Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Aku Harus Jadi Apa?”: Fenomena Quarter Life Crisis dalam Pencarian Jati Diri Generasi Muda

Iklan Landscape Smamda
Aku Harus Jadi Apa?”: Fenomena Quarter Life Crisis dalam Pencarian Jati Diri Generasi Muda
Oleh : Azwin Faradina Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan

Memasuki usia dewasa awal, banyak anak muda mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan dalam hidupnya. Pertanyaan seperti “aku harus jadi apa?”, “masa depanku mau dibawa ke mana?”, atau “kenapa hidup orang lain terlihat lebih jelas arahnya?” kerap muncul tanpa disadari.

Pada fase inilah banyak generasi muda mengalami kondisi yang dikenal sebagai quarter life crisis, yaitu masa penuh kebingungan, kecemasan, dan tekanan saat berusaha menemukan jati diri.

Quarter life crisis merupakan kondisi ketika seseorang merasa belum memiliki gambaran yang jelas mengenai jati diri, tujuan hidup, maupun arah masa depan. Perasaan ini sering kali disertai dengan kecemasan berlebih, rasa pesimis, tekanan emosional, bahkan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Fase emerging adulthood atau lebih familiar dengan sebutan quarter life crisis terjadi pada usia 18 hingga 30 tahun dan ditandai dengan kecemasan mengenai tanggung jawab masa depan sebagai orang dewasa” (Arnett, 2000).

Pada fase ini, individu tidak hanya dituntut untuk menentukan arah hidup, tetapi juga membangun hubungan sosial yang bermakna.

Fenomena quarter life crisis tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah tekanan, baik dari diri sendiri maupun lingkungan sosial, untuk mencapai kesuksesan di usia muda. Ekspektasi yang tinggi ini sering kali membuat individu merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain, terutama melalui media sosial.

Selain itu, ketidakpastian dalam menentukan karier, kondisi ekonomi yang belum stabil, serta kurangnya dukungan sosial turut memperparah kondisi tersebut. Akibatnya, banyak generasi muda mengalami kekhawatiran terkait masa depan, seperti kelanjutan pendidikan, pekerjaan, hubungan percintaan, hingga kondisi finansial.

Kekhawatiran yang terus-menerus ini dapat memunculkan berbagai dampak negatif, baik secara emosional maupun sosial. Individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain, merasa tidak cukup baik, ragu dalam mengambil keputusan, serta tidak puas terhadap kondisi yang dimiliki.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kepercayaan diri, memicu stres dan kecemasan, bahkan berpotensi mengarah pada gangguan kesehatan mental seperti depresi. Selain itu, quarter life crisis juga dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial dan menghambat individu dalam menentukan arah karier yang jelas.

Meski demikian, quarter life crisis bukanlah kondisi yang sepenuhnya negatif. Fenomena ini justru dapat menjadi titik awal bagi individu untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan membentuk identitas yang lebih matang.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melalui pemahaman konsep Kawruh Jiwa yang dikemukakan oleh Ki Ageng Suryomentaram. Konsep ini menekankan pentingnya memahami “rasa” serta mengelola keinginan (karep) dalam diri.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Keinginan yang tidak terkendali dapat berkembang (mulur) atau menyusut (mungkret), dan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan kecemasan serta penderitaan. Oleh karena itu, individu perlu belajar mengendalikan keinginan agar tidak terjebak dalam perasaan negatif yang berlarut-larut.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kesadaran diri melalui introspeksi, memahami potensi serta keterbatasan diri, dan menyusun tujuan hidup yang lebih realistis. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan juga memiliki peran penting dalam membantu individu melewati fase ini.

Selain itu, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial, serta membangun pola pikir yang lebih positif terhadap kegagalan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Dengan pendekatan yang holistik—baik dari aspek psikologis, sosial, maupun spiritual—individu diharapkan mampu menghadapi quarter life crisis dengan lebih bijak.

Pada akhirnya, quarter life crisis merupakan bagian dari perjalanan hidup generasi muda dalam mencari jati diri. Meski sering menimbulkan kebingungan dan tekanan, fase ini juga membuka peluang untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih matang dan bermakna.

 


Referensi

Universitas Gadjah Mada. (2023). Tim Mahasiswa UGM Teliti Fenomena Quarter Life Crisis yang Melanda Anak Muda
https://ugm.ac.id/id/

Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. (2024). Fenomena Quarter Life Crisis pada Generasi Z. Jurnal Kesehatan Tambusai.
https://journal.universitaspahlawan.ac.id/

Revisi Oleh:
  • Satria - 24/04/2026 20:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡