Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Spiritualitas Digital dan Krisis Keikhlasan

Iklan Landscape Smamda
Spiritualitas Digital dan Krisis Keikhlasan
M. Arif Susanto. Fptp: Dok/Pri
Oleh : M. Arif Susanto Dosen STIT Muhammadiyah Bojonegoro
pwmu.co -

Era digital telah menggeser lanskap keberagamaan dari ruang batin ke ruang publik virtual. Ibadah, yang secara teologis merupakan relasi intim antara hamba dan Tuhan, kini bertransformasi menjadi ekspresi visual yang dapat dikonsumsi, dinilai, dan divalidasi oleh publik melalui media sosial.

Fenomena ini melahirkan paradoks spiritual: di satu sisi teknologi membuka akses dakwah dan literasi keagamaan, namun di sisi lain memicu krisis keikhlasan yang subtil tetapi sistemik.

Spiritualitas digital bekerja dalam logika eksistensi modern: visibility, engagement, dan approval. Algoritma media sosial tidak mengenal niat, ia hanya membaca intensitas interaksi.

Di sinilah ibadah berpotensi tergelincir dari transendensi menuju representasi. Shalat, sedekah, umrah, bahkan tangisan doa direduksi menjadi konten simbolik—dipotong, dipoles, dan dipertontonkan.

Keimanan tidak lagi hanya dihayati, tetapi dikurasi. Yang muncul bukan sekadar praktik keberagamaan, melainkan performativitas religius.

Dalam perspektif etika Islam, problem ini bersinggungan langsung dengan konsep riya’—melakukan amal untuk dilihat manusia.

Namun riya’ di era digital tidak selalu vulgar dan sadar. Ia sering hadir dalam bentuk yang lebih halus: niat ganda.

Seseorang mungkin memulai ibadah dengan keikhlasan, tetapi berakhir dengan dokumentasi; atau sebaliknya, dokumentasi menjadi motivasi awal dengan dalih “inspirasi” dan “syiar”.

Di titik ini, autentisitas spiritual menjadi kabur, karena niat bercampur dengan hasrat eksistensial.

Generasi milenial dan Gen Z hidup dalam budaya self-branding. Identitas dibangun melalui narasi visual yang konsisten, termasuk identitas religius.

Hijrah, kesalehan, dan simbol-simbol ibadah sering dijadikan personal value proposition. Agama tidak lagi sekadar jalan pengabdian, tetapi juga social capital.

Ketika kesalehan menjadi identitas sosial, maka ibadah rawan diperalat sebagai instrumen legitimasi moral.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Yang berbahaya bukan sekadar pamer ibadah, melainkan normalisasi kesalehan sebagai komoditas simbolik.

Krisis keikhlasan ini diperparah oleh reduksi makna spiritualitas. Spiritualitas sejatinya bersifat reflektif, kontemplatif, dan transformatif—mengubah orientasi hidup, bukan sekadar tampilan luar.

Namun dalam ruang digital yang serba cepat dan dangkal, spiritualitas cenderung mengalami simplifikasi makna.

Ukurannya bergeser dari kualitas batin ke kuantitas konten: seberapa sering, seberapa viral, dan seberapa diapresiasi. Ini adalah bentuk disrupsi nilai yang serius.

Agama, dalam konteks ini, ditantang untuk melakukan reposisi epistemologis. Dakwah tidak cukup berhenti pada seruan moral, tetapi harus menyentuh kesadaran kritis tentang niat, orientasi, dan tujuan beragama.

Literasi spiritual digital menjadi keniscayaan: kemampuan membedakan antara ibadah sebagai pengabdian dan ibadah sebagai pertunjukan.

Generasi muda perlu diajak memahami bahwa tidak semua yang tampak saleh itu bernilai spiritual, dan tidak semua yang tersembunyi itu kosong makna.

Keikhlasan bukan anti-publik, tetapi anti-eksploitasi niat. Agama tidak menolak teknologi, namun menolak reduksi makna.

Tantangan terbesar spiritualitas digital bukan pada medianya, melainkan pada kesadaran subjeknya.

Di tengah budaya eksistensi digital, keberagamaan yang otentik menuntut keberanian untuk sunyi—melawan arus validasi, dan kembali pada esensi: ibadah sebagai jalan pemurnian diri, bukan panggung pengakuan. Di situlah spiritualitas menemukan kembali martabatnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu