Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Turnamen MLBB di Masjid Buduran Tarik Anak Muda

Iklan Landscape Smamda
Turnamen MLBB di Masjid Buduran Tarik Anak Muda
Para Juara Epic Clash MLBB. Foto: Hilmi Hidayatulloh
pwmu.co -

Menghidupkan napas masjid di era digital bukan lagi sekadar perdebatan tentang tradisi dan modernitas. Lebih dari itu, tantangan utamanya adalah menghadirkan program yang relevan bagi generasi muda tanpa menghilangkan nilai spiritualitas yang menjadi ruh utama rumah ibadah.

Masjid seharusnya tidak hanya identik dengan jamaah usia lanjut, tetapi juga mampu menjadi ruang yang ramah bagi generasi muda. Menghadirkan pemuda kembali ke masjid merupakan investasi penting bagi masa depan peradaban, karena di tangan merekalah syiar Islam akan terus berkembang dengan cara yang lebih kreatif dan adaptif.

Berangkat dari semangat tersebut, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Buduran bersinergi dengan Arroyyan Youth Squad menghadirkan pendekatan dakwah yang lebih dekat dengan dunia anak muda.

E-Sport Jadi Jembatan Dakwah Kekinian

Upaya menarik minat generasi muda itu diwujudkan melalui penyelenggaraan turnamen e-sport bertajuk “Ramadan Epic Clash MLBB” yang digelar secara luring (offline) di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Kegiatan yang memasuki tahun kedua penyelenggaraan ini berhasil menarik perhatian luas. Sebanyak 80 peserta dari berbagai daerah, baik dari Kabupaten Sidoarjo maupun luar kota, turut ambil bagian dalam kompetisi game Mobile Legends tersebut.

Kehadiran para peserta tersebut sekaligus membuktikan bahwa masjid juga dapat menjadi magnet bagi generasi Z dan milenial ketika program yang disajikan mampu mengikuti perkembangan zaman.

Tidak hanya berkompetisi, para peserta juga menjadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan di bulan Ramadan.

Memadukan Kompetisi Game dan Ibadah Berjamaah

Turnamen ini tidak semata-mata berfokus pada pertandingan e-sport. Panitia juga menyisipkan berbagai kegiatan ibadah dalam rangkaian acara agar nuansa Ramadan tetap terasa kuat.

Acara diawali dengan buka puasa bersama yang berlangsung penuh kehangatan. Setelah itu, para peserta mengikuti salat Magrib berjamaah di masjid.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan malam dan registrasi ulang peserta. Seluruh peserta selanjutnya diarahkan mengikuti salat Isya, tarawih, hingga witir berjamaah sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia.

Menariknya, sebelum pelaksanaan salat witir, para peserta juga mendapatkan tausiyah singkat atau kultum yang berisi pesan-pesan keislaman.

Kombinasi antara kompetisi game dan kegiatan ibadah ini menunjukkan bahwa hobi anak muda tidak harus bertentangan dengan aktivitas religius. Justru dengan pendekatan yang tepat, keduanya dapat berjalan berdampingan.

Menjawab Tantangan Minimnya Anak Muda di Masjid

Ketua Pelaksana kegiatan, Alvin Awaludin, menjelaskan bahwa inovasi program menjadi kunci untuk mengatasi minimnya kehadiran pemuda di masjid.

Menurutnya, saat ini banyak masjid yang menghadapi fenomena “darurat anak muda”, di mana kegiatan masjid cenderung didominasi oleh jamaah usia dewasa dan lansia.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Saat ini masjid mengalami darurat anak muda, sehingga perlu diadakan penyegaran dalam program-program kemasjidan yang memiliki daya tarik. Kami ingin mereka memahami bahwa masjid memiliki banyak fungsi yang dapat dioptimalkan oleh generasi muda,” ujar Alvin yang juga merupakan pengurus Takmir Masjid Ar-Royyan.

Melalui kegiatan seperti turnamen e-sport ini, panitia berharap anak muda dapat melihat masjid sebagai ruang yang terbuka dan relevan dengan kehidupan mereka.

Fasilitas Ramah Anak Muda

Untuk menunjang kenyamanan para peserta, panitia juga menyiapkan berbagai fasilitas yang disukai kalangan muda.

Mulai dari akses WiFi gratis tanpa kata sandi hingga suguhan kopi dan camilan yang menemani jalannya pertandingan. Suasana santai namun tetap religius menjadi ciri khas kegiatan ini.

Pendekatan tersebut terbukti efektif menciptakan suasana masjid yang lebih hidup dan penuh interaksi.

Para peserta tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga menikmati kebersamaan serta merasakan atmosfer Ramadan yang hangat di lingkungan masjid.

Masjid sebagai Pusat Kreativitas dan Spiritual

Kegiatan Ramadan Epic Clash MLBB ini menjadi contoh bahwa masjid dapat bertransformasi menjadi pusat aktivitas yang kreatif sekaligus spiritual.

Ketika program yang diselenggarakan mampu menjawab kebutuhan generasi muda, mereka akan datang dengan sendirinya tanpa harus dipaksa.

Masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku dan eksklusif, melainkan ruang terbuka bagi anak muda untuk berkumpul, berkreasi, berkompetisi, sekaligus memperkuat nilai-nilai keimanan.

Momentum ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengelola masjid lainnya untuk menghadirkan inovasi kegiatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Sebab pada akhirnya, pemuda yang memiliki kedekatan dengan masjid adalah mereka yang akan membawa perubahan positif bagi masa depan bangsa dan agama.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu