Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tidak Seperti Donald Trump Hari Ini, Begini Doktrin dan Praktik Perang dalam Sejarah Nabi

Iklan Landscape Smamda
Tidak Seperti Donald Trump Hari Ini, Begini Doktrin dan Praktik Perang dalam Sejarah Nabi
Salah satu sudut jamaah putra dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah, Kepatihan, Tulungagung, Ahad (5/4/26) yang diisi oleh Sekretaris PWM Jawa Timur, Prof Dr Biyanto MAg (foto: Lazuardy Arkoun/PWMU.CO)
pwmu.co -

Islam adalah agama damai, dan pemeluknya harus menyebarkan kedamaian. Demikian disampaikan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof Dr Biyanto MAg dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Al-Fattah, Kepatihan, Tulungagung, Ahad (5/4/2026). Bahkan dalam saat perang pun, kemanusian tetap diperhitungkan.

“Tidak seperti Donald Trump hari ini,” terang Biyanto sambil merujuk peristiwa kekinian perang di kawasan Timur Tengah, yang disambut tawa ratusan jamaah.

Pesan kedamaian agama Islam ini disampaikan Biyanto saat menerangkan riwayat hadits Nabi tentang 4 perbuatan yang membuat seorang Muslim masuk surga dengan keselamatan. Afsuu as-salaam (menebar salam, menebar keselamatan), ath’imuu ath-Tha’aam (memberi makan), shiluu al-arhaam (menyambung silaturrahmi), dan shalluu bi al-layli wa an-naasu niyaam (shalat malam saat manusia tertidur).

“Muslim yang dirindukan surga adalah mereka yang mampu menjamin keamanan dan kenyamanan bagi saudaranya,” tuturnya di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

Doktrin keselamatan Islam ini, lanjut Biyanto, ditegaskan dalam surat al-Maidah ayat 32. “Siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia,” kata Biyanto menerjemahkan ayat itu setelah membacakan ayatnya.

Bukan hanya doktrin, keselamatan Islam ini juga telah ditunjukkan Nabi Muhammad dalam praktik di lapangan. Biyanto merujuk pada peristiwa perang Badar yang meletus pada 17 Ramadan 2 H. Membandingkan kondisi kekinian, ia menyebut sejarah Kenabian menunjukkan adanya sisi-sisi kemanusian, bahkan saat dalam kondisi perang.

Disebutkan dalam perang Badar, 317 pasukan Muslim yang dipimpin Nabi Muhammad saw mengalahkan 1000-an pasukan kafir Quraisy. Tak hanya mengalahkan, pasukan Islam mampu menawan ratusan pasukan kafir. “Komitmen, kesungguhan, dan pertolongan Allah,” kata Biyanto tentang faktor kemenangan ini, sambil merujuk ayat kam fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiratan bi idznillah.

Ketika tawanan kafir sudah dibawa ke Madinah, Nabi pun memanggil para sahabat utama untuk bermusyawarah. “Akan kita apakan para tawanan ini,” lanjut Biyanto tentang inti musyawarah kali ini.

“Yang pertama, berdirilah sahabat Umar bin Khattab. Dia mengusulkan agar semua tawanan itu dibunuh. Sebab mereka adalah musuh Islam, dan selama ini selalu memusuhi dakwah Nabi.” Menanggapi usulan ini, Nabi pun melanjutkan pertanyaan; “ada usulan lain?

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Lalu berdirilah Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq. Mengawali usulannya, Abu Bakar menyebut berbagai hubungan kekerabatan antara pasukan Muslim dengan pasukan kafir Quraisy.

“Ada di antara tawanan itu adalah pakde-pakde kita, paman-paman kita, anak-anak kita, orang-orang tua kita. Bahkan ada menantu Nabi Muhammad sendiri yang menjadi tawanan,” jelas Biyanto tentang diskusi hari itu. Dalam riwayat disebutkan bahwa menantu nabi itu adalah Amr bin Al-Ash bin Rabi’ yang biasa dikenal Abul Ash bin Rabi’. Suami dari putri tertua Rasulullah, Zainab.

Lantas Abu Bakar mengajukan 3 usulan dalam memperlakukan tawanan perang itu. “Bagi yang punya harta, mereka ditebus dengan harta,” kata Biyanto tentang usulan pertama. Dalam kasus ini pula, menantu Nabi, Abul Ash bin Rabi’ dibebaskan oleh Zainab. — Catatan redaksi, pada saat itu belum ada larangan pernikahan Muslim dengan non-Muslim–.

Usulan kedua, lanjut Biyanto, tentang tawanan yang tidak punya harta benda, tapi punya ilmu. “Kita minta mereka mengajar. 1 orang tawanan mengajar 10 orang, 1 orang mengajar 15 sahabat yang tidak bisa baca-tulis.”

Usulan ketiga, adalah memperlakukan tawanan yang tidak punya harta benda dan juga tidak punya ilmu. “Mereka dibebaskan dengan perjanjian tidak boleh mengganggu dakwah Islam pada masa mendatang,” terang Biyanto.

Usul dari Abu Bakar inilah yang kemudian diterima oleh Nabi dalam memperlakukan tawanan perang. Hal ini menunjukkan bahwa dalam situasi perang sekali pun, Islam mengajarkan pentingnya keselamatan dan kemanusiaan. Apalagi dalam masa damai, tentu tidak ada alasan Islam dijadikan alasan untuk membuat ketidakselamatan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡