Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Mazhab Umat Islam Indonesia dalam Membaca Perang Iran, Israel, dan Amerika

Iklan Landscape Smamda
Tiga Mazhab Umat Islam Indonesia dalam Membaca Perang Iran, Israel, dan Amerika
Dr. Sholikh Al Huda. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I Ketua Umum Forum Dosen Indonesia, Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Umsura

Perang Iran versus Israel dengan keterlibatan Amerika Serikat tak hanya memanas di Timur Tengah, tetapi juga memicu perdebatan panjang di Indonesia. Di ruang-ruang digital seperti WhatsApp, mimbar pengajian, hingga media sosial, umat Islam terbelah dalam tiga cara pandang besar: pro-Iran, anti-Iran, dan netral. Perbedaan ini tidak sekadar soal politik, melainkan berakar pada cara memahami agama, sejarah, dan geopolitik secara bersamaan.

Perbedaan ini bukan sekadar selera politik. Ia berakar dari cara membaca agama, sejarah, dan geopolitik secara bersamaan.

Mazhab Pro-Iran: Melawan Penjajahan Harga Mati

Mazhab pertama adalah mereka yang melihat Iran sebagai simbol perlawanan.

Dalam kerangka ini, konflik dipahami sebagai pertarungan antara yang tertindas dan penindas. Israel dilihat sebagai representasi kolonialisme modern, sementara Amerika adalah penyokong utamanya. Di tengah dunia Islam yang dinilai pasif, Iran tampil sebagai aktor yang berani melawan secara terbuka.

Argumen mereka sederhana: jika bukan Iran, siapa lagi? Negara-negara Arab dianggap terlalu kompromistis, bahkan sebagian sudah menormalisasi hubungan dengan Israel. Maka Iran meskipun bermazhab Syiah diposisikan melampaui sekat teologis. Solidaritas dibangun atas dasar kemanusiaan.

Contoh konkretnya bisa dilihat di ruang publik digital Indonesia. Banyak aktivis pro-Palestina membagikan narasi seperti: “Lebih baik dukung Syiah yang melawan daripada Sunni yang diam.”

Di beberapa aksi solidaritas Palestina, bendera atau simbol yang diasosiasikan dengan poros perlawanan (Iran dan sekutunya) kadang muncul, sebagai ekspresi dukungan terhadap kekuatan yang dianggap benar-benar melawan Israel. Bahkan dalam diskusi kampus atau komunitas aktivis, Revolusi Iran sering dijadikan contoh keberanian melawan hegemoni Barat.

Namun, problem dari mazhab ini adalah kecenderungan meromantisasi Iran. Perlawanan dilihat secara hitam-putih, tanpa cukup kritis membaca bahwa Iran juga punya agenda geopolitik sendiri di kawasan Timur Tengah.

Mazhab Anti-Iran: Iran Syiah-Kita Sunni, Musuh Bebuyutan

Mazhab kedua mengambil posisi sebaliknya. Kelompok ini sangat kritis terhadap Iran, bahkan cenderung menolak segala bentuk dukungan terhadapnya. Basis utama sikap ini adalah persoalan teologis, terutama di kalangan Salafi-Wahabi yang memandang Syiah sebagai penyimpangan serius dalam Islam.

Bagi mereka, mendukung Iran bukan sekadar pilihan politik, tetapi persoalan akidah. Iran tidak dilihat sebagai pembela Palestina, melainkan sebagai aktor yang membawa agenda ideologis Syiah. Dalam kerangka ini, konflik Iran-Israel tidak dianggap sebagai jihad umat Islam, melainkan sebagai konflik geopolitik yang sarat kepentingan mazhab.

Contoh konkret dari mazhab ini banyak ditemukan dalam ceramah atau konten dakwah digital. Misalnya, ada ustaz yang secara tegas mengatakan: “Jangan tertipu, Iran itu Syiah Rafidhah. Mereka punya agenda sendiri, bukan membela Islam.”

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dalam beberapa grup kajian Salafi, beredar materi yang mengingatkan bahwa “bahaya Syiah lebih dekat daripada Zionis”, sehingga umat diminta tidak terjebak dalam propaganda Iran. Bahkan ada yang memilih fokus mengkritik Iran ketimbang membahas agresi Israel secara mendalam.

Di titik ini, teologi menjadi kacamata utama. Namun konsekuensinya, kritik terhadap Israel kadang menjadi kurang tajam atau hanya bersifat normatif. Dalam praktiknya, posisi ini bisa tampak seolah “lebih lunak” terhadap narasi Barat, meskipun sebenarnya motifnya adalah menjaga kemurnian akidah.

Mazhab Netral: Perang Menghancurkan Kepentingan Kemanusiaan

Mazhab ketiga adalah kelompok netral. Inilah tipologi yang paling dekat dengan arus utama Islam Indonesia yang moderat. Mereka tidak melihat konflik ini sebagai ajang memilih kubu, melainkan sebagai tragedi kemanusiaan yang harus dihentikan.

Bagi kelompok ini, baik Iran maupun Israel adalah aktor politik yang memiliki kepentingan masing-masing. Mereka menolak glorifikasi terhadap Iran, tetapi juga konsisten mengkritik agresi Israel. Fokus mereka adalah pada perlindungan warga sipil, penyelesaian konflik melalui diplomasi, dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

Contoh konkretnya terlihat pada sikap organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang lebih menekankan bantuan kemanusiaan dan seruan damai. Pemerintah Indonesia juga konsisten mendorong solusi dua negara (two-state solution) dalam forum internasional.

Di tingkat masyarakat, banyak komunitas yang memilih menggalang donasi untuk Palestina tanpa membawa narasi dukungan terhadap Iran ataupun perdebatan mazhab.

Pendekatan ini sering dianggap kurang “heroik”, karena tidak menawarkan musuh dan pahlawan secara jelas. Namun justru di situlah kekuatannya: mencoba keluar dari jebakan polarisasi dan melihat konflik secara lebih utuh.

Pada akhirnya, tiga tipologi ini menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia tidak kekurangan empati, tetapi berbeda dalam cara menyalurkannya. Sebagian memilih jalur perlawanan simbolik dengan mendukung Iran, sebagian bertahan pada garis teologis dengan menolak Iran, dan sebagian lagi mengambil jalan tengah dengan menekankan kemanusiaan.

Masalah muncul ketika perbedaan ini berubah menjadi pertengkaran tanpa ujung. Umat sibuk menentukan siapa yang paling benar, sementara realitas di lapangan tetap sama: konflik terus berlangsung, dan korban terus berjatuhan.

Mungkin yang perlu diubah bukan sekadar posisi—pro, kontra, atau netral tetapi cara berpikir. Sebab tanpa nalar kritis, kita hanya akan menjadi penonton yang berisik: ramai berdebat, tapi minim kontribusi nyata. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡