Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Setara Gender: Martabat Sama, Peran Bijak dalam Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Setara Gender: Martabat Sama, Peran Bijak dalam Kehidupan
Prof. Didin Fatihudin. Foto: Dok/Pri
Oleh : Prof. Dr. Didin Fatihudin, SE, M.Si, CIRR Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Manajemen Keuangan Umsura

Tokoh emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini, telah meletakkan fondasi penting dalam perjuangan kesetaraan gender di negeri ini. Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari kelahirannya sebagai momentum kebangkitan perempuan pribumi.

Ungkapan legendarisnya, “Habis gelap terbitlah terang”, menjadi simbol harapan akan perubahan menuju kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

Jika ditelaah lebih dalam, semangat Kartini tersebut selaras dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya” (QS. Al-Baqarah: 257). Ayat ini mengandung pesan universal tentang pembebasan dari keterbelakangan menuju pencerahan, termasuk dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan Martabat, Bukan Kesamaan Fisik

Kesetaraan gender sejatinya bukan berarti menyamakan segala hal antara laki-laki dan perempuan. Secara fitrah dan biologis, keduanya memang memiliki perbedaan yang tidak bisa diingkari.

Perempuan memiliki kemampuan mengandung dan melahirkan, sementara laki-laki tidak. Sebaliknya, laki-laki memiliki ciri fisik tertentu yang tidak dimiliki perempuan. Perbedaan ini adalah bagian dari kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Namun, dalam hal martabat dan nilai kemanusiaan, laki-laki dan perempuan adalah setara. Inilah esensi perjuangan Kartini: perempuan tidak lagi dipandang sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang memiliki hak, peran, dan kontribusi dalam kehidupan sosial.

Pada masa Kartini, perempuan berada dalam keterbatasan akses pendidikan dan ruang publik. Namun, seiring perkembangan zaman—dari era kolonial, manual, hingga digital—peran perempuan mengalami transformasi signifikan.

Kini, perempuan Indonesia telah hadir di berbagai lini strategis: menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, rektor, direktur perusahaan, hingga pemimpin lembaga pendidikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Kesetaraan bukan lagi wacana, tetapi telah menjadi realitas yang terus berkembang.

Perspektif Islam tentang Kesetaraan

Islam sejak 1.500 tahun yang lalu telah menegaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 35 disebutkan bahwa Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi laki-laki dan perempuan yang beriman, taat, sabar, jujur, bersedekah, berpuasa, menjaga kehormatan, dan banyak berzikir.

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah jenis kelamin, melainkan ketakwaan. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk meraih derajat tinggi di hadapan-Nya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Meski memiliki peluang yang sama di ruang publik, penting untuk memahami bahwa peran di kantor tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan peran di rumah.

Seorang perempuan bisa saja menjadi pemimpin di tempat kerja, namun ketika di rumah, ia tetap memiliki peran sebagai istri dan ibu.

Di sinilah diperlukan kebijaksanaan dalam menyeimbangkan peran. Kesuksesan di dunia kerja tidak selalu menjamin keharmonisan rumah tangga, begitu pula sebaliknya. Idealnya, keduanya bisa berjalan beriringan.

Perempuan masa kini memiliki potensi luar biasa untuk meraih keduanya. Dengan manajemen waktu, komunikasi yang baik, serta dukungan keluarga, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.

Saling Menghargai dalam Perbedaan

Laki-laki dan perempuan harus saling memahami dan menghargai peran masing-masing. Kesadaran akan tanggung jawab dan amanah yang diberikan oleh Tuhan menjadi kunci dalam membangun hubungan yang harmonis, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Perempuan yang berperan di rumah tetap memiliki nilai mulia, begitu pula perempuan yang aktif di ruang publik. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.
Penutup

Perjuangan kesetaraan gender bukanlah tentang siapa yang lebih unggul, melainkan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan dapat berjalan berdampingan dengan saling menghormati dan mendukung.

Semangat Kartini harus terus hidup, tidak hanya dalam seremoni tahunan, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Semoga perempuan Indonesia terus menjadi sosok yang kuat, cerdas, dan penuh kasih. Sehat, sukses, dan bahagia selalu untuk para ibu dan perempuan di mana pun berada.

Wallahu a’lam bishawab. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 25/04/2026 03:10
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡