Pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan sains dan nilai-nilai keislaman kembali diterapkan di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Melalui kegiatan praktik verifikasi arah kiblat, siswa diajak memahami konsep ilmiah sekaligus menguatkan kesadaran beribadah dengan memanfaatkan instrumen modern berupa kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line, Rabu (14/1/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas X dan XI Program Tahfidz sebagai bagian dari pembelajaran terpadu antara sains dan ibadah. Sebelum praktik lapangan, para siswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan materi mengenai cara menentukan lokasi yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis berupa lintang dan bujur, serta memahami prinsip dasar penentuan arah kiblat secara ilmiah.
Dengan bimbingan guru, siswa kemudian mempraktikkan secara langsung penggunaan kompas laser 16 line untuk menentukan arah kiblat secara akurat. Garis-garis laser yang dipancarkan membantu siswa melihat arah secara presisi sehingga proses verifikasi menjadi lebih mudah dipahami dan aplikatif.
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Syamsu Alam Darajat, SH, MA, selaku pembimbing, menjelaskan bahwa pembelajaran yang dilakukan berupa kegiatan verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern, yakni kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line.
“Sebelum kegiatan, siswa Tahfidz Smamita mendapatkan pembekalan materi dasar yang meliputi cara menentukan lokasi atau tempat yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis lintang dan bujur, hingga menentukan azimut kiblat secara ilmiah,” ujarnya.
Sebagai bagian dari praktik lapangan, verifikasi arah kiblat dilaksanakan di Masjid Manarul Ilmi Smamita. Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pemahaman langsung tentang cara melakukan verifikasi arah kiblat yang benar sesuai dengan kaidah ilmu astronomi dengan memanfaatkan instrumen modern.
Ia juga menjelaskan dampak ketidaksesuaian arah kiblat. Jika terjadi kesalahan sebesar 1 derajat, arah tersebut akan melenceng sejauh kurang lebih 111 kilometer dari titik Ka’bah. Apabila melenceng 1 derajat ke arah utara, arah salat dapat menghadap ke wilayah Eropa, sedangkan jika melenceng 1 derajat ke arah selatan, arah salat dapat menghadap ke wilayah Afrika.
Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik menjadi lebih peka dan peduli terhadap ketepatan arah kiblat di lingkungan sekitar. Arah kiblat merupakan salah satu syarat sah salat bagi umat Islam sehingga tidak boleh dianggap sepele.
“Peserta didik tidak lagi sekadar menghadap ke arah barat saat melaksanakan salat. Arah barat bukanlah arah kiblat. Bangunan masjid atau musala juga tidak selalu dapat dijadikan acuan, karena arah bangunan bisa saja berbeda dengan arah kiblat yang sebenarnya. Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan, meningkatkan kesadaran, serta menumbuhkan sikap ilmiah dalam memahami dan menjaga ketepatan arah kiblat,” imbuhnya.
Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, MIKom, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran.
Pemanfaatan instrumen modern seperti kompas kiblat dengan laser 16 line dinilai tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep sains, khususnya geografi dan astronomi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketepatan dalam menjalankan ibadah.
Pembelajaran kontekstual semacam ini diharapkan mampu membangun cara berpikir kritis, teliti, dan bertanggung jawab pada diri siswa. Edwin menegaskan bahwa Smamita berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi siswa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments