Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ternyata Pendiri NU Adalah KH. Ahmad Dahlan 

Iklan Landscape Smamda
Ternyata Pendiri NU Adalah KH. Ahmad Dahlan 
Langgar Gipo sebelum direnovasi. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Langkah-langkah sore itu terasa berbeda. Ahad (21/12/2025), penulis mengikuti Muhammadiyah Historical Walk (MHW) ke-2 Edisi Ampel, sebuah perjalanan menyusuri tapak sejarah Muhammadiyah di Kota lama Surabaya. Bukan sekadar jalan kaki, MHW adalah ikhtiar merawat ingatan, membaca ulang masa lalu, dan menautkannya dengan semangat keumatan hari ini.

Titik kumpul peserta berada di Rumah Penyembelihan Hewan (RPH) Surabaya. Dari tempat inilah perjalanan dimulai. Rute pertama membawa peserta ke kawasan Pasar Kambing Surabaya, lokasi yang memiliki arti penting bagi sejarah Muhammadiyah. Di kawasan inilah embrio TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) pertama tumbuh, sekaligus menjadi saksi aktivitas dakwah dan pendidikan tokoh-tokoh awal Muhammadiyah di Surabaya.

Perjalanan berlanjut menyusuri jejak para perintis. Peserta diajak mengenali rumah-rumah tokoh Muhammadiyah, lalu menuju kawasan Ampel. Di sinilah suasana terasa lebih khidmat. Ziarah dilakukan ke makam KH Mas Mansur, salah satu Ketua Umum ke-4 Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Pahlawan Nasional serta KH Hasan Gipo, sepupu dari KH Mas Mansur yang merupakan Ketua PBNU Pertama.

Di hadapan makam KH Mas Mansur, peserta seakan diingatkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya dibangun oleh gagasan, tetapi juga pengorbanan. Mas Mansur adalah sosok ulama pembaharu yang pernah memimpin Muhammadiyah dan terlibat langsung dalam pergulatan sejarah bangsa. Dari Ampel, narasi Muhammadiyah tidak hanya tentang organisasi, tetapi tentang keberanian berpikir dan keberpihakan pada umat.

Usai ziarah, rombongan melanjutkan perjalanan ke RS PKU Muhammadiyah Surabaya, SD Mufidah, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang tampak sederhana namun sarat makna: Langgar Gipo, yang terletak di Jalan Kalimas Udik Nomor 51 Surabaya.

Di sinilah penulis menemukan sesuatu yang tak terduga.

Saat menaiki lantai dua Langgar Gipo, pandangan tertumbuk pada sebuah pigura foto. Seorang lelaki berpakaian putih, berpeci putih, dengan latar hijau. Tulisan di bawahnya mencuri perhatian:

“Musassis NU 1926. KH Ahmad Dahlan Achyad Surabaya (Pendiri NU dan Wakil Rais Akbar Pertama)”.

Nama itu membuat penulis tertegun. Ahmad Dahlan, sebuah nama yang sangat lekat dengan Muhammadiyah. Rasa penasaran mendorong penulis mendekat dan mengabadikan pigura tersebut. Dari satu pigura kecil di langgar tua, terbuka sebuah jendela besar tentang sejarah Islam Indonesia yang saling bersilangan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

KH. Ahmad Dahlan, Pendiri NU. (Azrohal Hasan/PWMU.CO)

Merujuk laman NU Online, pada masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama, ternyata terdapat tiga tokoh besar yang sama-sama bernama Kiai Dahlan dan memiliki peran penting dalam kepengurusan pusat NU yang kala itu bernama Hoofd Bestuuer Nahdlatoel Oelama (HBNO) dan berpusat di Surabaya.

Tokoh pertama adalah KH Achmad Dahlan bin Muhammad Achyad. Ia merupakan salah satu pendiri NU pada tahun 1926, mendampingi Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Dahlan Achyad bahkan dipercaya menjabat Wakil Rais Akbar NU. Lahir pada 13 Muharram 1303 H atau 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, tak jauh dari makam Sunan Ampel, ia dikenal sebagai aktivis pergerakan dan pemikir yang berupaya meredam ketegangan perdebatan furu’iyah antara kaum pembaharu dan tradisionalis di era 1920-an melalui tulisan dan forum pemikiran seperti Tashwirul Afkar.

Tokoh kedua adalah KH Dahlan bin Abdul Qohar, ulama asal Kertosono, Nganjuk. Ia memiliki keistimewaan karena menguasai Bahasa Belanda selain Bahasa Arab, berkat latar pendidikan HIS. Bersama KH Abdul Wahab Chasbullah dan Syaikh Ghanaim al-Mishri, ia terlibat dalam Komite Hijaz, melakukan negosiasi kepada Raja Ibnu Saud terkait kebebasan bermadzhab sebelum NU berdiri.

Tokoh ketiga adalah KH Mohammad Dahlan dari Pasuruan, lahir tahun 1909. Ia dikenal sebagai penggerak Ansor NU di masa awal, kemudian menjabat Ketua PBNU dan Menteri Agama RI. Kiprahnya begitu luas, mulai dari merintis Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), ikut mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), hingga menggagas penguatan pendidikan agama melalui Ujian Guru Agama (UGA). Ia juga menjadi pelopor berdirinya Muslimat NU, sebuah langkah progresif yang kala itu tidak mudah.

Temuan kecil di Langgar Gipo itu menjadi pengingat besar: sejarah Islam Indonesia tidak dibangun oleh satu jalur tunggal. Muhammadiyah dan NU, dengan segala perbedaan manhaj dan pendekatan, sejatinya bertumbuh dari akar yang sama, keikhlasan berjuang untuk umat dan bangsa.

Langkah kaki boleh berhenti, tetapi pelajaran sejarah harus terus berjalan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu