Terlampau banyak orang lebih memilih berobat daripada menjaga kesehatan. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang bertawakal kepada obat medis sebagai satu-satunya terapi. Kesembuhan seolah hanya digantungkan pada tindakan dokter dan obat-obatan berbahan kimia.
Islam tidak menutup mata terhadap kemajuan ilmu kedokteran modern. Namun, bukan berarti umat Islam harus bergantung sepenuhnya pada rumah sakit. Jika mau mendekat pada konsep sehat melalui Al-Qur’an, hidup tidak hanya lebih tenang, tetapi juga lebih hemat biaya.
Persyarikatan Muhammadiyah mengakui bahwa menulis Al-Qur’an dengan tangan dapat menjadi terapi mental yang efektif, meskipun saat ini percetakan Al-Qur’an sudah sangat masif.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ruslan Fariadi, dalam ceramahnya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Ahad (06/07/2025), menyampaikan, “Coba tulis Al-Qur’an, mulai dari surat Al-Fatihah. Ini bukan hanya ibadah, tetapi terapi kesehatan mental yang meningkatkan kecerdasan, menyeimbangkan otak kiri dan kanan, serta mengatasi lupa, gelisah, bahkan kesepian.”
Menurutnya, aktivitas ini dapat meningkatkan fokus, melatih kedisiplinan berpikir, serta menenangkan batin. Ia juga mengajak untuk memulai dari hal sederhana, seperti menulis surat Al-Fatihah secara rutin agar menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih tenang dan penuh keberkahan.
Asmaul Husna merupakan bagian dari Al-Qur’an. Dengan demikian, menulis Asmaul Husna juga dapat menjadi terapi yang efektif bagi kesehatan mental dan moral. Begitu pula dengan menulis doa-doa yang diajarkan Rasulullah serta hadis-hadis beliau.
Para ulama terdahulu, sebelum adanya mesin percetakan, terbiasa menyalin kitab dengan tangan mereka sendiri. Selain untuk menghafal, hal ini juga menjadi sarana meraih keberkahan.
Ketua PP Muhammadiyah, Dr. K. H. M. Sa’ad Ibrahim, M.A., menyatakan, “Jiwa yang sehat merupakan kunci utama bagi terwujudnya fisik yang sehat. Al-Qur’an memiliki kekuatan sebagai penawar jiwa bagi siapa pun yang membacanya. Walaupun tidak memahami maknanya, hal itu tetap menjadi bagian dari proses penyembuhan.”
Kita juga patut bersyukur bahwa lambang Persyarikatan Muhammadiyah memuat dua kalimat syahadat dalam bentuk kaligrafi. Banyak masjid Muhammadiyah yang dihiasi ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, dan doa sebagai bagian dari syiar Islam.
Majelis Tarjih memfatwakan bahwa menulis ayat-ayat Al-Qur’an atau hadis untuk tujuan motivasi ibadah, memperindah masjid, dan syiar Islam adalah hal yang mubah (boleh). Islam tidak hanya memperhatikan aspek hukum, tetapi juga etika dan estetika.
Jika ada yang meragukan kekuatan terapi dari menulis Al-Qur’an, maka perlu dipahami bahwa kesehatan tidak hanya bergantung pada satu faktor. Rasulullah juga pernah sakit, sebagaimana para nabi lainnya. Sakit bukanlah tanda kelemahan Al-Qur’an.
Untuk menjaga kesehatan, seseorang perlu menempuh berbagai jalan: menjaga kualitas salat, pola makan, istirahat, olahraga, bersedekah, serta membiasakan diri menulis Al-Qur’an.





0 Tanggapan
Empty Comments