tidak langsung dibebani target hafalan. Fokus pertama adalah memperbaiki bacaan.
Guru-guru membimbing satu per satu: membenarkan makhraj, menguatkan tajwid, melatih kelancaran.
Setelah bacaan dinilai baik dan benar, barulah hafalan ditingkatkan. Pola ini membuat siswa tidak sekadar banyak hafal, tetapi juga tepat dalam membaca.
Cerita Chiko bukan satu-satunya. Syafaa, kakak kelasnya yang kini duduk di kelas XI SMK Muhammadiyah Kota Mojokerto, memiliki kisah serupa. Saat masuk SPEMUSA, ia masih berada di Iqro’ 3. Namun ketika lulus, ia membawa pulang hafalan lima juz Al-Qur’an dengan bacaan yang baik dan benar.
Di lingkungan sekolah yang beralamat di Jalan PB Sudirman, Kalimati Gang 3 Kota Mojokerto itu, pembinaan Al-Qur’an memang menjadi perhatian utama.
Selain program reguler, SPEMUSA juga menyediakan program tahfidz berasrama melalui Rumah Tahfidz Muhammadiyah (RTM) Kota Mojokerto.
“RTM didirikan untuk menjadi wadah anak-anak yang ingin belajar mondok, menghafal Al-Qur’an, serta tafaqquh fid-dien,” jelas Ustadz Furqon, salah satu pengasuh RTM.
Di asrama, pembinaan dilakukan lebih intensif. Siswa tinggal bersama, belajar disiplin, memperbanyak murojaah, dan memperdalam pemahaman agama.
Lingkungan yang kondusif itu membantu lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga matang akhlaknya.
Komitmen inilah yang terus dijaga SPEMUSA. Sekolah ini tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter Islami dan kreativitas siswa, sebagaimana visi yang mereka usung: “Berkarakter Islami dan kreatif.”
Chiko hari itu pulang membawa kartu kelulusan 1 juz. Namun yang lebih berharga dari selembar kartu itu adalah perjalanan yang telah ia tempuh—dari belum mampu membaca, hingga menjadi penghafal Al-Qur’an.
Di balik senyumnya, ada kerja keras, bimbingan guru, dan lingkungan yang mendukung. Sebuah bukti bahwa setiap anak punya potensi untuk bertumbuh—asal diberi kesempatan, dibimbing dengan sabar, dan didampingi dengan sungguh-sungguh. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments