Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dikisahkan bahwa ketika Muhammad shalallahu alaihi wasallam hendak menaiki mimbar untuk menyampaikan khotbah Jumat, beliau mengucapkan “aamiin” pada setiap anak tangga yang dinaiki—pertama, kedua, dan ketiga.
Para sahabat heran. Seusai salat, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau mengucapkan aamiin pada setiap anak tangga tadi?”
Beliau menjawab bahwa pada setiap anak tangga, Malaikat Jibril membisikkan doa kebinasaan bagi tiga golongan manusia, dan beliau mengaminkannya.
Pertama, celakalah orang yang ketika disebut namamu wahai Muhammad, ia tidak berselawat kepadamu.
Kedua, celakalah orang yang hidup bersama kedua orang tuanya namun tidak menjadikannya sebab masuk surga.
Ketiga, celakalah orang yang mendapati bulan Ramadan, berpuasa di dalamnya, namun Allah tidak mengampuni dosa-dosanya.
Hadis ini bukan sekadar ancaman. Ia adalah cermin. Ia mengajak kita bercermin: apakah kita termasuk orang yang beruntung, atau justru yang merugi?
1. Tidak Berselawat Ketika Nama Nabi Disebut
Mencintai Rasulullah bukan hanya dengan pengakuan lisan, tetapi dengan penghormatan yang nyata. Setiap kali nama beliau disebut, kita dianjurkan untuk berselawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Bayangkan sebuah majelis ilmu atau khotbah Jumat. Nama Nabi disebut berkali-kali, namun sebagian hadirin diam saja. Lidahnya kelu, hatinya tidak tergerak. Padahal bershalawat hanya memerlukan satu tarikan napas.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita begitu mudah menyebut nama tokoh idola, selebritas, atau tokoh politik dengan penuh semangat. Kita bahkan rela berdiri memberi tepuk tangan. Namun ketika nama Nabi disebut, kita sering abai.
Betapa ruginya jika hati menjadi kering dari rasa cinta kepada manusia paling mulia. Berselawat bukan sekadar ucapan; ia adalah tanda keterhubungan ruhani. Orang yang enggan berselawat dikhawatirkan hatinya jauh dari teladan Nabi.
2. Bersama Orang Tua, Namun Gagal Masuk Surga
Golongan kedua adalah mereka yang hidup bersama kedua orang tuanya, tetapi tidak menjadikan kebersamaan itu sebagai jalan menuju surga.
Ilustrasi kehidupan ini sangat nyata. Ada seorang anak yang sukses secara karier. Rumahnya besar, mobilnya mewah. Dia membawa orang tuanya tinggal bersamanya. Namun di dalam rumah itu, sang ibu lebih sering sendirian di kamar. Makan tidak diperhatikan, cerita tidak didengar, keluh tidak dihiraukan.
Secara fisik ia “merawat”, tetapi secara hati ia menelantarkan.
Ada pula yang merasa orang tua adalah beban. Ketika ayah mulai pikun dan ibu mulai sering sakit-sakitan, kesabaran menipis. Ucapan kasar keluar tanpa sadar. Padahal justru di masa renta itulah pintu surga terbuka lebar.
Rasulullah mengingatkan bahwa rida Allah bergantung pada rida orang tua. Merawat mereka bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi investasi akhirat.
Bayangkan seorang ibu yang setiap malam bangun untuk menyusui anaknya. Kini ketika ia tua dan sulit berjalan, sang anak enggan menuntunnya ke kamar mandi. Bukankah ini kerugian besar?
Ramadan seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan dengan orang tua: meminta maaf, mencium tangan mereka, menyiapkan sahur untuk mereka, mengantar ke masjid, atau sekadar duduk mendengarkan kisah lama yang mungkin sudah berulang-ulang.
3. Berpuasa di Ramadan, Namun Tidak Diampuni
Inilah yang paling menyayat. Seseorang berpuasa sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga, tetapi keluar dari Ramadan tanpa ampunan.
Bagaimana bisa? Karena puasa hanya menahan perut, tetapi tidak menahan lisan. Menahan makan, tetapi tidak menahan amarah. Menahan minum, tetapi tidak menahan ghibah dan fitnah.
Di siang hari ia berpuasa, tetapi malamnya tetap menonton hal-hal yang tidak pantas. Di masjid ia khusyuk, tetapi di media sosial ia mencaci dan memprovokasi. Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah perubahan perilaku.
Bayangkan dua orang yang sama-sama berpuasa. Yang satu menjadikan Ramadan sebagai titik balik: ia memperbanyak istighfar, menangis di sepertiga malam, memperbaiki sholatnya, melunasi hutang maaf kepada sesama.
Yang lain menjalani Ramadan seperti rutinitas tahunan—tanpa perenungan, tanpa tobat. Keduanya lapar, tetapi hasilnya berbeda.
Kerugian terbesar adalah ketika Ramadan berlalu, dosa tetap menumpuk, hati tetap keras, dan kebiasaan buruk tetap berjalan. Padahal Ramadan adalah madrasah ruhani. Di dalamnya ada malam Lailatul Qadar, ada pintu surga yang dibuka, ada pintu neraka yang ditutup.
Mengapa masih ada yang tidak terampuni? Karena ia tidak sungguh-sungguh memohon ampun.
Ramadan tahun 1447 H ini adalah kesempatan yang belum tentu terulang. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah tiada. Mereka tidak lagi punya kesempatan memperbaiki diri.
Jangan sampai kita menjadi orang yang disebut “celaka” dalam doa Malaikat Jibril.
Mari kita hidupkan cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak selawat, jadikan orang tua sebagai jalan menuju surga, bukan beban kehidupan. Jadikan Ramadan sebagai momentum taubat yang sungguh-sungguh.
Semoga Ramadan ini bukan sekadar lewat di kalender, tetapi membekas dalam karakter. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi membersihkan hati. Bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi titik balik kehidupan.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang keluar dari Ramadan sebagai pemenang.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments