
PWMU.CO – Setelah kita mengkaji dua rukun Islam, yaitu salat dan zakat (https://pwmu.co/434187/07/03/telaah-rukun-islam-mengurai-problem-kehidupan/), keduanya—jika dijalankan dengan penuh kesadaran dan pemaknaan—akan membentuk pribadi yang baik hubungannya dengan Allah sekaligus harmonis dalam hubungan dengan sesama manusia.
Setelah dua rukun sebelumnya, terdapat satu lagi alat utama untuk memerdekakan jiwa, yaitu puasa. Namun, muncul pertanyaan: “bagaimana puasa di kata sebagai alat pemerdeka jiwa? Bukankah puasa justru membatasi kebebasan kita untuk makan di siang hari? Tiba-tiba, dengan berpuasa, kita tidak boleh makan, bahkan juga bersenda gurau dengan istri.
Tepatkah jika kita memahami puasa sebagai alat untuk memerdekakan jiwa? Mari kita renungkan pertanyaan berikut: “siapa yang paling sering memperbudak kita dan terus-menerus menguasai pikiran kita?” Jawabannya adalah adat atau kebiasaan.
Jika demikian, mungkin kita bisa membenarkan kata-kata orang bijak bahwa “manusia adalah budak dari kebiasaannya“.
Kita terbiasa dengan makan di siang hari. Tapi melalui puasa, kita harus menangguhkan kebiasaan itu. Efeknya, kita menjadi kepayahan karena merasa berat menangguhkan sementara kebiasaan makan pada siang hari. Namun Jika kita mampu menjalankan puasa, secara berangsur-angsur kita akan terbebas dari perbudakan kebiasaan itu.
Karena itu, puasa adalah alat utama untuk memerdekakan jiwa dari kebiasaan sehari-hari. Harapannya, dengan berpuasa kita dapat mengendalikan kebiasaan buruk yang jauh lebih besar.
Kata-kata bijak menyebutkan “kita hidup bukan untuk makan” yang artinya bahwa hidup itu harus bermakna. Bagi manusia, makan itu sekadar untuk memenuhi kebutuhan tubuh agar mampu berdiri tegak, dan selebihnya untuk menebar kebermanfaatan.
Melalui ibadah puasa, kita disadarkan bahwa hidup bukan semata untuk diri sendiri. Hidup adalah tentang memberi manfaat bagi sesama. Kekayaan yang kita miliki sejatinya bukan milik pribadi, seperti yang diyakini dalam paham kapitalisme. Harta yang kita punya adalah titipan untuk dinikmati bersama. Saat berpuasa, kita merasakan lapar dan dahaga—sesuatu yang sehari-hari dirasakan oleh banyak orang yang hidup dalam kekurangan.
Jika menjalankan puasa dengan kesadaran dan pemaknaan yang mendalam, ia akan membentuk pribadi yang penuh kepedulian, keadilan, kejujuran, dan kedisiplinan. Bagi umat Islam, puasa juga menumbuhkan semangat persatuan—baik persatuan dalam satu wilayah maupun persatuan kemanusiaan yang menjadi cita-cita seluruh umat manusia, anak keturunan Nabi Adam.
Manusia membentuk keluarga: ayah, ibu, dan anak. Dari keluarga lahir komunitas, berkembang menjadi desa, kota, lalu negara. Kumpulan negara itulah yang membentuk umat manusia sebagai satu bangsa global.
Namun hidup tak hanya dalam lingkup bangsa sendiri. Dunia ini berpenghuni oleh banyak bangsa yang sama-sama mendambakan perdamaian. Di sinilah titik temu cita-cita para agamawan, cendekiawan, dan negarawan.
Rukun Islam kelima, ibadah haji, mengandung pesan persatuan dan kesetaraan. Saat tawaf, seluruh manusia—apapun statusnya, dari sultan, presiden, hingga rakyat jelata—berputar mengelilingi Ka’bah dengan satu tujuan: menuju Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya mengenakan pakaian ihram yang sederhana dan seragam: putih tanpa jahitan.
Pakaian ihram mengajarkan kita bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhan. Yang kaya tak layak pongah dengan kekayaannya, yang miskin tak perlu merasa hina karena kemiskinannya, pemimpin tak boleh jumawa dengan kekuasaannya, dan rakyat tak pantas merasa rendah. Semua saling menyangga, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Sebab kemuliaan seseorang hanya ternilai dari ketakwaannya dan baktinya kepada Allah SWT.
ان أمر مكان عند الله اتقكم
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang lebih berbakti kepada Allah”
Yang lebih istimewa lagi, para jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah sesungguhnya tengah menjalani momen puncak haji. Di tempat itulah mereka menjadi haji yang sejati, mereka berada di tempat perenungan dan refleksi diri. Bahwa kelak seluruh manusia akanberkumpul di satu tempat yang disebut Padang Mahsyar untuk menunggu perhitungan amal perbuatan mereka.
Dengan melaksanakan haji seperti itu, seseorang akan menilik manfaat dari diri dan bangsanya. Melalui haji, mereka menemukan rasa persaudaraan dengan penuh cinta. Melalui perasaan itu, benarlah pesan cinta Nabi kepada kita bahwa:
لا يو منواحد كم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه
“Tidak beriman seorang di antara kamu, sebelum ia cinta kepada saudaranya sebagaimana cinta kepada diri sendiri”
Inilah sebabnya, jika seseorang pulang dari haji namun rasa cintanya kepada sesama tidak bertambah, maka boleh dikatakan hajinya belum sepenuhnya bermakna. Salah satu tanda haji yang mabrur adalah semakin eratnya hubungan dengan Allah, sekaligus semakin kuatnya ikatan dengan sesama manusia.
Dalam hal ini, lima rukun Islam mengandung dua dimensi spiritual yang tidak terpisahkan: kesalehan ritual yang seharusnya berjalan seiring dan seimbang dengan kesalehan sosial.***
Editor Notonegoro





0 Tanggapan
Empty Comments