Pada mulanya adalah kata, dan kata itu sempat tersesat di antara reruntuhan pilar-pilar Yunani dan hamparan padang pasir Arab yang sunyi.
Di Baghdad abad ke-9, pada sebuah sudut bercahaya yang dikenal sebagai Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), seorang pria bernama Hunayn ibn Ishaq berdiri di hadapan tumpukan naskah kuno.
Lembaran-lembaran itu berbau debu, waktu, dan rahasia-rahasia peradaban yang nyaris padam.
Hunayn bukanlah seorang jenderal yang menunggang kuda dengan pedang terhunus.
Namun, ia adalah seorang penyembuh ingatan kolektif manusia.
Sebagai seorang Kristen Nestorian yang fasih berbahasa Suryani, Yunani, dan Arab, ia menjalankan misi yang mustahil: menjahit kembali sobekan-sobekan pemikiran manusia yang terpisah oleh jurang bahasa dan agama.
Di dunia Barat, ia kelak dikenal sebagai Johannitius, sang perantara agung yang merawat logika Aristoteles di jantung kekhalifahan Islam masa Al-Ma’mun.
Diplomasi Tinta dan Emas
Sejarah mencatat sebuah pemandangan yang ganjil namun indah: Khalifah Al-Ma’mun, seorang penguasa yang gandrung pada kebenaran ilmu, bersedia menimbang tumpukan kertas terjemahan Hunayn dengan emas murni seberat naskah tersebut.
Namun, bagi Hunayn, emas hanyalah gangguan fisik bagi kemilau intelektual yang sedang ia gali.
Baginya, menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kata dari satu wadah ke wadah lain.
Menerjemahkan adalah sebuah “pengkhianatan yang suci”—mengambil esensi dari sebuah tradisi untuk menghidupkannya kembali dalam rahim kebudayaan yang berbeda.

Di atas meja kerja Hunayn, Mantiq (ilmu logika)—anak kandung rasionalitas Yunani—beralih rupa.
Ini adalah ilmu yang sepenuhnya “impor”, sebuah kado dari Aristoteles yang sebelumnya asing bagi lidah padang pasir.
Mantiq tidak datang membawa ayat atau wahyu; ia datang membawa struktur.
Ia adalah kerangka berpikir yang dingin, sebuah mesin logika yang tidak peduli pada sentimen atau fanatisme.
Menanam Benih Logika di Tanah Tauhid
Hunayn mengambil seluruh perkakas intelektual itu: Silogisme (pengambilan kesimpulan dari dua premis), Definisi, dan Kategori.
Ia memboyongnya ke dalam ruang-ruang diskusi teologi, menjadikannya sebagai Ilmu Alat (instrumen) yang paling murni.
Tanpa kompromi, logika Yunani ini dicangkokkan ke dalam nalar Islam, memaksa para pendebat untuk tidak lagi sekadar melempar klaim emosional, melainkan membangun jembatan rasional antara Premis (pernyataan dasar) dan Natijah (kesimpulan).
Di tangan Hunayn, Mantiq bukan lagi milik eksklusif Athena; ia menjadi timbangan universal bagi siapa saja yang hendak bicara tentang Tuhan dan semesta dengan akal yang tertib.
Namun, Hunayn melakukan kurasi yang gelisah.
Saat ia membedah teks Galen tentang anatomi tubuh atau Plato tentang tatanan negara, ia tidak menelan mentah-mentah mitologi dewa-dewa yang bersemayam di dalamnya.
Di tangannya, logika Yunani yang dingin itu disaring, dibasuh, lalu dipakaikan jubah tauhid. Ia membuang mitosnya, namun menyelamatkan rasionya.
Warisan yang Menetap di Bilik Santri
Dari ketekunan inilah lahir fondasi bagi apa yang kita kenal hari ini sebagai metodologi berpikir dalam Islam.
Terciptalah landasan bagi ‘Ilmu Alat’; sebuah perangkat intelektual yang meliputi aspek Sharfiyyah, Nahwiyyah, hingga Balaghah, yang berfungsi sebagai pemandu utama dalam membedah teks-teks keagamaan.
Tanpa Hunayn, mungkin para ulama tidak akan pernah memiliki ketajaman argumentasi dalam Ushul Fiqh (metodologi hukum).
Tanpa kegigihannya memburu naskah hingga ke pelosok Byzantium, cara kita berdebat tentang hukum Tuhan mungkin akan kehilangan pisaunya yang paling presisi.
Di sinilah letak ironi sejarah yang sering kita lupakan.
Seringkali kita mengagungkan “kemurnian” pemikiran, tanpa menyadari bahwa apa yang kita anggap murni hari ini adalah hasil dari “persetubuhan” pemikiran yang riuh di masa lalu.
Islam yang kita kenal dalam kitab-kitab kuning di pesantren, yang dengan rapi membedakan antara Jauhar (substansi) dan Aradh (aksidensi/sifat), adalah warisan dari tangan-tangan lintas iman seperti Hunayn.
Ia membuktikan sebuah kebenaran universal: bahwa ilmu pengetahuan tidak memiliki paspor.
Kebenaran bisa lahir di Athena, singgah dan tumbuh besar di Baghdad, hingga akhirnya menetap di bilik-bilik santri di Jawa atau Sumatra.
Narasi Hunayn ibn Ishaq adalah tamparan bagi eksklusivisme.
Ia mengingatkan kita bahwa peradaban yang besar bukanlah peradaban yang menutup pintu karena takut tercemar.
Peradaban yang besar adalah peradaban yang berani membuka jendela, membiarkan angin asing masuk, namun memiliki “penyaring” yang kuat di dalam dadanya.
Akhir Kata: Hikmah yang Kembali
Pada akhirnya, Hunayn mengajarkan bahwa kebenaran adalah seperti hikmah yang hilang: ia adalah milik siapa saja yang menemukannya, tanpa peduli bahasa apa yang digunakan dalam doa-doa sunyi mereka.
Melalui ketajaman penanya, ia mengubah dunia yang terfragmentasi menjadi satu kesatuan akal budi.
Di balik setiap argumen logis yang kita susun hari ini, ada gema suara dari Baghdad abad ke-9, di mana seorang penerjemah percaya bahwa memahami pikiran “yang lain” adalah jalan terpendek untuk memahami kebenaran Tuhan.***





0 Tanggapan
Empty Comments