Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sudahkah Ramadan Mengubah Kita? Ini Ukuran Suksesnya

Iklan Landscape Smamda
Sudahkah Ramadan Mengubah Kita? Ini Ukuran Suksesnya
Foto: prayerinislam.com
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Sebenarnya sederhana, melihat sejauh mana Ramadan membekas dalam diri kita. Ukurannya bukan pada seberapa meriah buka bersama, seberapa lengkap hidangan sahur, atau seberapa sering kita mengunggah momen ibadah di media sosial.

Ukurannya adalah ketika, keluar dari Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya—dalam banyak hal: salat kita, tilawah kita, akhlak kita, cara kita mengelola waktu, kesabaran kita, hingga kepedulian sosial kita.

Ramadan bukan sekadar bulan yang “dilewati”, tetapi bulan yang seharusnya “membentuk”. Jika setelah 30 hari ditempa, hati kita lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan langkah lebih terarah, itulah tanda keberhasilan.

Sukses Ramadan berarti sukses dalam setidaknya dua hal pokok, yakni Shiyam (puasa) dan
Qiyam (salat malam/tarawih).

Namun tentu saja, kita ingin lebih dari sekadar memenuhi standar minimal. Kita ingin Ramadan benar-benar mengubah hidup kita. Mari kita bahas satu per satu.

1. Sukses Puasa: Menahan Diri, Menjaga Hati

Yang dimaksud dengan sukses puasa bukan hanya sanggup menahan lapar dan dahaga, serta tidak berhubungan suami istri di siang hari selama sebulan penuh. Puasa yang sukses bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Bayangkan seorang karyawan yang tetap berpuasa, tetapi sepanjang hari ia mengeluh, mudah marah, dan berkata kasar kepada rekan kerjanya.

Secara fikih, puasanya sah. Tetapi secara ruhiyah, ia mungkin kehilangan banyak pahala. Lapar dan dahaga ia dapatkan, tetapi kemuliaan puasa belum sepenuhnya ia raih.

Puasa yang sukses adalah puasa yang:

  • Menjaga lisan dari rafats (kata-kata kotor dan sia-sia).
  • Menundukkan pandangan dari hal yang diharamkan.
  • Menjaga telinga dari ghibah dan fitnah.
  • Mengendalikan emosi ketika diuji.

Seorang pedagang misalnya, tetap jujur meski pembeli tak tahu kualitas barangnya. Seorang sopir tetap sabar meski macet panjang menjelang berbuka. Seorang ibu tetap lembut kepada anak-anaknya meski kelelahan menyiapkan hidangan. Di situlah puasa menjadi latihan pengendalian diri.

Sukses puasa berarti kita menjalankannya sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam—lahir dan batin. Dan tanda keberhasilannya adalah ketika setelah Ramadan, kita tetap mampu menjaga diri dari maksiat sebagaimana kita menjaganya di siang hari Ramadan.

2. Sukses Tarawih: Menang di Sepertiga Malam

Jika kita menginginkan dosa-dosa kita yang lalu diampuni, maka selain puasa yang sempurna, salat malam di bulan Ramadan juga harus dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan tuma’ninah.

Sering kali, inilah yang kita abaikan. Tarawih ditinggalkan demi memburu persiapan Lebaran. Pusat perbelanjaan ramai, masjid justru mulai renggang di sepuluh hari terakhir. Padahal justru di akhir Ramadan terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Bayangkan dua orang yang sama-sama sibuk bekerja. Yang satu pulang dalam keadaan lelah lalu memilih beristirahat tanpa tarawih. Yang lain juga lelah, tetapi tetap berwudu dan berdiri di hadapan Allah meski hanya beberapa rakaat dengan khusyuk. Di mata manusia mungkin sama, tetapi di sisi Allah nilainya bisa sangat berbeda.

Mudik pun bukan alasan untuk meninggalkan qiyam. Jika harus dalam perjalanan, tetaplah bertekad tidak “bolong” salat malam. Bisa di rumah orang tua, di masjid kampung, atau bahkan di kamar dengan rakaat yang lebih ringan namun penuh keikhlasan.

Sukses tarawih bukan diukur dari cepatnya imam atau panjangnya rakaat, tetapi dari kekhusyukan dan konsistensi. Dan tanda keberhasilannya adalah ketika setelah Ramadan, kita tetap menjaga salat malam walau hanya dua rakaat sebelum tidur.

Iklan Landscape UM SURABAYA

3. Sukses Tilawah Al-Qur’an: Dekat dan Cinta pada Kalamullah

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Sangat dianjurkan untuk khatam minimal satu kali. Jika lebih dari itu, tentu lebih baik lagi. Namun membaca saja belum cukup.

Bayangkan seorang mahasiswa yang setiap hari membaca satu juz dengan cepat demi mengejar target khatam. Ia berhasil menyelesaikan 30 juz.

Tetapi ia tidak memahami maknanya, tidak merenungkan pesannya, dan tidak mengamalkannya. Bandingkan dengan seseorang yang mungkin hanya membaca setengah juz sehari, namun perlahan, tartil, dan berusaha memahami arti setiap ayat. Ayat-ayat itu mengubah cara berpikir dan bersikapnya.

Sukses tilawah berarti:

  • Membaca dengan tartil, tidak tergesa-gesa.
  • Merenungi makna ayat.
  • Mengamalkan pesan yang dibaca.
  • Meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an setelah Ramadan.

Seorang ayah yang mulai membiasakan membaca Al-Qur’an bersama anak-anaknya selepas Maghrib. Seorang remaja yang mengganti sebagian waktu scrolling media sosial dengan tilawah. Seorang pemimpin yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai dasar kebijakan dan keputusan.

Jika setelah Ramadan kita semakin akrab dengan Al-Qur’an, itulah tanda sukses yang sesungguhnya.

4. Sukses Sedekah: Hati yang Lapang dan Peduli

Di bulan Ramadan, sedekah bisa berupa banyak hal: berbagi takjil, memberikan bingkisan atau baju lebaran, membantu biaya sekolah anak yatim, atau sekadar mentraktir makan teman yang kekurangan.

Ada kisah sederhana: seorang pegawai dengan gaji pas-pasan tetap menyisihkan sebagian kecil rezekinya untuk membeli nasi bungkus dan membagikannya menjelang berbuka. Nominalnya mungkin tak seberapa, tetapi keikhlasan dan konsistensinya menjadikannya besar di sisi Allah.

Sedekah bukan soal jumlah, tetapi soal hati. Rasulullah dikenal sangat dermawan, dan kedermawanannya semakin bertambah di bulan Ramadan. Artinya, Ramadan adalah momentum melatih empati dan kepedulian sosial.

Sukses sedekah bukan hanya ketika kita banyak memberi di bulan Ramadan, tetapi ketika kebiasaan memberi itu berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Ketika hati kita terasa “sempit” jika tidak berbagi. Ketika kita lebih peka melihat kesulitan orang lain.

Ramadan yang Membentuk, Bukan Sekadar Lewat

Pada akhirnya, ukuran sukses Ramadan bukan pada euforia Idulfitri, bukan pada baju baru, bukan pula pada ucapan selamat yang berseliweran. Ukurannya adalah perubahan diri.

Jika setelah Ramadan:

  • Salat kita lebih terjaga,
  • Lisan kita lebih santun,
  • Waktu kita lebih teratur,
  • Hati kita lebih lembut,
  • Dan tangan kita lebih ringan untuk berbagi,
  • Maka insya Allah kita termasuk orang-orang yang sukses.

Ramadan adalah madrasah. Ia datang setiap tahun untuk mendidik. Pertanyaannya, apakah kita lulus dengan nilai yang lebih baik dari tahun lalu? Ataukah kita hanya sekadar hadir tanpa perubahan?

Semoga Ramadan tahun ini benar-benar membekas—bukan hanya di kalender, tetapi di karakter dan kehidupan kita sehari-hari. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu