Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP/MTs sederajat tahun 2026 di Provinsi Riau hingga hari keempat, Kamis (9/4), berlangsung stabil dan tertib. Siswa hadir sesuai jadwal, perangkat berjalan normal, serta proses pengerjaan soal tidak mengalami kendala berarti.
Pelaksanaan TKA kini tidak lagi dipandang sebagai ujian yang menegangkan, melainkan sebagai instrumen untuk memetakan kemampuan siswa dan memperbaiki proses pembelajaran secara lebih terarah.
Di Kota Pekanbaru, sekitar 14 ribu siswa SMP negeri dan swasta serta 725 peserta dari jalur pendidikan nonformal telah mengikuti TKA dengan tingkat kehadiran yang tinggi sejak hari pertama.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Syafrian Tommy, menyampaikan bahwa kelancaran ini merupakan hasil dari persiapan yang matang, mulai dari koordinasi dengan sekolah hingga simulasi teknis sebelum pelaksanaan.
“Pelaksanaan TKA di Pekanbaru berjalan aman dan lancar. Antusiasme sekolah, guru, dan siswa sangat tinggi. Persiapan yang dilakukan sejak awal terbukti mampu meminimalkan hambatan,” ujarnya.
Menurut Syafrian, hasil TKA tidak hanya dilihat sebagai angka capaian, melainkan sebagai instrumen strategis untuk peningkatan kualitas pendidikan.
Data TKA akan dimanfaatkan untuk:
- Pemetaan kualitas sekolah
- Evaluasi kurikulum
- Intervensi dan pengembangan profesional guru berbasis MGMP
“Kami tidak memandang TKA sekadar angka, tetapi sebagai instrumen diagnostik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” tegasnya.
Di Kabupaten Pelalawan, partisipasi siswa tercatat merata. Sebanyak 6.368 siswa dari 114 SMP dan MTs mengikuti TKA dengan tingkat kehadiran hampir penuh.
Kepala Dinas Pendidikan Pelalawan, Leonardo, menyebut keberhasilan ini didukung pendekatan yang tidak membebani siswa.
“Kami tekankan kepada siswa bahwa TKA tidak perlu ditakuti. Cukup dikerjakan dengan jujur dan tenang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, hingga hari keempat pelaksanaan berjalan lancar tanpa kendala berarti, baik dari sisi listrik maupun jaringan.
Di Pelalawan, hasil TKA mulai dipandang sebagai peta awal kemampuan siswa. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang membutuhkan perhatian lebih, sekaligus membantu guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran.
Secara lebih luas, pemerintah daerah juga memanfaatkan data ini untuk melihat pola pendidikan, termasuk menentukan sekolah yang memerlukan pendampingan lebih intensif.
Menariknya, Dinas Pendidikan juga mencatat bahwa Program Makan Bergizi Gratis di sejumlah sekolah turut membantu menjaga kondisi fisik siswa selama mengikuti asesmen.
Lebih dari separuh satuan pendidikan di Pelalawan telah menerima program tersebut, yang dinilai berdampak positif terhadap stamina dan konsentrasi siswa.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA bukan merupakan ujian penentu kelulusan.
“TKA bukan ujian akhir, tetapi alat untuk memetakan kemampuan akademik siswa agar perbaikan pembelajaran bisa dilakukan secara lebih terarah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa TKA memiliki dimensi pembentukan karakter, terutama dalam menanamkan nilai kejujuran dalam proses belajar.





0 Tanggapan
Empty Comments