Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Tiga Sebab Kemunduran Islam

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Tiga Sebab Kemunduran Islam
Oleh : Ahmad Rusdi Pendidik Di MAM 9 Al Mizan Lamongan

Dunia Islam dalam catatan sejarah mengalami pasang surut. Pada satu masa, Islam berjaya, sedangkan masa lainnya meredup. Umat Islam di bawah komando Rasulullah berhasil mencapai kejayaan. Dalam waktu relatif singkat, sekitar 23 tahun, beliau mengubah wajah Jazirah Arab yang jahiliah menjadi bangsa beradab.

Bangsa Arab dahulu terisolasi di padang sahara dan kurang dikenal. Namun, perjuangan dan ajaran Rasulullah menjadikan mereka bangsa yang diperhitungkan.

Romawi dan Persia sebagai negara adidaya pun memperhitungkan keberadaan mereka. Keberhasilan Rasulullah membawa umat Islam menuju posisi terhormat dan mulia tidak terlepas dari inti ajarannya.

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah menerima wahyu pertama berupa perintah membaca. Artinya, perintah pertama Al-Qur’an mengajak umat ini untuk belajar.

Jika umat Islam menjadikan pencarian dan kecintaan terhadap ilmu sebagai identitas, Allah SWT akan mengangkat derajat mereka.

Ajaran berikutnya yang membawa umat menuju jalan lurus dan benar ialah hidup sederhana. Rasulullah mendidik para sahabat menerapkan prinsip tersebut.

Istilah yang lebih populer untuk prinsip ini ialah zuhud, yaitu menggunakan dunia secukupnya.

Rasulullah tidak sekadar mengajarkan teori kepada para sahabat. Beliau juga menjadi teladan dalam menerapkan sikap zuhud terhadap dunia.

Keberhasilan umat Islam pada masa Rasulullah juga tidak terlepas dari ajaran persaudaraan dan persatuan.

Pada zaman jahiliah, suku-suku Arab gemar bertikai dan bermusuhan. Rasulullah mendamaikan dan mempersatukan mereka.

Dengan ketiga inti ajaran tersebut, umat Islam memperoleh tempat terhormat di hadapan Tuhan dan manusia.

Sebaliknya, umat Islam akan kembali mengalami kemunduran jika meninggalkan ilmu, mencintai dunia secara berlebihan, dan saling mencaci maki.

Mari kita bedah satu per satu ketiga penyebab tersebut.

Meninggalkan Ilmu Pengetahuan

Umat Islam menjadi rapuh dan mundur ketika meninggalkan ilmu pengetahuan. Ketika umat tidak lagi meminati ilmu, kemunduran mulai mengancam.

Apalagi jika mereka memandang ilmu sebagai penghambat kebebasan hidup.

Dikotomi ilmu yang masih mewarnai dunia pendidikan turut memperparah keadaan. Praktik tersebut sesungguhnya menutup kesempatan pelajar untuk belajar secara sadar.

Ketakutan dan ancaman pun terdengar lebih nyaring daripada optimisme.

Sudah saatnya kita mendorong umat untuk belajar sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya, dan seluas-luasnya. Mereka bisa belajar ke Arab atau Mesir sebagai pusat literatur Islam.

Mereka juga bisa menuju Amerika dan Eropa sebagai mercusuar sains dunia. Syaratnya, mereka membaca dan mempelajari semuanya atas nama Tuhan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Mencintai Dunia Secara Berlebihan

Cinta dunia menjadi sebab berikutnya yang merontokkan semangat juang kaum muslimin. Sikap ini juga menimbulkan kekeruhan dalam tubuh umat Islam.

Ketika seseorang mengejar dunia dengan menghalalkan segala cara, perpecahan mulai tumbuh. Mereka merebut jabatan dengan menjatuhkan teman dan menjadikan kemewahan sebagai tujuan.

Akibatnya, kepentingan sektoral mengalahkan kepentingan bersama.

Jika kita cermati, gaya hidup hedonis kini tidak hanya dilakukan kalangan atas. Kalangan bawah pun mulai menjalani gaya hidup tersebut. Mereka telah lama meninggalkan inti ajaran hidup sederhana.

Akibatnya, mereka mencari dunia bukan lagi untuk kepentingan akhirat, melainkan semata-mata demi dunia.

Oleh sebab itu, kecintaan berlebihan terhadap dunia dan kelalaian mengingat Allah SWT menghambat kemajuan. Sikap tersebut menyuburkan permusuhan sekaligus memutus persaudaraan.

Saling Mencela dan Mencaci Maki

Kecintaan berlebihan terhadap dunia melahirkan tabiat saling mencela, menghina, dan mencaci maki. Tabiat tersebut sering muncul bukan karena persoalan besar, melainkan karena masalah kecil yang dibesar-besarkan.

Sebagai contoh, kita sepakat bahwa fikih memiliki keluasan dalam memandang persoalan hukum. Namun, beberapa pihak sengaja mempersempit keluasan tersebut.

Contoh lainnya muncul dalam persoalan furu’. Perbedaan amaliah sangat mungkin terjadi di kalangan umat Islam.

Namun, sebagian orang menganggap pihak yang berbeda bukan bagian dari golongannya. Sikap inilah yang menyuburkan penghinaan dan saling menjelekkan antarsesama muslim.

Apalagi jika para tokoh di atas melontarkan cacian, lalu pengikut di akar rumput menirunya. Benang persoalan yang sudah terurai pun semakin kusut.

Jika kita membiarkan kekusutan itu, umat akan semakin terpecah. Pada akhirnya, perpecahan menjadi salah satu penyebab kemunduran.

Kembalikan Semangat Kemajuan Islam

Catatan sejarah menunjukkan bahwa ketiga sebab tersebut terus muncul. Ketiganya menjadi faktor internal yang mendorong kemunduran umat Islam.

Oleh karena itu, mari kita berperan aktif dalam memajukan Islam. Teruslah belajar atau setidaknya menyemangati generasi berikutnya agar giat menuntut ilmu.

Terapkan pola hidup sederhana dan berlapang dadalah terhadap berbagai perbedaan. Jangan lupa, tumbuhkan kasih sayang terhadap sesama.***

 

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 19/10/2026 05:59
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu