Kegiatan Pengajian Akhir Ramadan yang diselenggarakan oleh SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik berlangsung pada Sabtu (14/3/2026) di halaman sekolah setempat. Kegiatan ini diikuti oleh guru dan karyawan dari sejumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah di wilayah Kecamatan Manyar sebagai bagian dari penutupan rangkaian program Ramadan 1447 H.
Pada hari ke-25 Ramadan tersebut, suasana pagi yang cerah menyambut kehadiran para ustaz dan ustazah. Guru dan karyawan SD-MI Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Manyar turut hadir, bersama guru dan karyawan dari Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Ranting Aisyiyah Perumahan Pongangan Indah. Di lokasi kegiatan, terpasang banner bertuliskan “Ramadan Ceria” yang menjadi tema kegiatan Ramadan di SDMM.
Sejak pukul 07.30 WIB, tamu dari empat sekolah, yaitu MI Muhammadiyah 1 Gumeno, MI Muhammadiyah 2 Karangrejo, TK Aisyiyah 36 PPI, dan KB Tunas Aisyiyah PPI, mulai berdatangan. Kehadiran mereka merupakan bagian dari tradisi tahunan untuk mengikuti Pengajian Akhir Ramadan sekaligus mempererat silaturahmi antaramal usaha pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Kegiatan ini menghadirkan Hasan Abidin, M.Pd.I., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, sebagai narasumber. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Dikdasmen PNF PCM Manyar Mukhtamil Pranoto, Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Ranting Muhammadiyah Perumahan Pongangan Indah Hon Jaelani, serta Bendahara Majelis Dikdasmen PNF Imam Mustakim.
Kepala SDMM, Athiq Amiliyah, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir. Ia juga memaparkan rangkaian kegiatan “Ramadan Ceria” yang telah dilaksanakan, di antaranya tarawih ramah anak, pengajian Ramadan bagi ustaz-ustazah, Training Center Darul Arqam (TCDA), serta Ramadan Cast yang dikemas dalam bentuk video.
Penutupan TCDA dilaksanakan bertepatan dengan Nuzulul Quran dengan menghadirkan pendongeng Kak Ari yang didampingi boneka bernama Paijo. Selain itu, kegiatan juga meliputi penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang telah disalurkan kepada kaum duafa di lingkungan sekolah serta melalui Lazismu KLL Manyar. Bantuan sosial juga diberikan kepada LKSA Muhammadiyah Cabang Gresik dan SMA Muhammadiyah 5 Panceng.
Athiq berharap kegiatan Pengajian Akhir Ramadan tidak sekadar menjadi sarana menuntut ilmu, tetapi juga memperkuat sinergi dan silaturahmi antarlembaga pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah di wilayah Manyar. Ia juga menyampaikan ucapan, “Selamat Hari Raya Idul Fitri Taqobbalallahu Minna Waminkum, semoga amal ibadah kita di bulan Ramadan diterima oleh Allah Swt dan dipertemukan kembali di bulan Ramadan yang akan datang. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.”
Dalam pemaparannya, Hasan Abidin menyampaikan hasil riset terkait indeks kebahagiaan dunia. Ia menjelaskan bahwa terdapat survei yang menempatkan Indonesia pada posisi pertama dalam aspek kebahagiaan hidup berdasarkan nilai kedermawanan, kemanusiaan, dan sosial.
Namun, dalam aspek harapan hidup dan kesejahteraan, Indonesia berada pada posisi ke-80. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan ungkapan, “nek dikongkon nguwei seneng, cuma sambate yo gak karu-karuan, loman tapi sambatan kiro-kiro begitu.”
Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sebagai pendidik, penting memahami visi, misi, dan tujuan yang merujuk pada misi Rasulullah Saw, yaitu menyempurnakan akhlak manusia.
Hasan Abidin juga mengutip kisah sahabat Anshar yang disebut sebagai calon penghuni surga. Kisah tersebut menjelaskan bahwa keutamaan sahabat tersebut bukan terletak pada ibadah yang menonjol, melainkan karena tidak memiliki rasa benci, dendam, atau dengki kepada orang lain.
Ia menegaskan bahwa dalam proses pendidikan terdapat dua hal utama yang harus ditanamkan, yaitu akidah yang kuat sebagai pondasi dan akhlak yang baik sebagai wujud kesalehan sosial. Selain itu, kebiasaan baik selama Ramadan, seperti infak dan sedekah, diharapkan dapat terus dilanjutkan.
Pada akhir kegiatan, disampaikan beberapa poin terkait tazkiyatun nafs, antara lain mengelola emosi, belajar ikhlas, menjaga ketenangan hati, serta membiasakan berprasangka baik kepada orang lain.
Sebagai penutup, moderator menyampaikan pesan, “Tugas utama sebagai pendidik, bukan hanya mengajar tetapi bagaimana bisa mewujudkan siswa kita menjadi anak yang kuat iman, akidahnya juga kuat dan memiliki akhlak mulia. Salah satunya tidak cukup hanya mengajar dengan pikiran, tetapi perlu mendidik dengan hati. Karena ilmu yang diajarkan hanya dengan pikiran dan lisan saja akan sampai di telinga, tapi ilmu yang diajarkan dengan hati dan keteladanan, insyaAllah akan masuk sampai di hati siswa kita dan meneladani apa yang kita lakukan.” (*)





0 Tanggapan
Empty Comments