Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UAH: Kiat Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah Lewat Penguatan Iman

Iklan Landscape Smamda
UAH: Kiat Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah Lewat Penguatan Iman
Ustaz Adi Hidayat
pwmu.co -

Naik turunnya iman merupakan kenyataan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kelalaian, godaan maksiat, hingga kesibukan duniawi kerap membuat hati terasa jauh dari nilai-nilai spiritual.

Menjawab kegelisahan tersebut, Ustaz Adi Hidayat (UAH) memaparkan kiat menumbuhkan kembali keimanan sekaligus menanamkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad saw.

Pertanyaan sederhana tentang bagaimana cara paling “klik” untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah saw menjadi pintu masuk UAH untuk mengurai hubungan erat antara iman dan mahabbah kepada Nabi.

UAH mengawali penjelasannya dengan membahas konsep iman. Ia merujuk pada Kitabul Iman dalam Shahih Bukhari yang memuat puluhan hadis tentang dinamika iman manusia.

“Dalam hadis disebutkan al-imanu yazidu wa yanqush, iman itu bisa naik dan bisa turun,” ujar UAH seperti dilansir di kanal Yotube Adi Hidayat Official.

Menurut dia, Iman akan meningkat ketika seseorang memperbanyak ketaatan, dan sebaliknya akan menurun ketika seseorang terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Kata UAH, keinginan untuk menaikkan iman harus diwujudkan dengan langkah nyata, seperti memperbanyak ibadah sunnah.

“Salatnya ditambah, tahajud, duha, lisannya dibiasakan berzikir. Ketika ketaatan bertambah, maksiat akan berkurang dengan sendirinya,” jelasnya.

UAH juga menekankan bahwa maksiat pada dasarnya adalah salah fungsi anggota tubuh. Lisan yang seharusnya digunakan untuk berkata baik justru dipakai untuk hal yang buruk, mata yang seharusnya melihat yang halal justru terbiasa melihat yang haram.

“Kalau organ tubuh terbiasa dengan maksiat, ibadah akan terasa berat,” tambahnya.

Setelah iman mulai menguat dan terasa “enak”, Ustaz Adi mengajak umat Islam menaikkan level spiritual berikutnya, yakni menumbuhkan cinta kepada Nabi Muhammad saw. Ia menyebutkan tiga cara utama.

Pertama, memperbanyak selawat. Namun, agar selawat lebih bermakna, umat Islam dianjurkan mempelajari sirah dan kepribadian Nabi.

“Ketika kita tahu bagaimana postur Nabi, akhlaknya, wajahnya yang indah, maka saat berselawat itu akan terasa hidup,” tutur UAH.

Bahkan, dia menyebutkan bahwa sebagian orang dianugerahi mimpi berjumpa dengan Rasulullah saw karena ketulusan selawatnya.

Kedua, menghidupkan sunah Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam salat, tetapi juga dalam akhlak, seperti menjaga lisan dan berkata baik.

UAH mengutip hadis, Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir falyaqul khairan aw liyasmut, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.

“Ketika sunah itu kita amalkan karena cinta kepada Nabi, itu amalan tingkat tinggi,” tegasnya.

Dia merujuk Surah Ali Imran ayat 31 yang menjelaskan bahwa mengikuti Nabi adalah bukti cinta kepada Allah dan menjadi sebab diampuninya dosa.

Ketiga, bersedekah atas dasar cinta kepada Nabi. UAH mengisahkan Abu Lahab yang pernah membebaskan budaknya, Tsuwaibah, karena gembira atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Meski Abu Lahab wafat dalam kekafiran, terdapat riwayat sahih yang menyebutkan bahwa siksaannya diringankan setiap hari Senin karena sedekah tersebut. “Ini menunjukkan betapa dahsyatnya nilai sedekah yang dilandasi kegembiraan dan cinta kepada Nabi,” ungkapnya.

UAH juga mengisahkan dialog Nabi dengan seorang Arab Badui yang bertanya tentang kapan terjadinya kiamat. Ketika ditanya apa bekalnya, orang itu menjawab sederhana, “Saya tidak punya amal istimewa, tapi saya mencintai Anda, ya Rasulullah.”

Jawaban Nabi pun menjadi hadis yang sangat masyhur: Al-mar’u ma’a man ahabba—seseorang akan bersama dengan yang dicintainya. “Cinta kepada Nabi bisa menjadi jalan untuk bersama beliau di akhirat,” kata UAH.

Dia menggambarkan betapa beratnya kehilangan Nabi bagi para sahabat. Bahkan Abu Bakar sempat tidak percaya Rasulullah saw wafat karena begitu besar rasa cinta dan kehilangan yang dirasakan. Padahal, umat Islam hari ini belum pernah berjumpa langsung dengan Nabi, namun tetap diperintahkan untuk mencintainya.

Lebih jauh, Nabi Muhammad saw bahkan menyebut umatnya yang belum pernah melihat beliau sebagai saudara-saudara yang dirindukannya.

“Mereka beriman kepadaku meski tidak pernah melihatku,” sabda Nabi, sebagaimana dikutip UAH. “Masa Nabi rindu kepada kita, tapi kita tidak rindu kepada beliau?” ujarnya retoris.

UAH mengajak umat Islam meneladani kasih sayang Nabi dalam kehidupan sosial. Menjadi pribadi yang lembut, saling menyayangi meski berbeda pendapat, bahkan mendoakan mereka yang belum beriman.

“Hidup akan terasa lebih lapang dengan cinta dan kasih sayang. Masalah pasti ada, tapi justru dari masalah itu kita belajar sabar, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah,” pungkasnya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu