Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penurut vs Pembangkang, Ini Rahasia Pola Asuh Anak yang Jarang Disadari

Iklan Landscape Smamda
Penurut vs Pembangkang, Ini Rahasia Pola Asuh Anak yang Jarang Disadari
Penurut vs Pembangkang, Ini Rahasia Pola Asuh Anak yang Jarang Disadari
Oleh : Imam Sapari Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya dan Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya

Banyak orang tua sering bertanya-tanya, “Kenapa anak tetangga terlihat mudah diarahkan, sementara anak saya kalau dinasihati satu kalimat, jawabnya bisa sepuluh kalimat?”

Fenomena anak “pembangkang” versus “penurut” kini menjadi kegelisahan banyak orang tua, terutama di era modern ketika anak tumbuh dengan akses informasi luas dan pola pikir yang semakin kritis.

Namun, benarkah ada anak yang memang dilahirkan untuk membangkang? Jawabannya: tidak. Rahasia utamanya bukan pada sifat bawaan anak, melainkan pada pola interaksi yang dibangun di rumah.

Mengapa Anak Melawan? (Penjelasan Ilmiah)

Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa kepatuhan jangka panjang tidak lahir dari rasa takut. Dalam Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, setiap manusia memiliki tiga kebutuhan dasar: otonomi, kompetensi, dan motivasi intrinsik.

Otonomi adalah kebutuhan untuk merasa memiliki kendali atas keputusan sendiri. Ketika orang tua terlalu mendikte tanpa memberi ruang dialog, anak akan merasa kebebasannya terancam. Dalam kondisi ini, perilaku “membangkang” sebenarnya adalah mekanisme alami untuk mempertahankan harga diri dan identitas.

Psikolog Diana Baumrind juga menegaskan bahwa anak yang paling kooperatif justru lahir dari pola asuh otoritatif, yaitu perpaduan antara disiplin yang tegas dan kehangatan yang tinggi. Pola ini terbukti mampu membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan berprestasi.

Panduan Strategis untuk Orang Tua

Berikut adalah “kunci” berbasis psikologi dan nilai spiritual untuk mengubah pola pembangkangan menjadi kerja sama:

Do’s (Rahasia Anak Penurut)

1. Koneksi dengan Kelembutan
Islam telah lama memberikan panduan ini dalam QS. Ali ‘Imran: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

2. Menjelaskan “Mengapa”

Anak yang memahami alasan di balik aturan akan lebih mudah patuh dari dalam hati, bukan karena takut hukuman.

3. Libatkan Anak dalam Kesepakatan

Negosiasi bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk penghargaan. Saat anak dilibatkan, ia merasa memiliki tanggung jawab terhadap keputusan tersebut.

4. Keteladanan Nyata

Wibawa orang tua tidak lahir dari suara keras, melainkan dari konsistensi perilaku. Anak belajar lebih banyak dari apa yang dilihat, bukan yang didengar.

Don’ts (Pemicu Anak Membangkang)

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

1. Menjatuhkan Harga Diri (Public Shaming)

Menegur di depan umum atau mempermalukan anak hanya akan merusak hubungan emosional. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan apa yang tidak diberikan kepada selainnya.”
(HR. Imam Muslim No. 2593 kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab)

2. Ancaman Kosong

Ancaman yang tidak ditepati akan merusak kepercayaan anak terhadap orang tua.

3. Membandingkan Anak

Membandingkan anak dengan orang lain justru menurunkan motivasi dan meningkatkan rasa tidak percaya diri.

4. Hanya Hadir Saat Ada Masalah

Jika interaksi hanya berisi kritik, anak akan menutup diri secara emosional (emotional shutdown).

Kesimpulan: Titik Temu Sains dan Doa

Rahasia anak yang “penurut” bukan pada seberapa keras kita menekan mereka, tetapi seberapa besar mereka merasa dihargai sebagai manusia.

Psikologi modern dan ajaran Islam bertemu pada satu titik yang sama: kelembutan, kasih sayang, dan keteladanan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqan: 74:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa’.”

Kepatuhan yang tulus lahir ketika pola asuh berubah dari “menguasai” menjadi “mendampingi”. Di situlah anak akan tumbuh dengan hormat, bukan karena takut, tetapi karena cinta.

Revisi Oleh:
  • Satria - 28/03/2026 15:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡