Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga modern.
Perangkat gawai, media sosial, dan berbagai aplikasi digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian orang tua—baik untuk bekerja, berkomunikasi, maupun mencari hiburan.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, teknologi juga menghadirkan tantangan serius, khususnya terkait kualitas interaksi antara orang tua dan anak.
Interaksi keluarga yang sebelumnya banyak diwarnai percakapan langsung, kebersamaan, dan perhatian penuh, kini perlahan tergeser oleh kehadiran layar digital.
Orang tua yang sibuk dengan ponsel atau pekerjaan daring sering kali tanpa sadar mengurangi intensitas keterlibatan emosional dengan anak.
Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas hubungan emosional dalam keluarga dan berdampak pada kesehatan mental anak (Fajar dkk., 2025).
Ketika perhatian orang tua lebih banyak tercurah pada teknologi dibandingkan pada anak, anak dapat merasa diabaikan, tidak didengar, dan kurang dihargai.
Dalam jangka panjang, perasaan tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosi anak, kemampuan bersosialisasi, serta cara mereka mengelola tekanan di lingkungan sekolah maupun pergaulan (Kusuma, 2025).
Anak sebagai Generasi Digital: Keniscayaan yang Tak Terhindarkan
Aesong (2023) menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan informasi telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan anak.
Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Mereka bahkan kerap disebut sebagai generasi digital, yakni generasi yang sejak dini sudah akrab dengan gawai, internet, dan media sosial.
Dalam konteks ini, menghindarkan anak sepenuhnya dari teknologi bukanlah solusi yang realistis. Teknologi telah menjadi bagian dari sistem pendidikan, komunikasi, dan hiburan.
Yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana peran orang tua mengalami pergeseran akibat dominasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa pendampingan yang tepat, anak berisiko mengalami ketergantungan pada gawai, kesulitan membangun relasi sosial nyata, serta gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, dan kesepian.
Peran orang tua sejatinya tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, dan papan.
Lebih dari itu, orang tua memegang peran sentral dalam membentuk kesehatan mental dan ketahanan emosional anak.
Anak yang tumbuh dengan keterlibatan orang tua yang tinggi cenderung lebih tangguh secara mental, mampu mengelola emosi, serta memiliki kepercayaan diri yang lebih baik (Sit, 2025).
Sebaliknya, dominasi teknologi dan kesibukan orang tua yang berlebihan dapat menciptakan kekosongan emosional pada anak.
Kurangnya interaksi langsung membuat anak merasa tidak dipahami dan tidak memiliki tempat aman untuk mengekspresikan perasaan. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, stabilitas mental anak dapat terganggu dan berpengaruh hingga usia dewasa.
Oleh karena itu, kehadiran orang tua secara emosional—bukan sekadar fisik—menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah perubahan zaman.
Sisi Positif Teknologi dalam Pengasuhan
Meski sering dipandang sebagai ancaman, teknologi sejatinya juga memiliki potensi besar untuk mendukung peran orang tua jika dimanfaatkan secara bijak.
Teknologi membuka akses luas terhadap informasi seputar pengasuhan, perkembangan psikologis anak, serta edukasi kesehatan mental keluarga (Hijrianti, 2025).
Melalui berbagai platform digital, orang tua dapat memperoleh pengetahuan terkini mengenai pola asuh yang sehat, mengenali kebutuhan emosional anak, dan memahami tantangan psikologis yang mungkin dihadapi anak di era modern.
Selain itu, aplikasi edukatif dan media pembelajaran digital dapat menjadi sarana efektif untuk mendukung proses belajar anak di rumah, sekaligus mempererat keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar tersebut (Ulfadhilah, 2025).
Dengan demikian, teknologi tidak selalu menjadi penghalang relasi keluarga. Sebaliknya, ia dapat menjadi alat bantu yang memperkuat peran orang tua—selama tidak menggantikan interaksi langsung yang bersifat personal dan emosional (Jonathan, 2025).
Tantangan utama bagi orang tua saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan keterlibatan emosional dengan anak. Kehadiran fisik saja tidak cukup tanpa disertai perhatian yang tulus dan komunikasi yang berkualitas.
Salah satu langkah penting adalah menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi langsung dengan anak tanpa gangguan perangkat digital.
Aktivitas sederhana seperti berbincang, bermain bersama, atau makan bersama dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan perasaan dan membangun kedekatan emosional (Tricintya, 2025).
Selain itu, literasi digital menjadi kebutuhan penting bagi orang tua. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat mengenali tanda-tanda penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak dan mengambil langkah pencegahan sebelum berdampak pada kesehatan mentalnya (Maha, 2025).
Pendekatan pengasuhan partisipatif, di mana orang tua terlibat aktif dalam kehidupan anak, mampu menjadikan teknologi sebagai sarana pendukung terciptanya hubungan keluarga yang harmonis.
Dengan strategi tersebut, peran orang tua tetap terjaga secara seimbang dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan emosional anak (Suryani, 2025).
Pergeseran peran orang tua akibat kemajuan teknologi merupakan realitas yang tidak dapat dihindari.
Namun, tantangan ini dapat dihadapi dengan kesadaran, pengetahuan, dan komitmen untuk tetap hadir secara utuh dalam kehidupan anak. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran orang tua.
Melalui pengasuhan yang adaptif, seimbang, dan berorientasi pada kebutuhan emosional anak, orang tua dapat menjaga kesehatan mental anak di tengah derasnya arus perkembangan teknologi.
Dengan demikian, keluarga tetap menjadi ruang aman dan tempat bertumbuh yang sehat bagi generasi masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments