Muhammadiyah terkenal sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia dan memiliki peran signifikan dalam dunia pendidikan nasional.
Organisasi ini telah sukses mendirikan ribuan lembaga pendidikan di berbagai tingkatan, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
Dalam upaya mengembangkan sistem pendidikan, Muhammadiyah berkolaborasi nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern.
Selain itu, organisasi ini juga fokus menyediakan akses pendidikan yang luas dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Inilah yang menjadikan peran Muhammadiyah begitu menonjol dalam kancah pendidikan nasional.
Muhammadiyah memang dikenal luas akan kemajuan dan kemegahan amal usahanya, terutama di bidang pendidikan.
Ada yang timpang
Namun, potret berbeda terjadi di sebuah perguruan Muhammadiyah yang terletak di suatu wilayah yang terkenal dengan kemajuan industrinya.
Meskipun berada di lokasi strategis dan menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA dalam satu atap, terjadi ketimpangan yang ironis.
Di satu sisi, ada Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengalami perkembangan pesat hingga overcapacity, bahkan harus menggunakan sebagian ruang milik sekolah menengah.
Namun, sebaliknya, sekolah menengah justru menghadapi penurunan jumlah siswa yang drastis, mengakibatkan hilangnya sebagian guru.
Fenomena ini, yang serupa dengan konsep survival of the fittest, menunjukkan kesenjangan nyata: lembaga yang lebih besar tumbuh semakin besar, sementara yang kecil kian terpuruk.
Dampaknya, beberapa guru di sekolah menengah harus rela menerima gaji secara tidak memadai.
Berbagai strategi telah dicobakan pihak sekolah agar mampu memenuhi persyaratan jumlah minimal siswa di Dapodik. Tujuannya agar lembaganya terselamatkan dan tidak ditutup.
Berdasar Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 071/H/M/2024 ditegaskan bahwa jumlah minimal siswa di setiap rombongan belajar (rombel) untuk SMP 32 siswa dan untuk SMA 36 siswa.
Ironisnya, jumlah siswa per rombongan belajar (rombel) di jenjang SMP tersebut masih di bawah batas minimal, dengan hanya 21 siswa.
Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari meniru program-program yang berhasil di SD untuk menarik minat calon siswa hingga menjalin kerja sama dengan pesantren yang belum memiliki sekolah formal.
Namun, hasilnya belum maksimal. Buktinya, dari SD yang berada satu atap, hanya tiga siswa yang melanjutkan ke jenjang SMP ini.
Kondisi di jenjang SMA bahkan lebih memprihatinkan. Jumlah siswa jauh di bawah batas minimal per rombel.
Pada tahun 2024, dari 24 siswa, 17 diantaranya jarang hadir di sekolah dan tidak melakukan pembayaran iuran; mereka hanya datang saat penilaian akhir.
Situasi serupa terjadi pada tahun 2025; dari 31 siswa, hanya delapan yang aktif bersekolah, dan hanya empat yang tertib membayar administrasi.
Sisanya tercatat gratis, seolah-olah hanya menumpang nama untuk mendapatkan ijazah.
Akibat keterpurukan ini, sekolah mengalami penurunan finansial yang signifikan.
Kondisi ini menarik perhatian Dinas Pendidikan yang mengirimkan surat sebagai peringatan. Meski begitu, serangkaian upaya pembenahan, termasuk pergantian kepemimpinan dan manajemen, belum membuahkan hasil.
Strategi penguatan finansial melalui donasi, perbaikan program, peningkatan kualitas SDM, renovasi gedung, hingga strategi penerimaan siswa baru secara door-to-door semuanya menemui jalan buntu.
Pertanyaan mendasar muncul: mengapa berbagai upaya yang telah dilakukan belum membuahkan perubahan signifikan, dimana lembaga yang besar terus berkembang, sementara yang kecil semakin terpuruk?
Fenomena ini ironis, mengingat semua lembaga pendidikan Muhammadiyah ini berada di bawah satu atap dalam satu kompleks.
Kesenjangan yang mencolok ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai sinergi, baik dari segi finansial maupun program.
Terlebih lagi, perguruan ini berdiri di tengah ibu kota kabupaten yang padat aktivitas, sehingga ketiadaan sinergi dan ego sektoral antar lembaga menjadi sangat disayangkan.
Perlunya sinergitas
Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah program bersama yang menciptakan pendidikan berjenjang dan berkelanjutan.
Tujuannya agar siswa tidak berhenti atau pindah ke luar perguruan Muhammadiyah.
Harapannya, siswa dari PAUD dapat melanjutkan ke SD, dari SD ke SMP, dan dari SMP ke SMA yang berada dalam kompleks yang sama.
Sinergi antar lembaga sangat diperlukan, seperti menerapkan subsidi silang keuangan, di mana lembaga yang mapan dapat membantu lembaga yang masih kekurangan.
Selain itu, perlunya sistem penerimaan siswa baru (PSMB) yang terintegrasi dan berjenjang dari PAUD hingga SMA, serta manajemen pengelolaan pendidikan yang terpadu, baik dari segi sistem maupun program.
Pemerataan sumber daya manusia (SDM) juga harus menjadi prioritas.
Tidak kalah penting, sinergi yang kuat antara setiap lembaga dan pimpinan majelis pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen)—baik pimpinan di tingkat cabang maupun daerah—merupakan kunci utama.
Kesuksesan sebuah lembaga tidak bisa lepas dari peran aktif pimpinan yayasan.
Begitu pula sebaliknya, pimpinan persyarikatan maupun majelis tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan penuh dari lembaga-lembaga di bawahnya.
Sinergi ini harus berlandaskan pada visi dan tujuan yang sama untuk menciptakan kolaborasi yang solid.
Tujuannya adalah menghilangkan istilah survival of the fittest, memastikan jumlah siswa, khususnya di SMP dan SMA, memenuhi kuota rombongan belajar (rombel) minimal, serta menjamin kesejahteraan finansial dan materi bagi sekolah dan seluruh tenaga kependidikan.
Dengan demikian, perguruan ini dapat menciptakan sistem manajemen pendidikan yang terpadu dan berjenjang.***





0 Tanggapan
Empty Comments