Di negeri +62 yang penuh warna, ada dua tim kesehatan spiritual yang bekerja tanpa henti dan saling melengkapi. Yang satu fokus pada manusia yang masih bernapas, yang lain fokus dan tetap setia mengurus yang nafasnya terhenti. Ya…kita sedang bicara tentang Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Kalau Muhammadiyah itu seperti dokter jaga IGD: sigap, sistematis, berbasis bukti. Mereka membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga tim relawan bencana MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).
Prinsipnya jelas: selama manusia masih hidup, harus diupayakan kualitas hidupnya meningkat, melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Dalam istilah ilmiah, ini pendekatan promotif dan preventif.
Mencegah kebodohan, mengobati ketertinggalan, dan meningkatkan derajat hidup. Kalau ada bayi lahir, Muhammadiyah sudah siap dengan bidan, sekolah, bahkan beasiswanya.
Sementara itu, NU tampil seperti dokter spesialis fase akhir, yang tidak berhenti bekerja ketika kehidupan biologis selesai. Tahlilan, istighosah, haul, ini bukan sekadar ritual, tapi bentuk continuity of care versi spiritual.
Dalam perspektif psikologi, tradisi ini membantu keluarga yang ditinggalkan melewati proses berduka (grief processing).
Dalam perspektif teologis, ia menjadi jembatan doa antara yang hidup dan yang wafat. Kalau Muhammadiyah fokus pada quality of life, NU melengkapi dimensi quality of afterlife.
Kalau kita lihat dengan kacamata ilmiah yang santai, keduanya seperti sistem kesehatan yang komprehensif.
Muhammadiyah mengurus fase “sebelum mati” dengan pendekatan rasional dan institusional. NU mengurus fase “setelah mati” dengan pendekatan kultural dan spiritual. Yang satu memastikan kita hidup dengan baik, yang lain memastikan kita “dilepas” dengan baik.
Bayangkan jika keduanya digabungkan dalam satu paket layanan: lahir ditolong bidan Muhammadiyah, sekolah di SD Muhammadiyah, sakit dirawat di RS Muhammadiyah, lalu ketika wafat didoakan oleh jamaah NU lengkap dengan tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, bahkan 1000 hari. Ini bukan sekadar harmoni, ini full-stack human service.
Maka, mungkin kita tidak perlu memperdebatkan siapa yang lebih benar. Karena pada akhirnya, manusia itu makhluk unik: butuh logika saat hidup, dan butuh rasa saat ditinggal.
Muhammadiyah menguatkan tubuh dan akal kita, NU menghangatkan jiwa dan kenangan kita. Muhammadiyah dengan aset dan kebermanfaatannya di dunia Pendidikan, Pelayanan Kesehatan, terdepan saat bencana dan Jaminan Sosial. Sementara aset NU adalah Tahlilan, Istighosah, Haul, dan lain-lain.
Dan kalau dipikir-pikir, hidup ini memang perjalanan singkat antara dua layanan: “dirawat agar hidup” dan “didoakan setelah hidup.”
Sisanya? Ya, kita sendiri yang menentukan, mau jadi pasien teladan, atau malah jadi bahan tahlilan yang ramai karena semasa hidup terlalu banyak drama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments