Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sumaryono, Si Tukang Stempel yang Menjadi Legenda Muhammadiyah Barat

Iklan Landscape Smamda
Sumaryono, Si Tukang Stempel yang Menjadi Legenda Muhammadiyah Barat
Sumaryono (kiri) dalam agenda Darul Arqam Pemuda Muhammadiyah Magetan tahun 1987. Foto: Samsul Hidayat/PWMU.CO

Di sebuah lapak sederhana di tepi jalan kawasan Tebon, Kecamatan Barat, Magetan, suara mesin pembuat stempel nyaris tak pernah berhenti. Di balik meja kecil yang dipenuhi karet, tinta, dan lembaran akrilik itu, duduk seorang lelaki yang wajahnya begitu akrab bagi warga Muhammadiyah. Namanya Sumaryono.

Bagi sebagian orang, dia hanyalah seorang tukang stempel. Namun bagi kader Muhammadiyah di Barat, Sumaryono adalah simbol pengabdian. Namanya telah menjelma menjadi legend. Bukan karena jabatan yang tinggi atau harta yang melimpah, melainkan karena kesetiaan yang tak pernah surut untuk Persyarikatan.

Pria kelahiran Indramayu, Jawa Barat, itu menginjakkan kaki di wilayah Barat—yang dahulu dikenal sebagai Karangmojo—pada 1986. Tahun itu menjadi awal perjalanan panjangnya bersama Muhammadiyah.

Sejak muda ia aktif di Pemuda Muhammadiyah, tepat pada masa kepemimpinan Poeryono (1986–1990). Hampir tidak ada agenda kepemudaan yang dilewatkan. Di mana ada kegiatan Muhammadiyah, di situ hampir pasti ada Sumaryono.

Begitu lekatnya keterlibatannya, hingga ketika usia tak lagi muda, orang-orang masih akrab menyapanya sebagai “kader Pemuda Muhammadiyah”. Sebuah sebutan yang bukan sekadar label, tetapi pengakuan atas semangat mudanya yang tak pernah benar-benar menua.

Kehidupan Sumaryono jauh dari gemerlap. Ia mencari nafkah sebagai pemilik usaha “Stempel Mas”, sebuah jasa pembuatan stempel yang telah lama dikenal masyarakat.

Dari lapak kecil itu ia melayani berbagai kebutuhan, mulai pembuatan stempel berbagai ukuran, pelat nomor kendaraan, spanduk, banner, stiker, brosur, hingga sablon.

Profesi itu dijalaninya dengan tekun. Namun baginya, mencari nafkah bukanlah satu-satunya pengabdian. Di sela kesibukan melayani pelanggan, ia masih menyempatkan diri mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Muhammadiyah Barat.

Siang hari tangannya bekerja membuat stempel, malam harinya bibirnya menuntun anak-anak melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kesederhanaan hidupnya tidak pernah membatasi cita-citanya sebagai seorang ayah.

Dengan penghasilan yang tidak selalu besar, Sumaryono bertekad menyekolahkan putrinya hingga perguruan tinggi. Pilihannya pun bukan jurusan yang murah.

Putrinya diterima di Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), salah satu program studi yang membutuhkan biaya pendidikan cukup besar.

Banyak orang mungkin menganggap mimpi itu terlalu tinggi bagi seorang tukang stempel. Namun Sumaryono membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah.

Dari hasil usahanya yang sederhana, ia mampu mengantarkan sang putri meraih gelar Sarjana Farmasi.

Kisah itu menjadi pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari profesinya, melainkan dari keteguhan hati dalam memperjuangkan keluarga dan masa depan anak-anaknya.

SMPM 5 Pucang SBY

Bagi penulis dan banyak kader Muhammadiyah lainnya, Sumaryono adalah sosok yang nyaris tak pernah mengatakan tidak ketika diminta membantu Persyarikatan. Selama kondisi kesehatannya memungkinkan dan waktunya tersedia, jawabannya selalu sama.

“Iya, siap.”

Sumaryono, Si Tukang Stempel yang Menjadi Legenda Muhammadiyah Barat
Penulis saat besuk Sumaryono yang dirawat di rumah sakit, 26 September 2024. Foto: Samsul Hidayat/PWMU.CO

Dua kata sederhana itu menjadi ciri khasnya. Kalimat yang lahir bukan karena ingin dipuji, melainkan karena ia benar-benar meyakini bahwa berkhidmat di Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah.

Loyalitasnya membuat setiap gagasan, masukan, dan pandangannya selalu diperhitungkan dalam setiap musyawarah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Barat. Ia bukan tipe yang banyak bicara, tetapi ketika menyampaikan pendapat, suaranya selalu didengar.

Pada periode 2015–2022, Sumaryono dipercaya menjadi anggota PCM Barat dengan amanah sebagai Koordinator Bidang Tarjih dan Tajdid. Amanah itu dijalankannya sebagaimana ia menjalani hidup: tenang, tulus, dan penuh tanggung jawab.

Tidak ada panggung yang dikejarnya. Tidak ada penghargaan yang diharapkannya. Ia hanya ingin Muhammadiyah terus bergerak dan memberi manfaat bagi umat.

Kamis malam, 7 November 2024, pukul 23.00 WIB, kabar duka itu datang. Sumaryono mengembuskan napas terakhir di RS Efram Lanud Iswahjudi setelah menjalani perawatan karena sakit.

Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah Barat. Sosok yang selama puluhan tahun selalu hadir di setiap denyut kegiatan Persyarikatan itu kini telah berpulang menghadap Sang Pemilik Hidup.

Memang, setiap orang bisa digantikan dalam jabatan. Namun tidak semua orang mudah tergantikan dalam ketulusan, loyalitas, dan totalitas pengabdiannya.

Sumaryono telah menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari mimbar besar. Ia bisa lahir dari sebuah lapak stempel di pinggir jalan, dari ruang TPQ yang sederhana, dari ayah yang bekerja keras demi pendidikan anaknya, dan dari seorang kader yang setiap kali dipanggil untuk berjuang selalu menjawab dengan penuh keyakinan:

“Iya, siap.”

Itulah warisan terbesar Sumaryono. Bukan sekadar stempel yang pernah ia buat, melainkan jejak keteladanan yang tercetak kuat di hati orang-orang yang mengenalnya. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu