Tips Resilient: Tetap Tangguh

Agar anak tetap resilient (tangguh), Peacesantren Welas Asih membagikan beberapa tips praktis:
- Jangan tunjukkan reaksi berlebihan.
- Tinggalkan pelaku dengan tenang.
- Rasakan kekuatan diri.
- Hindari kelompok pembully.
- Jangan membalas mengejek.
- Jangan balas dendam.
- Jadilah lebih cerdas.
Dukungan Nyata untuk Korban
Selain itu, korban perlu mendapat dukungan nyata, yaitu:
- Emosional: yakinkan bahwa ia tidak sendiri.
- Komunikasi: dorong untuk bercerita.
- Praktis: dampingi dalam melapor dan menghadapi situasi.
Peacesantren Welas Asih juga mengenalkan metode Eye Message (I-message), yaitu teknik berkomunikasi tanpa menyalahkan. Anak diajak mengatakan: “Saya merasa sedih ketika kamu mengejek saya, saya berharap kamu berhenti.” Polanya sederhana: what I feel, what you do, what have to do.
Guru juga disarankan memakai pertanyaan curiosity dan motivational questions agar korban merasa aman bercerita, bukan pertanyaan menghakimi yang membuat korban semakin tertekan.
Dalam lingkaran perundungan, bystander (penonton pasif) justru sering memperkuat pelaku. Karena itu, Peacesantren Welas Asih mendorong perubahan bystander menjadi upstander yang berani menolong, mendukung, atau melapor.
Sebagai penutup, Irfan Amali menekankan pentingnya membangun resiliensi melalui aktivitas bermakna seperti ekstrakurikuler bela diri, Hizbul Wathan, Tapak Suci, atau kegiatan seni. Kegiatan ini memberi ruang anak menyalurkan energi positif, membangun percaya diri, dan memperluas jejaring pertemanan.
“Sekolah aman bukan berarti tanpa konflik. Tapi konflik harus dihadapi dengan damai, membangun keberanian anak bicara, dan memastikan tak ada anak yang merasa sendirian,” pungkas Irfan Nazhran.
Melalui pelatihan Upgrading Guru Happy Tanpa Bully, Peacesantren Welas Asih berharap semakin banyak sekolah di Indonesia menjadi tempat belajar yang aman, ramah, dan membahagiakan untuk semua anak.
Penulis Nur Aini Ochtafiya Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments