Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Syawalan dan Teman Sejati: Menyulam Ukhuwah dari Dunia Menuju Akhirat

Iklan Landscape Smamda
Syawalan dan Teman Sejati: Menyulam Ukhuwah dari Dunia Menuju Akhirat
Oleh : Prof Triyo Supriyatno Wakil Ketua Pimpinan Daerah Kota Malang

Syawalan adalah salah satu tradisi khas umat Islam di Indonesia yang hadir setelah Idulfitri sebagai ruang silaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat ukhuwah. Dalam kultur Muhammadiyah, Syawalan tidak hanya dipahami sebagai tradisi sosial, tetapi juga sebagai momentum dakwah—sebuah ruang tabligh untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang mencerahkan dan membebaskan. Di sinilah pentingnya merefleksikan kembali makna persahabatan: siapa sesungguhnya teman sejati kita, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Allah ﷻ memberikan peringatan yang sangat mendalam dalam QS. Az-Zukhruf 43:67:
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tidak semua relasi yang kita bangun di dunia akan berbuah kebaikan di akhirat. Bahkan, sebagian justru akan berubah menjadi permusuhan. Hanya persahabatan yang dilandasi ketakwaan yang akan bertahan dan menjadi sumber kebahagiaan abadi. Dalam konteks Syawalan, ayat ini mengajak kita untuk tidak sekadar memperbaiki hubungan secara lahiriah, tetapi juga menata ulang orientasi persahabatan kita agar berlandaskan nilai-nilai ilahiah.

Dalam perspektif tabligh Muhammadiyah, sebagaimana diwariskan oleh Ahmad Dahlan, relasi sosial tidak pernah netral. Ia selalu memiliki dimensi nilai. Persahabatan bukan sekadar kedekatan emosional, tetapi juga bagian dari gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Karena itu, Syawalan harus dimaknai sebagai momentum tajdid al-‘alaqah, yaitu pembaruan relasi menuju kualitas yang lebih islami, lebih berkemajuan, dan lebih berorientasi akhirat.

Selama ini, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak persahabatan dibangun atas dasar kepentingan duniawi: kesamaan profesi, kesenangan, bahkan kepentingan pragmatis. Dalam ruang-ruang sosial, kita sering merasa nyaman dengan teman yang “sefrekuensi”, meskipun frekuensi itu tidak selalu selaras dengan nilai-nilai kebenaran. Teman yang mengajak lalai, yang membenarkan kesalahan, atau yang menormalisasi kemaksiatan sering kali terasa lebih menyenangkan dibandingkan teman yang mengingatkan.

Padahal, menurut penjelasan Ibnu Kathir, semua persahabatan yang tidak didasarkan karena Allah akan berubah menjadi permusuhan di hari kiamat. Hal ini terjadi karena pada saat itu setiap orang menyadari bahwa relasi tersebut justru menjadi sebab kesesatan dan kerugiannya. Yang dahulu saling mendukung, kini saling menyalahkan. Yang dahulu saling mencintai, kini saling melaknat.

Al-Qur’an juga menegaskan hal serupa dalam QS. Al-Ankabut 29:25, bahwa kecintaan yang dibangun selain karena Allah hanya bersifat sementara di dunia, tetapi akan berujung pada saling mengingkari di akhirat. Ini adalah ironi besar dalam kehidupan manusia: kedekatan yang tampak indah di dunia bisa berubah menjadi sumber penderitaan di akhirat.

Di sinilah Syawalan menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar ajang saling memaafkan, tetapi juga ruang refleksi mendalam: apakah teman-teman kita selama ini membawa kita lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan? Apakah kita sendiri telah menjadi teman yang menuntun, atau malah menjerumuskan?

Dalam manhaj tabligh Muhammadiyah, setiap individu adalah subjek dakwah. Artinya, setiap relasi—termasuk persahabatan—harus memiliki dimensi dakwah. Teman sejati bukan hanya yang hadir dalam suka dan duka, tetapi yang:

  • Mengajak kepada kebaikan;
  • Mencegah dari kemungkaran;
  • Menguatkan dalam iman dan amal saleh.

Persahabatan seperti ini dapat disebut sebagai ukhuwah tablighiyah, yaitu persaudaraan yang saling meneguhkan dalam jalan dakwah. Dalam ukhuwah ini, setiap pertemuan menjadi ruang belajar, setiap percakapan menjadi nasihat, dan setiap kebersamaan menjadi energi untuk berbuat kebaikan.

Kisah yang diriwayatkan dalam tafsir memberikan gambaran yang sangat indah tentang persahabatan karena Allah. Dua sahabat mukmin yang saling mencintai karena iman tetap saling mengingat bahkan setelah wafat. Mereka saling mendoakan dan akhirnya dipertemukan kembali dalam kemuliaan. Ini menunjukkan bahwa persahabatan yang dibangun atas dasar ketakwaan tidak terputus oleh kematian, tetapi justru berlanjut hingga akhirat sebagai relasi yang diridhai Allah.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sebaliknya, persahabatan yang dibangun atas dasar keburukan akan berakhir tragis. Dua orang yang saling mendukung dalam kemaksiatan akan saling menyalahkan dan mencaci di akhirat. Ini adalah gambaran nyata bahwa tidak semua kebersamaan membawa kebaikan.

Dalam konteks kekinian, tantangan membangun persahabatan yang bernilai semakin besar. Di era digital, relasi sosial menjadi sangat luas tetapi sering kali dangkal. Kedekatan diukur dari intensitas interaksi, bukan dari kualitas nilai. Banyak orang memiliki ribuan “teman”, tetapi sedikit yang benar-benar menguatkan iman.

Oleh karena itu, Syawalan harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan seleksi dan penguatan relasi. Bukan berarti kita harus menjauh dari semua orang, tetapi kita perlu cerdas dalam menentukan kedekatan. Kita perlu memastikan bahwa lingkaran pergaulan kita adalah lingkungan yang sehat secara spiritual.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan memiliki tanggung jawab untuk membangun komunitas yang tidak hanya kuat secara intelektual dan sosial, tetapi juga kokoh secara spiritual. Dalam komunitas seperti ini, persahabatan menjadi sarana transformasi, bukan sekadar interaksi.

Syawalan harus menjadi titik awal dari komitmen baru: menjadikan persahabatan sebagai jalan menuju ridha Allah. Ia tidak boleh berhenti sebagai tradisi tahunan yang bersifat seremonial, tetapi harus menjadi energi berkelanjutan dalam membangun ukhuwah yang bermakna.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju akhirat. Dalam perjalanan itu, kita membutuhkan teman. Namun, tidak semua teman layak kita bawa hingga ke tujuan akhir. Hanya mereka yang bertakwa, yang saling mengingatkan dalam kebaikan, yang akan tetap bersama kita dalam kebahagiaan abadi.

Syawalan mengajarkan kita untuk tidak hanya berkata “mohon maaf lahir dan batin”, tetapi juga untuk bertanya: apakah hubungan ini akan menyelamatkan kita di akhirat? Jika jawabannya belum, maka di situlah kita harus memulai perubahan.

Karena pada hari ketika semua hubungan diuji, kita tidak lagi bertanya siapa yang paling dekat dengan kita di dunia, tetapi siapa yang paling tulus menuntun kita menuju surga. Dan itulah teman sejati—teman yang tidak hanya menemani hidup kita hari ini, tetapi juga mengantarkan kita menuju keabadian.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡