Mengajar di kelas internasional (ICP) bukan sekadar soal menggunakan bahasa Inggris. Di balik itu, ada tantangan kompleks yang menuntut ketepatan strategi, ketangguhan, dan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran.
Kesadaran itulah yang mendorong SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya mengirim tiga guru terbaiknya—Rizki Handayani, S.Pd., Meilani Fara Atika, S.Pd., dan Ramadhana Al Fikri Bin Zahid, S.Pd., Gr.—untuk mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Cambridge Center ID110 di Savana Hotel & Convention pada (24–26/2026).
Selama tiga hari, para guru tidak hanya belajar teori, tetapi juga “dibongkar” cara pandangnya dalam mengelola kelas internasional. Pada sesi krusial, Dr. Siti Muniroh membuka mata peserta tentang realitas di lapangan.
“Dalam kelas ICP, guru tidak hanya mengajar materi. Guru juga harus memastikan siswa memahami bahasa pengantar. Ini tantangan besar,” tegasnya.
Ia memaparkan empat tantangan utama yang hampir dialami semua sekolah: perbedaan karakter siswa, kesenjangan kemampuan, integrasi kurikulum Cambridge dengan kurikulum nasional, serta tuntutan agar siswa memahami konten sekaligus bahasa.
Keputusan Guru di Kelas
Namun, menurutnya, kunci utama bukan pada kurikulum atau fasilitas melainkan pada keputusan guru di kelas.
“Classroom management itu dimulai dari keputusan guru. Bagaimana guru mengatur bahasa, interaksi, dan tugas,” jelasnya.
Pada aspek bahasa, guru harus berani mengambil sikap.
“Apakah full English atau kombinasi, itu harus dirancang sejak awal. Konsistensi sangat penting,” ujarnya.
Pada aspek interaksi, ia mengingatkan bahwa tidak boleh ada siswa yang “hilang” di dalam kelas.
“Semua siswa harus mengalami proses belajar. Tidak ada yang hanya duduk diam,” tegasnya.
Sedangkan pada aspek tugas, ia menekankan pentingnya keterkaitan dengan tujuan pembelajaran.
“Tugas bukan sekadar aktivitas. Harus jelas arah dan tujuannya,” tambahnya.
Suasana workshop pun semakin hidup ketika ia menjelaskan lima dimensi kelas ICP: space, presence, flow, vocabulary, dan climate. Ia mencontohkan bagaimana hal sederhana seperti posisi bangku, intonasi suara guru, hingga kontak mata bisa menentukan keberhasilan pembelajaran.
“Suasana kelas harus menyenangkan. Dari situlah kepercayaan diri siswa tumbuh,” katanya.
Tak hanya itu, guru juga dituntut sigap menghadapi situasi tak terduga.
“Kalau internet bermasalah, pembelajaran tidak boleh berhenti. Guru harus punya rencana cadangan,” ujarnya, disambut anggukan peserta.
Di penghujung sesi, satu kalimatnya terasa begitu menancap:
“Classroom management bukan tentang mengontrol siswa, tetapi merancang pengalaman belajar yang membuat mereka paham, aktif, dan percaya diri,” tuturnya.
Workshop ini menjadi titik refleksi bagi para guru SD Musix. Mengajar di kelas internasional ternyata bukan sekadar gengsi atau label, tetapi tentang kesiapan mental, strategi, dan komitmen untuk terus belajar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments