Masjid yang dikelola oleh anak-anak muda sering menghadirkan wajah yang berbeda. Tidak sekadar menjadi tempat ibadah yang sunyi di luar waktu salat, masjid berubah menjadi ruang aktivitas yang hidup, kreatif, dan penuh kegembiraan.
Itulah yang tampak di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, ketika puluhan anak sekolah dasar menghabiskan malam mereka di halaman masjid—bukan sekadar bermain, tetapi menghafal Al-Qur’an dalam suasana yang tak biasa.
Arroyyan Youth Squad bersama Angkatan Muda Muhammadiyah Buduran menggelar sebuah perkemahan bertajuk Tahfidz Camp pada (7–8/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program GAMA (Giat Anak-Anak Masjid Arroyyan) dengan mengusung tema “Sirrul Huffadz”.
Sebanyak 30 peserta laki-laki dan perempuan, seluruhnya anak-anak usia sekolah dasar, mengikuti kegiatan yang memadukan aktivitas hafalan Al-Qur’an, murojaah, dan setoran hafalan dengan konsep camping di lingkungan masjid.
Untuk menghadirkan pengalaman berbeda, panitia mendirikan 10 tenda di pelataran masjid. Pemandangan tenda-tenda berwarna yang berdiri di halaman Masjid Ar-Royyan menjadi sesuatu yang jarang terlihat di lingkungan masjid pada umumnya. Bagi para peserta, suasana ini menghadirkan sensasi baru: belajar Al-Qur’an sekaligus merasakan keseruan berkemah bersama teman-teman.
Konsep ini sengaja dipilih agar anak-anak merasakan bahwa berkegiatan di masjid juga bisa menyenangkan. Dengan mendirikan tenda, tidur bersama teman-teman, serta mengikuti berbagai aktivitas seru, masjid tidak lagi terasa kaku bagi mereka.
Kepedulian Sosial
Di sela rangkaian kegiatan menghafal, murojaah, dan setoran hafalan, peserta Tahfidz Camp juga diajak menumbuhkan kepedulian sosial. Anak-anak bersama panitia membagikan nasi box berbuka puasa kepada warga sekitar masjid, menjadikan kegiatan ini bukan hanya tentang hafalan, tetapi juga tentang berbagi dan kepedulian.
Salah satu wali santri, Aishhanafi, menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini.
“Semoga semakin banyak kegiatan positif yang menumbuhkan kecintaan pada masjid bagi anak-anak,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Anik.
“Terima kasih buat semua kakak panitia atas pendampingan dan pengalaman berharga buat anak-anak ya. Semoga ke depan dapat menjadi kegiatan rutin,” tuturnya.
Ketua pelaksana kegiatan Tahfidz Camp, Raudlotul Jannah Alfirdaus, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi panitia.
“Ini merupakan kali pertama kami melaksanakan kegiatan anak-anak yang menginap di masjid. Tentunya banyak pengalaman dan ilmu baru yang kami dapatkan,” ujarnya.
Firda sapaan akrabnya yang juga aktif di Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah Buduran itu berharap kegiatan ini membawa dampak jangka panjang bagi anak-anak.
“Semoga dengan adanya kegiatan ini, anak-anak dapat memiliki ketertarikan dan kecintaan untuk beraktivitas di masjid,” tambahnya.
Apa yang terjadi di Masjid Ar-Royyan menunjukkan satu hal: ketika masjid dikelola oleh anak-anak muda, lahirlah ide-ide segar yang mampu menghidupkan suasana. Tenda-tenda yang berdiri di pelataran masjid akhir pekan itu bukan sekadar tempat bermalam, tetapi simbol bahwa masjid bisa menjadi ruang belajar, bermain, dan bertumbuh—tempat anak-anak menemukan kenangan indah sekaligus menumbuhkan cinta mereka kepada Al-Qur’an dan rumah Allah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments