Belakangan ini, suasana muram menyelimuti ruang-ruang diskusi di tingkat akar rumput Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Keresahan itu bukan lahir dari minimnya aktivitas organisasi, melainkan dari disorientasi kepemimpinan yang kian hari kian menampakkan wajah aslinya.
Dalam diskursus sosiologi organisasi, kondisi semacam ini dikenal sebagai erosi otoritas, yakni ketika pemimpin tidak lagi berpijak pada mandat moral dan konstitusi, tetapi justru tersesat dalam labirin kepentingan sempit dan personal.
Penundaan Muktamar tanpa alasan yang transparan merupakan puncak gunung es dari runtuhnya integritas kepemimpinan di tingkat PP IPM. Ruang yang seharusnya sakral sebagai arena sirkulasi gagasan kini merosot menjadi seremoni yang ditarik-ulur demi selera pimpinan.
Pada saat yang sama, proses kalenderisasi organisasi dibuat lentur hanya untuk mengakomodasi kepentingan di luar sistem. Dalam situasi ini, marwah Ikatan berada pada titik terendahnya.
Kita sedang dipaksa menyaksikan proses privatisasi organisasi yang pahit. AD/ART dan khittah perjuangan seolah kalah telak oleh syahwat politik individu pimpinan yang ingin melanggengkan pengaruh. Padahal, keberlanjutan sebuah entitas organisasi sangat bergantung pada kepatuhan para aktornya terhadap aturan main kolektif. Apa yang hari ini terjadi di tingkat pusat menunjukkan gejala klinis yang mengkhawatirkan, sebuah patologi kekuasaan.
Jika ditarik lebih jauh, terdapat fenomena klasik dalam sosiologi kekuasaan yang dikenal dengan ungkapan l’état, c’est moi—negara adalah saya. Dalam konteks organisasi modern seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah, gejala ini bermetamorfosis menjadi keyakinan keliru bahwa organisasi adalah properti pribadi. Arah geraknya ditentukan bukan oleh kompas konstitusi, melainkan oleh suasana hati dan kepentingan pimpinan.
Hari ini, kita menyaksikan paradoks kepemimpinan di tubuh PP IPM. Di atas panggung, narasi yang dibangun selalu tentang kolektif-kolegial dan masa depan pelajar se-Indonesia. Namun, di balik layar, tindak-tanduk yang tampak justru mengarah pada pemuasan ego sektoral dan ambisi politik yang sempit.
Muktamar, sebagai perhelatan akbar organisasi, sejatinya merupakan momentum integrasi nasional bagi seluruh kader IPM. Ia adalah ruang tempat ribuan gagasan dari berbagai wilayah dilebur menjadi satu visi besar. Akan tetapi, realitas yang tersaji justru menunjukkan anomali kepemimpinan yang mengkhawatirkan. Alih-alih merajut persatuan, pucuk pimpinan pusat tampak menikmati peran sebagai inisiator keretakan.
Upaya sistematis untuk membenturkan kader, bahkan hingga merambah ranah domestik agar tercipta polarisasi pandangan, merupakan bentuk divide et impera yang usang. Dampaknya sangat serius terhadap marwah organisasi. Kita sering terjebak pada kekeliruan berpikir bahwa marwah Ikatan adalah tanggung jawab eksklusif PP IPM. Seolah-olah wajah organisasi sepenuhnya ditentukan oleh perangai segelintir elite.
Padahal, dalam hakikat gerakan keilmuan seperti IPM, marwah bukanlah benda mati yang tersimpan di brankas kantor Menteng. Marwah adalah ruh kolektif yang denyutnya hidup di setiap sanubari pelajar Muhammadiyah, dari hiruk-pikuk kota hingga ranting-ranting sunyi di pelosok Nusantara.
Di tengah riuh dinamika ini, kita kerap lupa bahwa Ikatan ini didirikan bukan sebagai arena pacuan untuk saling menjatuhkan, melainkan sebagai rumah besar tempat persemaian kader. Namun, belakangan angin kompetisi terasa lebih kencang daripada hembusan ukhuwah. Retakan mulai muncul di sela-sela struktur, menciptakan jarak antara kawan seperjuangan yang seharusnya saling menggenggam.
Merajut kembali kain yang mulai robek jelas bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut kebesaran hati dan kejernihan berpikir untuk menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika satu kelompok berhasil menundukkan kelompok lain, melainkan ketika kita mampu keluar dari ruang sidang sebagai satu kesatuan yang lebih baik. Marwah organisasi tidak akan pernah tegak di atas puing-puing perpecahan. Ia hanya akan bersinar jika setiap dari kita, dari pusat hingga ranting, menempatkan keutuhan Ikatan di atas segala kepentingan pribadi.
Organisasi ini adalah milik kita bersama, bukan milik satu atau dua orang. Kita semua lahir dari rahim perkaderan yang sama.
Masa depan IPM tidak ditentukan oleh seberapa lama seseorang bertahan dalam kekuasaan, melainkan oleh seberapa besar integritas yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sudah saatnya kita bergerak dengan akal sehat, berjuang dengan martabat, dan kembali bersatu demi marwah Ikatan yang lebih terhormat.
Pada akhirnya, di balik seluruh analisis struktural dan dialektika organisasi yang melelahkan ini, ada sebuah kejujuran yang saya simpan di ruang paling sunyi dalam kesadaran. Bahwa pengabdian ini bukan tentang mengejar puncak kekuasaan, melainkan tentang membayar utang budi kepada rumah yang telah membesarkan akal dan nurani. Dari sanalah lahir salam cinta dan salam juang. Karena dengan cinta, kita berjuang.





0 Tanggapan
Empty Comments