Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Takut Hanya kepada Allah, Berani Melawan Segala Kezaliman

Iklan Landscape Smamda
Takut Hanya kepada Allah, Berani Melawan Segala Kezaliman
foto: quranhost.com
pwmu.co -

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ

“Kami pasti akan menempatkanmu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (berlaku) bagi orang yang takut akan kebesaran-Ku dan takut akan ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim:14)

Orang yang takut terhadap kedudukan Allah maka dia tak akan sombong, tak akan congkak, tak akan zalim kepada manusia, dan tak akan berani berbuat kerusakan di muka bumi.

Selanjutnya takut akan ancaman Allah membuat orang tidak akan berani berbuat zalim. Dia akan selalu jujur dan bersikap adil, karena sadar betul bahwa kalaupun dia berkuasa di dunia dan dia bisa saja menzalimi siapapun yang lemah, tapi ada Allah yang maha membalas kezaliman itu.

Orang-orang zalim sekuat apapun mereka di dunia ini akan dimusnahkan oleh Allah. Kekuasaan akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dengan syarat mereka takut akan keberadaan Allah dengan segala keagungan kuasa-Nya dan takut pula akan ancaman Allah nanti di akhirat bila mereka bermaksiat kepada-Nya.

Korelasi kemenangan umat Islam dengan takut kepada Allah dan azab-Nya adalah karena kalau dia takut hanya kepada Allah maka dia tidak takut kepada makhluk.

Oleh karena itu, Bung Tomo di Surabaya membakar semangat pejuang kemerdekaan dengan pekikan Allahu Akbar, sehingga menjadi pejuang pemberani karena dia sadar akan kebesaran dan kekuasaan Allah yang Maha Mampu menghancurkan kekuasaan siapapun dan mengganti penguasa sekehendak-Nya.

Orang yang tidak takut dengan azab Allah cenderung akan meremehkan syariat, sehingga mudah berbuat maksiat, dan maksiat inilah salah satu penghalang kemenangan umat Islam.

Apakah orang-orang zalim itu takut pengadilan akhirat? Jawabnya tidak. Karena mereka telah merasa baik.

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَصْنَعُوْنَ

“Maka, apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya (oleh setan), lalu menganggap baik perbuatannya itu (sama dengan yang mendapat petunjuk)? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan pilihannya) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Maka, jangan engkau (Nabi Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap (sikap) mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir ayat 8)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mereka merasa baik karena perbuatan mereka dihiasi oleh setan sehingga terlihat baik dan benar di mata mereka. Makanya, mereka tidak merasa telah berbuat zalim, malah seakan telah membela kebenaran.

Itu karena mereka memperturutkan hawa nafsu dan tak menghiraukan batasan syariat, sebagaimana sindiran Allah dalam surah Muhammad ayat 14:

اَفَمَنْ كَانَ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّهٖ كَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَاتَّبَعُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ

“Apakah orang yang berpegang teguh pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang perbuatan buruknya dijadikan terasa indah baginya dan mengikuti hawa nafsunya?”

Makanya mereka hanya takut kalau uang mereka habis, kalau alat pemuas hawa nafsu mereka musnah, dan mereka akan melakukan apapun demi mempertahankan itu.

Ibnu Al-Qayyim dalam Syifa` Al-‘Alil, hal. 103 (terbitan Dar Al-Ma’rifah 1978) menjelaskan kenapa mereka bisa tenang dan sabar dengan kezalimannya:

وكلُ ظالمٍ وفاجرٍ وفاسقٍ لابد أن يريهُ اللهُ تعالى ظلمهُ وفجورهُ وفسقهُ قبيحاً ، فإذا تمادى عليه ارتفعت رؤيةُ قبحهِ من قلبهِ فربما رأهُ حسناً عقوبة له . فإنه إنما يكشفُ له عن قبحهِ بالنورِ الذي في قلبهِ وهو حجةُ اللهِ عليه ، فإذا تمادى في غيهِ وظلمهِ ذهب ذلك النورُ فلم يرَ قبحهُ في ظلماتِ الجهلِ والفسوقِ والظلمِ

“Semua orang zalim, fajir dan fasik pasti akan Allah tampakkan kepadanya kezaliman, kefajiran dan kefasikan itu sebagai sesuatu yg buruk. Tapi karena dia ini terus saja betah melakukannya maka pandangan buruk itu terangkat dari hatinya sehingga dia malah melihatnya sebagai sebuah kebaikan, dan itulah hukuman Allah buatnya.”

Keburukan itu hanya akan terbuka dengan cahaya Allah dalam hati yang nanti akan jadi hujjah Allah untuk menghukum dirinya. Kalau dia betah dalam kezaliman dan kesesatan maka cahaya itu pun akan sirna, sehingga keburukan itu tak terlihat dalam kegelapan kebodohan, dosa dan kezaliman. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu