Dari Gresik menuju Kairo, Mesir. Kegagalan dalam seleksi perguruan tinggi negeri tidak menghentikan langkah Muhammad Abi Abdillah Rusdianto. Alumni SMA Muhammadiyah 8 Gresik tahun 2026 ini justru berhasil membuka jalan menuju Universitas Al-Azhar, salah satu pusat keilmuan Islam terkemuka di dunia, (4/10/2026).
Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan berjalan sesuai dengan rencana. Terkadang, jalan yang telah dipersiapkan justru tidak mengantarkan seseorang pada tujuan yang diharapkan. Namun, bukan berarti perjalanan harus berhenti.
Hal itulah yang tergambar dalam kisah Muhammad Abi Abdillah Rusdianto, alumni SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) tahun 2026, yang berhasil melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, setelah sebelumnya belum berhasil diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur seleksi nasional.
Bagi Abi, kegagalan tersebut bukan pengalaman yang mudah dilalui. Ada rasa sedih, kecewa, bahkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Apalagi ketika melihat teman-teman seperjuangannya telah mendapatkan kampus tujuan melalui jalur nasional. Situasi tersebut sempat membuat semangatnya menurun. Namun, perlahan ia menyadari bahwa satu kegagalan tidak lantas menentukan seluruh masa depannya.
“Pastinya ada rasa sedih, kecewa, dan sempat ragu dengan kemampuan diri sendiri. Melihat teman-teman lain sudah mendapatkan kampus tujuan lewat jalur nasional sempat membuat patah semangat. Namun, perlahan saya sadar bahwa kegagalan tersebut bukan akhir dari segalanya, melainkan petunjuk bahwa ada jalan lain yang lebih baik yang sudah disiapkan,” ungkap Abi.
Kesadaran itulah yang kemudian menjadi titik balik perjalanannya. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Abi memilih membuka diri terhadap kesempatan lain. Kesempatan untuk menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo menjadi jalan yang kemudian ia persiapkan dan perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Persiapan dan Perjuangan Menuju Al-Azhar
Perjalanan menuju Universitas Al-Azhar tentu tidak diperoleh secara instan. Ada proses seleksi yang harus dilalui oleh calon mahasiswa. Seleksi tahap pertama dilaksanakan di Indonesia melalui dua bentuk pengujian, yakni tes tertulis dan tes lisan.
Pada tes tertulis, peserta diuji kemampuan bahasa Arab. Sementara itu, tes lisan mencakup kemampuan berbicara bahasa Arab atau muhadatsah, hafalan Al-Qur’an sesuai ketentuan, serta wawasan keislaman. Tahapan tersebut menuntut kesiapan akademik sekaligus kemampuan keagamaan yang memadai.
Setelah dinyatakan diterima, perjalanan masih berlanjut melalui Tahdid Mustawa, yaitu tes untuk menentukan tingkat kemampuan bahasa Arab calon mahasiswa. Penentuan level ini menjadi bagian dari proses penjenjangan pembelajaran di Markaz Lughah sebelum mahasiswa memenuhi persyaratan untuk mengikuti perkuliahan.
Abi menjelaskan bahwa persiapan menghadapi tahapan tersebut dilakukan dengan mempelajari dan mempersiapkan materi yang akan diujikan.
Kesungguhan dalam mempersiapkan diri menjadi bekal penting untuk menghadapi setiap proses yang harus dilalui.
“Persiapannya dengan mempelajari dan mempersiapkan materi yang akan diujikan ketika mengikuti Tahdid Mustawa,” jelasnya.
25 Oktober 2026, Awal Perjalanan Menuju Negeri Para Ulama
Setelah melalui proses yang panjang, tibalah saat yang dinantikan. Abi mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan keberangkatan menuju Mesir. Tidak hanya kesiapan mental, berbagai barang pribadi dan perlengkapan untuk menunjang kehidupan selama berada di luar negeri juga harus dipersiapkan.
Pada Ahad, 25 Oktober 2026, Abi bertolak menuju Mesir. Sehari kemudian, Senin, 26 Oktober 2026, ia akhirnya tiba di Kairo. Perjalanan dari Gresik menuju Mesir tersebut menjadi penanda dimulainya babak baru dalam kehidupannya, sekaligus langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita di bidang keilmuan Islam.
Kesempatan menjadi bagian dari Universitas Al-Azhar disambut dengan rasa syukur dan kebanggaan. Lingkungan akademik yang kaya akan tradisi keilmuan Islam, perjumpaan dengan mahasiswa dari berbagai negara, serta atmosfer keilmuan di Kota Kairo menjadi pengalaman baru yang sangat berharga.
“Sangat bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari civitas akademika Universitas Al-Azhar Kairo. Semoga lingkungan belajar yang sarat akan ilmu agama, perjumpaan dengan mahasiswa seluruh dunia, serta atmosfer keilmuan di Kota Kairo dapat memberikan pengalaman yang berharga. Yang kelak dapat saya bawa dan bagikan ke tanah air,” tuturnya.
Kegagalan Bukan Akhir dari Sebuah Perjalanan
Tidak diterima di perguruan tinggi negeri melalui SNBP maupun SNBT bukan berarti kesempatan untuk meraih masa depan telah tertutup. Justru, keberanian untuk bangkit dan mencoba peluang lain dapat membuka kesempatan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Begitu juga pengalaman yang dirasakan oleh Abi. Bagi Abi, kesempatan ini merupakan amanah sekaligus pengalaman berharga untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan memperdalam ilmu keislaman
Abi pun menyampaikan pesan khusus kepada teman-teman seperjuangannya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
“Untuk teman-teman yang sedang berjuang, jangan pernah berkecil hati jika satu pintu kesempatan tertutup. Kegagalan di SNBP atau SNBT bisa jadi merupakan takdir indah yang mengarahkanmu ke tempat terbaik yang tidak pernah kamu duga sebelumnya. Tetap semangat, perbanyak doa, dan terus berusaha!” pesannya.
Muhammad Abi Abdillah Rusdianto menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi bagi keluarga besar Smamdela. Perjalanannya memperlihatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang capaian akademik, melainkan juga tentang pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, dan pemberian ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi dirinya.
Pengalaman tahfidz, menjadi imam, dan menyampaikan kultum yang diperoleh di sekolah menjadi bagian dari bekal perjalanan panjangnya. Dari ruang-ruang kegiatan keagamaan di Smamdela setiap pengalaman memiliki arti dalam membentuk langkah masa depannya.
Dari Gresik menuju Kairo. Dari kegagalan menuju kesempatan. Abi membuktikan bahwa satu pintu yang tertutup bukanlah akhir dari segalanya. Sebab, terkadang jalan terbaik justru ditemukan setelah seseorang berani bangkit, berdoa, dan melangkah dengan keyakinan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments